Bagian 71 - Sang Pemenang Pertandingan

Zuo Lengchan lantas berpaling kepada Yue Buqun dan berkata, “Tuan Yue, putrimu telah memuji bahwa ilmu silatmu sangat tinggi.”
“Ah, anak perempuanku memang suka membual,” sahut Yue Buqun. “Harap Saudara Zuo jangan menganggapnya sungguh-sungguh. Ilmu silatku masih ketinggalan jauh jika dibandingkan Mahabiksu Fangzheng dari Shaolin, Pendeta Chongxu dari Wudang, serta Ketua Xie dari Partai Pengemis.”
Raut muka Zuo Lengchan berubah seketika mendengar Yue Buqun tidak menyebut dirinya dalam daftar para tokoh yang dianggap sakti itu. Jelas Yue Buqun menganggap kepandaiannya sendiri memang lebih tinggi daripada sang ketua Songshan.
Ding Mian menyahut, “Lantas kalau dibandingkan dengan Ketua Zuo bagaimana?”
“Aku sudah cukup lama bersahabat dengan Saudara Zuo dan kami saling menghormati,” jawab Yue Buqun. “Selama ratusan tahun ilmu pedang Songshan dan Huashan memiliki ciri khas masing-masing dan belum pernah diketahui pihak mana yang lebih unggul. Maka pertanyaan Saudara Ding sungguh membuatku sukar untuk menjawabnya.”
“Dari nada ucapan Tuan Yue agaknya kau merasa kepandaianmu memang lebih hebat daripada Ketua Zuo?” desak Ding Mian.
Yue Buqun menjawab, “Laki-laki sejati tidak suka berkelahi, namun jika harus berkelahi maka ia pun berkelahi. Sejak zaman dahulu antara kedua pihak selalu hidup berdampingan sehingga sulit untuk mengetahui siapa yang lebih unggul. Sebenarnya sudah lama aku bermaksud meminta petunjuk kepada Saudara Zuo. Namun hari ini kita baru saja mendirikan Partai Lima Gunung. Siapa yang akan menjadi ketua juga belum ditentukan. Kalau aku harus bertanding melawan Saudara Zuo rasanya tidak enak juga, karena orang lain tentu akan mengatakan diriku sengaja hendak berebut kedudukan dengan Saudara Zuo.”
Zuo Lengchan menyahut, “Tapi kalau Saudara Yue memang benar-benar dapat mengalahkan pedang di tanganku ini, maka jabatan ketua Partai Lima Gunung dengan sendirinya akan kuserahkan kepada Saudara Yue.”
“Ah, jangan bicara demikian, sebab orang yang berilmu silat tinggi belum tentu martabatnya juga tinggi,” ujar Yue Buqun. “Meskipun dapat mengalahkan Saudara Zuo belum tentu aku sanggup mengalahkan tokoh-tokoh Partai Lima Gunung yang lainnya.” Nada ucapannya memang terdengar sangat rendah hati, namun setiap kata-katanya ternyata tidak mau kalah, tetap menganggap dirinya lebih hebat daripada Zuo Lengchan.
Zuo Lengchan semakin gusar tak terlukiskan. Dengan dingin ia menjawab, “Saudara Yue bergelar Si Pedang Budiman yang termasyhur di seluruh jagad. Sampai di mana sifat ‘budiman’ Saudara Yue kurasa tidak perlu dijelaskan lagi. Namun bagaimana kehebatan ‘pedang’ dalam gelarmu itu jarang diketahui banyak orang. Kurasa tiada jeleknya jika ilmu pedangmu diuji sekarang juga agar para hadirin bisa ikut menyaksikan.”
Serentak para hadirin berteriak ramai, “Benar, benar! Lekas bertarung saja di atas panggung!”
“Dari tadi hanya bicara saja, kesatria macam apa ini?”
“Segera bertarung saja, biar kita tahu siapa yang lebih unggul!”
Namun Yue Buqun tenang-tenang saja tidak menjawab.
Sewaktu merencanakan peleburan Serikat Pedang Lima Gunung, Zuo Lengchan sudah memperkirakan sampai di mana kepandaian tokoh-tokoh saingannya. Ia yakin kepandaian dirinya cukup mampu untuk mengatasi keempat ketua perguruan yang lain. Sebab itulah dengan giat ia mengusahakan terlaksananya peleburan ini. Mengenai ilmu Yue Buqun yang paling diandalkan adalah “Ilmu Pelangi Ungu” juga sudah diketahui oleh Zuo Lengchan dengan baik.
Beberapa waktu yang lalu Zuo Lengchan pernah mendukung tokoh-tokoh Kelompok Pedang dari Perguruan Huashan yang dipimpin Feng Buping untuk menyerang Yue Buqun dan merebut kedudukannya. Meskipun serangan itu gagal, namun dari sana dapat diketahui seberapa tinggi kehebatan ilmu silat Yue Buqun. Kemudian ketika di Biara Shaolin, Zuo Lengchan dapat menyaksikan secara langsung pertarungan antara Yue Buqun melawan Linghu Chong. Meskipun ilmu pedang Yue Buqun sangat bagus, namun Zuo Lengchan merasa masih dapat mengatasinya. Apalagi ketika menendang Linghu Chong sampai pingsan, ternyata kaki Yue Buqun sendiri sampai tergetar patah. Dari sini pun dapat diketahui ternyata tenaga dalam ketua Huashan itu hanya sekian saja, karena kalau orang yang memiliki tenaga dalam sempurna, sekalipun tidak dapat mencelakai lawan, tentu tidak pula mencelakai diri sendiri.
Terhadap ilmu silat Linghu Chong yang telah maju pesat itu, Zuo Lengchan merasa ia hanya hebat dalam senjata pedang saja. Untuk menyingkirkan Linghu Chong, maka ia harus mengajaknya bertempur dengan tangan kosong. Dengan demikian nyawa ketua Perguruan Henshan itu dapat dilenyapkannya. Apalagi saat ini Linghu Chong juga sedang terluka parah di tangan Yue Lingshan, sungguh Zuo Lengchan merasa sangat beruntung.
Kini, begitu mendengar Yue Buqun dan putrinya telah berkata dengan sangat sombong, Zuo Lengchan pun berpikir, ”Aku tidak tahu bagaimana kehebatanmu sekarang namun yang jelas kau telah mempelajari berbagai ilmu pedang perguruan lain yang sudah lama punah. Jika kau menggunakan jurus-jurus itu untuk bertarung denganku, mungkin aku akan terdesak oleh seranganmu. Akan tetapi menyuruh putrimu maju lebih dulu adalah suatu kesalahan besar. Kini aku telah mempelajari semua gerakan putrimu sehingga semua seranganmu nanti akan sia-sia belaka.” Sejenak kemudian ia kembali berpikir, “Yue Buqun sangat licik. Jika aku dapat mengalahkannya di depan umum, tentu ia tidak akan bisa sombong lagi. Sebaliknya, jika aku sampai gagal tentu dia akan menjadi orang yang paling berbahaya dalam Partai Lima Gunung.”
Maka dengan nada menghina Zuo Lengchan lantas berkata, “Saudara Yue, para hadirin banyak yang ingin melihat kepandaianmu, mengapa kau tidak menunjukkannya sekarang saja?”
“Jika demikian kehendak Saudara Zuo, apa boleh buat, terpaksa aku menurut saja,” jawab Yue Buqun. Selangkah demi selangkah ia pun naik ke atas Panggung Pemujaan melalui undak-undakan batu. Padahal kalau mau, dalam sekali lompat saja ia dapat naik ke sana dengan mudah seperti apa yang dilakukan Zuo Lengchan tadi.
Membayangkan akan terjadi pertunjukan ramai, serentak para hadirin bersorak gembira.
Setibanya di atas panggung batu itu, Yue Buqun memberi hormat dan berkata, “Saudara Zuo, kita sekarang sudah berada di bawah perguruan yang sama, namun para hadirin memintaku melemaskan otot, terpaksa akan kulakukan sebisanya. Kita hanya saling belajar, tidak perlu saling melukai. Cukup bila sudah terkena lalu kita menghentikannya, bagaimana pendapatmu?”
“Sudah tentu aku akan berhati-hati dan berusaha sebisanya agar tidak melukai Saudara Yue,” jawab Zuo Lengchan.
Serentak orang-orang Songshan berteriak mengejek, “Huh, belum dihajar sudah minta ampun. Lebih baik mengaku kalah saja, tidak perlu bertanding!”
“Benar, kalau takut mampus, lekas turun kembali saja!”
“Senjata tak bermata, begitu pertarungan dimulai, siapa yang berani tanggung takkan terluka atau binasa?”
Namun Yue Buqun hanya tersenyum-senyum dan berkata lantang, “Senjata memang tidak bermata, memang sulit dijamin takkan terluka atau mati.” Sampai di sini ia lantas berpaling ke arah rombongan Huashan dan berseru, “Dengarkanlah, para murid Huashan! Aku hanya saling belajar saja dengan Kakak Zuo dan sama sekali tidak ada permusuhan apa-apa. Bila nanti secara kebetulan aku terbunuh oleh Kakak Zuo atau terluka parah, ini semua adalah salahku sendiri dan kalian tidak boleh menaruh dendam serta menuntut balas kepadanya. Yang penting semangat persatuan dalam Partai Lima Gunung kita harus tetap dipegang teguh.”
Yue Lingshan dan yang lainnya serentak mengiakan.
Hal ini sungguh di luar dugaan Zuo Lengchan. “Saudara Yue ternyata sangat bijaksana dan mengutamakan kepentingan Partai Lima Gunung kita, sungguh sangat baik,” katanya kemudian.
“Peleburan kelima perguruan kita adalah urusan yang mahapenting dan butuh perjuangan berat untuk mewujudkannya,” ujar Yue Buqun tersenyum. “Kalau sekarang disebabkan persoalan kita berdua sehingga terjadi pertengkaran di antara sesama anggota Partai Lima Gunung, maka jelas telah mengingkari asas tujuan penggabungan kelima aliran kita.”
“Benar, sungguh tidak salah,” kata Zuo Lengchan. Di dalam hati ia berpikir Yue Buqun sudah gentar kepadanya, maka sebentar lagi harus segera ditaklukkan untuk menegakkan wibawa.
Dalam sebuah pertarungan kekuatan tenaga dalam dan kecepatan gerak serangan memang sangat penting. Akan tetapi kalah dan menang seringkali ditentukan oleh besarnya semangat. Zuo Lengchan gembira melihat Yue Buqun belum apa-apa sudah menunjukkan kelemahannya. Maka dengan penuh keyakinan, ia lantas melolos pedangnya. Rupanya ketua Songshan itu sengaja menggunakan tenaga dalam untuk mencabut keluar pedangnya, sehingga ketika batang pedang bergesekan dengan sarungnya langsung mengeluarkan suara nyaring melengking. Penonton yang tidak tahu sebab musababnya tercengang heran, sementara orang-orang Songshan kembali bersorak memberi pujian.
Di sisi lain Yue Buqun juga mengeluarkan pedangnya, namun dengan cara yang berbeda. Dengan perlahan-lahan ia melepaskan senjatanya yang menggantung di pinggang, lalu menaruhnya di sudut panggung. Dari situ barulah ia perlahan-lahan melolos keluar pedangnya. Dilihat dari cara mencabut pedang masing-masing para penonton sudah bisa menduga-duga pihak mana yang lebih kuat dan akan menjadi pemenang pertandingan ini.
Sementara itu Linghu Chong yang tertusuk bahu kanannya oleh pedang Yue Lingshan tadi kini masih lemah keadaannya. Begitu melihat sang kekasih terluka Ren Yingying tidak lagi peduli dengan penyamarannya. Segera ia maju ke tengah gelanggang, mencabut pedang Yue Lingshan dan memapah Linghu Chong ke pinggir. Murid-murid Henshan serentak mengerumuni sang ketua. Yihe segera memasukkan beberapa Pil Empedu Beruang Putih ke dalam mulut Linghu Chong, sementara Ren Yingying memberikan totokan pada dada dan punggungnya agar darah berhenti mengalir keluar dari luka yang menganga. Yiqing dan Zheng E kemudian bergantian mengoleskan Salep Penyambung Kahyangan pada luka sang ketua.
Walaupun terluka parah, tapi pikiran Linghu Chong tetap jernih. Ketika melihat betapa sibuk Ren Yingying dan murid-murid Henshan merawat lukanya yang parah itu, diam-diam ia merasa menyesal juga. Dalam hati ia berkata, ”Hanya karena ingin menyenangkan hati Adik Kecil, aku malah membuat Yingying dan murid-murid Henshan sedemikian cemas.”
Sekuat tenaga ia mencoba tersenyum dan berkata, “Entah kenapa aku kurang hati-hati. Entah bagaimana telah ter… terluka oleh pedang ini. Kukira tidak… tidak apa-apa, tidak apa-apa, tidak perlu….”
“Sssst, jangan bersuara,” sahut Ren Yingying. Meski ia sengaja membesarkan suaranya supaya cocok dengan penyamarannya sebagai seorang laki-laki berewok, namun sukar juga menutupi suara perempuannya yang lembut. Kontan para murid Henshan terheran-heran mendengar suara seorang laki-laki berewok bersikap sedemikian aneh.
“Biarkan aku melihat… aku ingin melihat….” kata Linghu Chong sambil memandang ke arah gelanggang.
Yiqing mengiakan dan segera menarik minggir dua orang adik seperguruannya yang menghalangi penglihatan Linghu Chong. Saat itu Yue Lingshan sedang bertanding melawan Zuo Lengchan, dan kemudian disusul dengan pertandingan Zuo Lengchan melawan Yue Buqun. Semua yang terjadi hanya dapat diikutinya dengan samar-samar.
Dengan ujung pedang menghadap ke tanah, Yue Buqun berdiri tegak dan bibirnya tersenyum memandang ke arah Zuo Lengchan. Saat itu para penonton hampir semua menahan napas masing-masing menantikan terjadinya pertarungan dahsyat. Suasana di Puncak Songshan seketika menjadi sunyi senyap.
Namun sayup-sayup Linghu Chong mendengar suara perempuan membaca kitab Buddha dengan sangat lirih. “Jika binatang buas mengelilingi dirimu dan engkau takut akan taring dan cakarnya, kau dapat berdoa kepada Dewi Guanyin yang welas asih. Segenap binatang buas akan menyingkir. Jika kau melihat ular dan hewan berbisa, kau dapat berdoa kepada Dewi Guanyin dan mendapatkan kekuatan sucinya, maka mereka pun segera kembali ke sarang masing-masing. Jika halilintar dan guntur datang menyambar, serta hujan badai turun dengan lebatnya, kau dapat berdoa kepada Dewi Guanyin dan dengan kekuatan sucinya segala macam cuaca buruk dapat tersapu bersih. Bagi semua makhluk hidup, di dalam dunia ini memang penuh dengan kesulitan dan kesukaran. Namun dengan berdoa kepada Dewi Guanyin maka semua kesulitan akan dapat dilewati….”
Suara ini begitu lembut dan doa yang dibacanya penuh dengan kesungguhan hati. Mendengar itu Linghu Chong langsung yakin bahwa yang sedang berdoa itu tidak lain pasti Yilin.
Dahulu Yilin pernah membaca kitab dan berdoa baginya ketika berada di luar Kota Hengshan. Kali ini ia tidak berpaling untuk memandangnya, namun sorot mata Yilin yang mesra serta wajahnya yang cantik dengan jelas terbayang dalam benaknya. Seketika timbul perasaan syukur di dalam hatinya yang sulit untuk dilukiskan, “Tidak hanya Yingying, bahkan Adik Yilin juga sangat memerhatikan diriku. Bahkan mereka lebih mementingkan keselamatanku daripada jiwa mereka sendiri. Sekalipun badanku hancur lebur juga sukar rasanya untuk membalas kebaikan budi mereka.”
Di atas panggung Yue Buqun melintangkan pedang di depan dada, tangan kirinya bergaya seperti sedang memegang pena hendak menulis. Zuo Lengchan paham ini adalah jurus pedang Perguruan Huashan yang bernama Syair Pedang Menyambut Sahabat. Jurus ini adalah jurus pembukaan apabila pihak Huashan bertarung dengan teman sesama kaum persilatan. Maksudnya ialah, jurus ini mengandung makna pertandingan ini hanya dilakukan secara persahabatan saja dan tidak perlu mengadu nyawa.
Zuo Lengchan menampilkan senyuman puas dan berkata, “Ah, tidak perlu sungkan-sungkan.” Namun dalam hati ia berpikir, ”Yue Buqun dijuluki Si Pedang Budiman, namun menurutku dia seorang munafik. Belum tentu dia benar-benar hendak bertanding secara bersahabat denganku. Bisa jadi dia takut dalam hati, namun sengaja bersikap demikian agar aku tidak menaruh curiga kepadanya. Kemudian saat aku lengah dia lantas menggunakan serangan maut untuk merobohkan diriku.”
Segera tangan kirinya terpentang ke samping, pedang di tangan kanan pun lantas menjurus ke depan. Yang ia gunakan adalah jurus Buka Pintu Tampak Gunung, salah satu ilmu pedang Perguruan Songshan. Jurus ini mengandung makna, kalau mau berkelahi silakan mulai saja dan tidak perlu pura-pura segala. Dengan jurus ini Zuo Lengchan hendak menyindir secara halus kemunafikan pihak lawan.
Sudah tentu Yue Buqun paham arti yang terkandung dalam jurus pembukaan Zuo Lengchan itu. Segera pedangnya menjulur ke tengah, kemudian bergetar. Namun sampai di tengah jalan mendadak ujung pedang mengungkit ke atas. Ini yang disebut jurus Gunung Menghijau Samar-samar, suatu jurus yang penuh perubahan-perubahan lihai.
Segera pedang Zuo Lengchan membelah dari atas ke bawah dengan tenaga yang dahsyat. Banyak di antara para penonton memekik terkejut. Kiranya gerakan Zuo Lengchan ini tidak terdapat dalam daftar ilmu pedang Songshan, karena yang ia gunakan sesungguhnya adalah ilmu pukulan yang digunakan terhadap pedang. Jurus ini disebut Membelah Huashan, suatu jurus pukulan yang sangat umum bagi setiap orang yang belajar ilmu silat tangan kosong. Selama ini pun semua orang tahu tidak terdapat jurus demikian dalam ilmu pedang Songshan. Seandainya ada, mengingat nama Perguruan Huashan maka sudah selayaknya dihindari oleh pemakaiannya. Tapi sekarang Zuo Lengchan justru sengaja menggunakan pedangnya untuk memainkan jurus pukulan ini. Jelas ia bermaksud memancing amarah Yue Buqun supaya berkurang kecermatannya dalam pertarungan nanti.
Di luar dugaan Yue Buqun tetap tenang-tenang saja. Ia mengelak ke samping menghindari serangan pedang lawan, dan menyusul balas menusuk dengan jurus Cemara Tua Rindang Rimbun. Melihat sikap Yue Buqun yang tenang dan teratur itu, jelas ia telah merencanakan pertarungan jangka lama dan tidak terpancing kemarahannya oleh jurus-jurus lawan yang bermakna sindiran. Maka itu Zuo Lengchan tidak berani gegabah lagi. Segera ia melancarkan serangan lagi dengan lebih berhati-hati. Karena jika tidak, maka serangannya yang acak hanya akan memberi kesempatan bagi Yue Buqun untuk berada di atas angin. Kali ini yang ia mainkan adalah jurus asli Perguruan Songshan yang bernama Naga Kemala Keluar Kahyangan.
Murid-murid Songshan memang sudah mempelajari jurus ini, namun mereka tercengang melihat kehebatan sang guru besar. Tampak pedang Zuo Lengchan menerjang seperti naga yang meliuk-liuk. Seketika murid-muridnya pun bersorak memuji.
Sementara itu para hadirin dari golongan lain sejak tadi banyak yang menyimpan rasa muak terhadap murid-murid Songshan yang sejak tadi hanya bersorak-sorak memuji Zuo Lengchan dan merendahkan pihak lain. Namun begitu menyaksikan pertandingan ini banyak di antara para penonton yang menjadi maklum dan ikut bersorak memuji.
Jurus Naga Kemala Keluar Kahyangan di tangan Zuo Lengchan memang benar-benar tampak sempurna. Pedangnya seolah berubah menjadi seekor ular besar yang benar-benar hidup. Bahkan, para sesepuh dari Perguruan Taishan dan Hengshan ikut berteriak, ”Untung yang berada di atas panggung itu bukan kita, melainkan Yue Buqun.”
Zuo Lengchan dan Yue Buqun menggunakan ilmu pedang perguruan masing-masing untuk saling menyerang. Ilmu pedang Songshan dialiri tenaga dalam yang keras dan dahsyat bagaikan derap laju ribuan kuda berlari. Sementara itu ilmu pedang Huashan dialiri tenaga dalam yang lembut dan ringan, bagaikan sepasang burung walet terbang di angkasa. Begitu seru pertarungan mereka sehingga dalam sekejap saja keduanya seakan-akan terbungkus rapat oleh sinar pedang yang berkelebatan. Meski pada diri Yue Buqun belum terlihat adanya tanda-tanda kekalahan, tapi tampaknya ilmu pedang Songshan lebih banyak berada dalam keadaan menyerang daripada untuk bertahan di tangan Zuo Lengchan.
Mereka berdua sama-sama ahli dalam ilmu silat, terutama jurus-jurus pedang. Maka itu, ketika keduanya bertanding, tidak terlihat adanya rangkaian jurus yang pasti. Zuo Lengchan tampak menggunakan ketujuh belas rumpun pedang Songshan yang dicampur menjadi satu, sementara Yue Buqun menggunakan jumlah jurus yang lebih sedikit namun penuh dengan perubahan-perubahan yang mengejutkan.
Setelah lebih dari dua puluh jurus terlewati, Zuo Lengchan tiba-tiba mengangkat pedangnya ke atas, menyusul tangan kiri lantas menghantam ke depan. Pukulan telapak tangannya ini mengancam 36 titik penting pada tubuh lawan bagian atas. Apabila Yue Buqun menghindar tentu ia akan terluka oleh pedang Zuo Lengchan di tangan kanan. Namun Yue Buqun memilih untuk menyambut pukulan lawan. Seketika raut mukanya mendadak berubah keungu-unguan, dan ia pun menggunakan telapak tangan kiri untuk menyambut hantaman lawan tersebut. Begitu kedua tangan beradu terdengar suara yang keras membelah angkasa. Sekejap kemudian Yue Buqun melompat mundur, sementara Zuo Lengchan tetap berdiri tegak.
Melihat adu pukulan itu, Linghu Chong menjadi khawatir dan prihatin atas keselamatan Yue Buqun. Ia tahu betapa lihai ilmu pukulan Zuo Lengchan yang mahadingin itu. Tempo hari bahkan Ren Woxing yang memiliki tenaga dalam sangat tinggi berhasil dipecundanginya sehingga menyebabkan dirinya dan tiga orang yang lain berubah menjadi manusia salju.
Akan tetapi, Yue Buqun ternyata mampu bertahan. Dengan tenang ia berseru, “Apakah ilmu pukulanmu ini adalah ilmu silat murni Perguruan Songshan?”
“Ini adalah ilmu pukulan ciptaanku sendiri. Kelak akan kuajarkan hanya kepada murid pilihan dalam Partai Lima Gunung kita,” jawab Zuo Lengchan.
“Rupanya demikian. Biarlah kuminta petunjuk beberapa jurus lebih banyak,” ujar Yue Buqun.
“Bagus,” sahut Zuo Lengchan. Diam-diam ia mengakui juga kehebatan Ilmu Pelangi Ungu yang dikuasai Yue Buqun. Buktinya, sedikit pun ketua Huashan itu tidak menggigil kedinginan, bahkan sanggup membuka suara. Namun ia yakin kalau Yue Buqun berani menyambut lagi beberapa Jurus Tapak Es Mahadingin miliknya, pada akhirnya pasti tidak tahan dan membeku kedinginan.
Segera Zuo Lengchan memutar pedangnya untuk menusuk. Yue Buqun pun menangkis dengan pedangnya. Beberapa jurus berikutnya, kembali Zuo Lengchan menghantamkan tangan kirinya dan disambut dengan tangan kiri Yue Buqun pula. Kali ini Yue Buqun tidak menghindar pergi, sebaliknya pedangnya terus menebas ke arah pinggang lawan.
Giliran Zuo Lengchan yang menangkis dengan pedangnya, bersamaan telapak tangan kirinya kembali menghantam. Kali ini ia memukul sekeras-kerasnya ke arah batok kepala lawan. Sungguh tidak terbayangkan betapa keras pukulan dari atas ke bawah ini. Namun Yue Buqun kembali mengangkat tangan kiri untuk menyambutnya. Telapak tangan mereka kembali beradu untuk yang ketiga kalinya. Sambil merendahkan tubuh Yue Buqun lantas melompat ke samping, sementara Zuo Lengchan terdengar mencaci maki, “Bangsat! Tidak tahu malu!”
Jelas-jelas para penonton menyaksikan Yue Buqun terdesak, karena sewaktu melompat ia tampak sempoyongan. Namun mereka bingung juga mengapa Zuo Lengchan mencaci maki dengan gusar. Rupanya pada adu pukulan yang ketiga itu tiba-tiba Zuo Lengchan merasakan sakit pada tangannya. Sesudah Yue Buqun melompat pergi, sekilas Zuo Lengchan melihat pada telapaknya itu terdapat suatu titik lubang kecil yang mengeluarkan darah kehitam-hitaman.
Kontan saja Zuo Lengchan terkejut dan marah. Ia berpikir tentu Yue Buqun memasang jarum di tengah tangannya sehingga secara licik melukainya. Dari warna darah yang kehitam-hitaman itu jelas jarum lawan mengandung racun. Sungguh tidak disangka seorang tokoh yang bergelar “Si Pedang Budiman” ternyata begitu rendah perbuatannya. Dengan cepat Zuo Lengchan menghirup hawa segar panjang-panjang, lalu menotok tiga kali pada bahu kirinya untuk menahan menjalarnya racun. Kali ini ia tidak mau lagi memberi angin kepada Yue Buqun. Segera ia memutar pedangnya untuk melancarkan serangan dengan lebih gencar dan dahsyat.
Yue Buqun segera menangkis dan balas menyerang dengan ganas pula. Keadaan saat ini sudah remang-remang karena matahari baru saja terbenam. Pertandingan kedua tokoh di atas Panggung Pemujaan itu kini bukan lagi pertandingan persahabatan, tapi sudah menjadi pertarungan mati-matian. Hal ini dapat dilihat dengan jelas oleh para penonton.
”Amitabha, shanzhai, shanzhai,” ujar Mahabiksu Fangzheng, ”mengapa kalian menjadi sekasar ini?”
Setelah berlalu belasan jurus berikutnya, Zuo Lengchan merasa racun dalam telapak tangannya mulai menyebar sementara lawannya bertahan dengan sangat rapat. Meski demikian, Zuo Lengchan mulai tidak sabar. Semakin kuat ia mengerahkan tenaga dalam untuk memainkan pedangnya menyerang musuh.
Yue Buqun terlihat mulai kewalahan. Akan tetapi ilmu pedangnya tiba-tiba berubah. Gerak pedangnya tampak sangat aneh, sebentar menjulur sebentar mengerut. Para penonton terheran-heran melihatnya. “Ilmu pedang macam apa ini?” demikian terdengar ada yang bertanya dengan suara perlahan. Tapi yang tanya hanya bertanya, yang menjawab ternyata tidak ada. Masing-masing hanya menggelengkan kepala saja.
Linghu Chong menyaksikan pertarungan itu sambil bersandar pada badan Ren Yingying. Ketika melihat ilmu pedang sang guru mendadak berubah aneh dan cepat luar biasa, juga sama sekali berbeda dengan ilmu pedang Huashan pada umumnya, ia pun langsung terheran-heran. Dalam sekejap dilihatnya ilmu pedang yang dimainkan Zuo Lengchan ikut berubah pula, yaitu hampir mirip dengan yang dimainkan Yue Buqun. Keduanya menyerang dan bertahan dengan sangat cepat dan rapat. Gerak serangan masing-masing juga sangat mirip, bagaikan sepasang saudara seperguruan yang berlatih bersama. Belasan jurus kemudian, Zuo Lengchan kembali melangkah maju, sementara Yue Buqun hanya bertahan dan terdesak mundur.
Linghu Chong yang sangat terlatih dalam mengamati ilmu pedang merasa khawatir dan gelisah melihat celah kelemahan sang guru semakin besar dan bertambah besar sementara keadaan semakin gawat dan berbahaya. Di lain pihak begitu melihat kemenangan Zuo Lengchan sudah tampak di depan mata, serentak murid-murid Songshan kembali bersorak memberikan pujian.
Zuo Lengchan semakin bersemangat menyerang dengan gencar. Ia merasa senang melihat ilmu pedang lawan sudah mulai kacau. Segera ia pun menyerang dengan lebih kuat. Tidak lama kemudian, ketika kedua pedang beradu, sekali tangkis dan mengungkit, Zuo Lengchan berhasil membuat pedang Yue Buqun terlepas dan melayang di udara. Serentak murid-murid Songshan semakin gembira bersorak-sorai.
Tak disangka Yue Buqun lantas menubruk maju dengan tangan kosong. Kedua tangannya bergerak melancarkan segala jenis serangan, baik itu dengan cara menotok, mencengkeram, atau gaya-gaya lain. Gerak tubuhnya terlihat sangat lincah dan enteng bagaikan hantu, sebentar di sini, tahu-tahu sudah berada di sana. Betapa cepat dan aneh gerakannya sungguh sukar dibayangkan.
Kontan saja Zuo Lengchan terperanjat luar biasa. Ia pun berteriak ngeri, “Kau… kau ini….” namun untuk bicara saja tidak sempat, terpaksa ia harus bertahan sebisanya.
Begitu tegang perubahan pertarungan itu sehingga pedang Yue Buqun yang terlempar ke udara dan jatuh kembali menancap di atas panggung tiada seorang pun yang memperhatikan lagi.
“Dongfang Bubai! Dongfang Bubai!” seru Ren Yingying tertahan.
Linghu Chong juga memikirkan hal yang sama, bahwa ilmu silat yang dimainkan gurunya saat ini sama persis dengan ilmu silat Dongfang Bubai ketika bertempur di Tebing Kayu Hitam tempo hari. Begitu heran rasa hatinya, sampai-sampai Linghu Chong lupa dengan luka di bahunya dan bangkit berdiri. Untung dari samping sebuah tangan mungil menjulur dan memapahnya, namun ia masih juga tidak merasakannya. Bahkan sepasang mata jelita yang sedang memandanginya dengan penuh perhatian juga tidak dirasakannya.
Pada saat itu, beribu-ribu pasang mata di Puncak Songshan tertuju ke arah Panggung Pemujaan tempat Zuo Lengchan dan Yue Buqun bertanding habis-habisan. Hanya ada satu pasang mata yang sejak tadi tidak pernah memerhatikan apa yang terjadi di sana, yaitu mata Yilin. Sedetik pun sorot mata biksuni muda itu belum pernah meninggalkan Linghu Chong. Bahkan meski dunia kiamat sekalipun juga tak dihiraukan olehnya.
Tiba-tiba terdengar Zuo Lengchan menjerit, sementara Yue Buqun melompat mundur dan berdiri tepat di ujung panggung. Rupanya hanya satu kaki yang menapak di atas panggung, sehingga badannya tampak bergoyang-goyang seperti hendak tergelincir ke bawah.
Di sisi lain Zuo Lengchan tampak masih terus memutar dan mengayunkan pedangnya dengan kencang. Yang ia mainkan adalah ilmu pedang Songshan yang sangat hebat. Begitu rapat senjatanya berputar sehingga seluruh tubuhnya seperti terbungkus oleh sinar pedangnya sendiri. Para penonton menjerit ngeri melihat jurus maut itu. Anehnya ilmu pedang yang hebat ini seakan-akan hanya dimainkan sebagai pertunjukan saja tanpa menyerang lawan. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di tempat itu.
Sejenak kemudian, mendadak Zuo Lengchan menusukkan pedangnya ke depan, lalu berhenti di tengah jalan. Kepalanya terlihat agak miring seperti sedang mendengarkan sesuatu. Pada saat itulah orang-orang yang berpenglihatan tajam dapat melihat dengan jelas ada dua tetes darah mengucur keluar dari sepasang mata Zuo Lengchan. Serentak di antara para penonton ada yang berkata, “Hei, matanya buta.”
Ucapan orang itu tidak terlalu keras, namun cukup jelas didengar oleh Zuo Lengchan. Ia menjadi gusar dan berteriak, “Aku tidak buta! Aku tidak buta! Bangsat mana yang bilang aku buta? Yue Buqun keparat, pengecut kau! Dasar bangsat, kalau berani majulah dan bergebrak tiga ratus jurus lagi dengan majikanmu ini!” Ia berteriak semakin keras penuh dengan nada marah, rasa sakit, dan putus asa laksana seekor binatang liar yang terluka parah sedang meronta menanti ajal.
Yue Buqun tetap berdiri di ujung panggung dengan mulut tersenyum. Kini semua orang dapat melihat dengan jelas bahwa kedua mata Zuo Lengchan memang benar telah tertusuk oleh Yue Buqun. Semuanya tercengang heran. Hanya Linghu Chong dan Ren Yingying yang tidak merasa aneh atas kejadian ini karena ilmu silat yang dimainkan Yue Buqun itu sudah mereka kenal sewaktu menghadapi Dongfang Bubai di Tebing Kayu Hitam tempo hari. Untung saja waktu itu perhatian Dongfang Bubai terpecah oleh siasat Ren Yingying yang menyakiti Yang Lianting sehingga pada akhirnya Dongfang Bubai dapat mereka binasakan. Walaupun demikian sebelah mata Ren Woxing juga tertusuk buta oleh jarum sulam Dongfang Bubai.
Gerak tubuh Yue Buqun memang tidak segesit Dongfang Bubai, tapi dalam pertarungan satu lawan satu tentu saja Zuo Lengchan bukan tandingannya. Oleh karena itu, dalam sekejap saja kedua mata sang ketua Songshan sudah tertusuk buta oleh semacam jarum pula.
Linghu Chong ternyata tidak merasa senang atas kemenangan gurunya, sebaliknya justru tiba-tiba timbul semacam perasaan takut yang sukar dikatakan, bahkan juga perasaan muak. Sejak dulu ia sangat menghormati dan kagum terhadap sang guru yang lembut tapi tegas itu. Sewaktu dirinya dikeluarkan dari perguruan juga tidak menimbulkan rasa dendam di hati Linghu Chong karena ia menyadari itu semua adalah karena kesalahannya. Hukuman terhadapnya dianggap sebagai suatu hal yang wajar karena dirinya suka bertindak sesuka hati dan melanggar peraturan dunia persilatan. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia selalu berharap bisa kembali lagi ke Huashan dan mengabdi kepada sang guru dan ibu guru.
Akan tetapi begitu melihat sang guru kini melayang dengan ringan di udara dan mendarat di ujung panggung dengan lincah, seketika timbul perasaan takut di dalam hatinya. Entah kenapa hatinya juga merasa muak melihat kemanangan sang guru. Mungkin karena ilmu silat Yue Buqun mirip dengan Dongfang Bubai, atau mungkin karena kemenangan sang guru diperoleh dengan cara licik dan tidak mengindahkan aturan.
Tiba-tiba luka pada bahu Linghu Chong kembali terasa sakit. Ia pun segera duduk dengan perasaan lesu.
“Kenapa? Ada masalah apa?” serentak Ren Yingying dan Yilin memegang bahunya masing-masing dan bertanya dengan khawatir.
“Tidak… tidak apa-apa,” jawab Linghu Chong dengan senyum yang dipaksakan.
Kembali terdengar Zuo Lengchan berteriak-teriak, “Yue Buqun, bangsat kau! Kalau berani hayo maju lagi! Kenapa main sembunyi-sembunyi, pengecut kau… hayo maju!”
Tang Ying’e segera berkata kepada murid-murid Songshan, “Lekas kalian pergi memapah Ketua turun!”
”Baik, Paman Guru!” sahut dua orang murid Zuo Lengchan yang bernama Shi Dengda dan Di Xiuying. Keduanya lantas meloncat ke atas panggung dan berseru, “Guru, mari kita turun saja!”
Namun Zuo Lengchan masih terus menantang, “Yue Buqun, apa kau takut, hah?”
Shi Dengda maju dan mengulurkan tangannya, lalu berkata, ”Gur...”
Belum selesai ia berbicara tiba-tiba pedang Zuo Lengchan berkelebat, dan tahu-tahu tubuhnya telah terpotong menjadi dua, mulai dari bahu sebelah kanan sampai ke pinggang sebelah kiri. Di Xiuying juga mengalami hal yang sama. Tubuhnya terpotong menjadi dua oleh pedang sang guru sebatas dada. Sungguh mengerikan kehebatan ilmu pedang Zuo Lengchan membuat para penonton menjerit ngeri.
Perlahan-lahan Yue Buqun melangkah ke tengah panggung lalu berkata, “Saudara Zuo, karena kau sudah cacad maka kita tidak perlu bertarung lagi. Dalam keadaan demikian apakah kau masih ingin berebut jabatan ketua Partai Lima Gunung denganku?”
Zuo Lengchan mengangkat pedangnya perlahan-lahan dan ujungnya kemudian tepat mengarah ke dada lawan. Yue Buqun menghadapinya dengan tenang meski tanpa senjata di tangannya. Kedua tangannya masuk ke dalam lengan baju masing-masing, sementara kedua matanya memandang tajam ujung pedang Zuo Lengchan yang hanya berjarak beberapa jengkal dari dadanya. Darah tampak menetes jatuh dari batang pedang tersebut. Lengan baju sebelah kanan Zuo Lengchan tampak berkibar-kibar sementara yang kiri tampak biasa, pertanda ia sedang mengumpulkan tenaga dalam sangat dahsyat untuk menyerang Yue Buqun.
Tiba-tiba sekelebat bayangan bergerak secepat kilat. Rupanya Yue Buqun melesat mundur sejauh belasan kaki, lalu meluncur lagi ke tempat semula dalam waktu sekejap. Gerakan mundur dan maju ini dilakukannya dalam waktu seketika dan sulit dipercaya kecepatannya. Setiap mata melihat Yue Buqun tiba-tiba berada di pinggir panggung, dan sejenak kemudian sudah kembali berada di depan pedang Zuo Lengchan. Melihat itu para penonton tercengang tak percaya. Masing-masing yakin bagaimanapun hebatnya tusukan Zuo Lengchan pasti dapat dihindari oleh Yue Buqun.
Zuo Lengchan sendiri dalam keadaan sangat bingung serta berpikiran bermacam-macam. Jika tusukannya ini tidak mampu membinasakan Yue Buqun atau dapat ditangkis oleh lawan, maka dirinya yang sudah cacad tentu akan mati konyol di tangan ketua Huashan tersebut. Ini berarti buyar sudah semua jerih payahnya dalam upaya menguasai Partai Lima Gunung yang telah berjalan sekian lamanya. Sungguh tak disangka usahanya selama ini akan berakhir sia-sia. Ia merasa telah gagal ketika keberhasilan sudah ada di depan mata. Karena pikiran yang bergolak ini, mendadak dadanya terasa panas, dan darah segar pun menyembur keluar dari mulutnya.
Yue Buqun yang berdiri tepat di hadapannya mau tidak mau harus basah kuyup merasakan semburan darah Zuo Lengchan yang tepat menyiram wajahnya. Meski demikian bibirnya tetap tersenyum. Tiba-tiba Zuo Lengchan menyendal pedangnya sehingga patah menjadi beberapa potong, kemudian ia menengadah dan bergelak tawa. Begitu keras suara tertawanya hingga berkumandang jauh dan menggema di angkasa pegunungan.
Sambil tetap tertawa ia pun berbalik dan melangkah menuju ke bawah. Ketika sampai di tepi panggung kaki kirinya terasa menginjak tempat kosong. Karena sudah siap sebelumnya, maka kaki sebelah kanan lantas melayang ke depan sehingga tubuhnya pun turun ke bawah dengan tegak. Setibanya di tanah murid-murid Songshan segera mengerumuninya dan berkata, “Guru, mari kita terjang dan babat habis segenap orang Huashan itu.”
Namun Zuo Lengchan berseru lantang, “Seorang laki-laki sejati harus memegang janji. Sebelumnya sudah ditentukan pertandingan ini untuk merebut kedudukan. Tuan Yue jelas lebih unggul dibanding aku. Kita semua harus mengangkatnya menjadi ketua, mana boleh ingkar janji?” Ketika kedua matanya tiba-tiba ditusuk Yue Buqun hingga buta, ia pun marah dan mencaci maki lawannya itu dengan kata-kata kotor. Namun kini sesudah hatinya tenang kembali, sikapnya sebagai seorang pemimpin besar kembali pulih.
Para penonton merasa kagum melihat Zuo Lengchan yang berani mengakui kekalahan itu. Andaikan sampai terjadi pertempuran besar, setinggi apapun ilmu silat Yue Buqun tetap saja pihak Huashan kesulitan menghadapi pihak Songshan yang berjumlah lebih banyak dan lebih mengenal medan pula.
Di antara hadirin sudah tentu banyak pula yang merupakan manusia-manusia tidak punya pendirian. Mereka hanya mengikuti arah angin saja. Maka begitu mendengar ucapan Zuo Lengchan itu, serentak mereka bersorak-sorai, “Hidup Tuan Yue! Silakan Tuan Yue menjadi ketua Partai Lima Gunung!” Tentu saja murid-murid Huashan adalah yang paling bergembira dan berteriak paling lantang. Kemenangan sang guru yang luar biasa itu sesungguhnya terjadi sangat cepat dan sama sekali di luar dugaan mereka sendiri.
Setelah mengusap darah yang membasahi mukanya, Yue Buqun lantas bergeser ke tepi panggung. Sambil memberi hormat kepada para hadirin ia berseru, “Pertandinganku dengan Kakak Zuo sebenarnya hanya untuk mengukur kemampuan masing-masing. Namun kepandaian Kakak Zuo ternyata sangat hebat sehingga pedangku sampai tergetar lepas. Pada saat yang berbahaya itu aku terpaksa harus menyelamatkan nyawa sehingga tidak dapat menguasai diri dan akhirnya kedua mata Kakak Zuo menjadi korban. Sungguh dalam hal ini aku merasa tidak enak hati.”
Terdengar seorang penonton berseru, “Senjata tidak bermata. Siapa orangnya yang bisa menjamin takkan cedera dalam suatu pertarungan sengit?”
”Sudah untung kau tidak membunuhnya,” sahut yang lain.
”Aku tidak berani,” jawab Yue Buqun sambil memberi hormat.
Terdengar seorang penonton lainnya berseru, “Sekarang ini kalau ada lagi yang ingin menjadi ketua Partai Lima Gunung, silakan naik ke atas untuk bertanding melawan Tuan Yue!”
Penonton yang lain menanggapi, ”Daripada menantang Tuan Yue untuk bertanding lebih baik memintanya untuk menggalikan kubur saja.”
Maka beratus-ratus orang pun berteriak pula, “Hanya Tuan Yue yang pantas menjadi ketua Partai Lima Gunung! Silakan Tuan Yue menjadi ketua!”
Yue Buqun menunggu suara para hadirin kembali reda, barulah ia berkata dengan suara lantang, “Karena dukungan Saudara-saudara, terpaksa aku tidak bisa menolak tanggung jawab ini. Partai Lima Gunung mulai hari ini telah didirikan, sedangkan segala macam urusan perlu diatur. Aku hanya dapat memimpin secara garis besar saja. Maka itu urusan-urusan di Hengshan biar tetap Tuan Besar Mo yang memegangnya. Urusan di Henshan hendaknya tetap dipegang oleh Adik Linghu. Sementara itu urusan di Taishan harap Pendeta Yuqing dan Pendeta Yuyin yang memimpin bersama. Adapun urusan Perguruan Songshan, karena pandangan Kakak Zuo kurang leluasa…” Yue Buqun kemudian memandang ke arah kalangan orang-orang Songshan, kemudian berkata, “Menurutku, hendaknya Saudara Tang Ying’e dan Saudara Lu Bai membantu Kakak Zuo menjalankan urusan Songshan sehari-hari.”
Usulan Yue Buqun ini sama sekali di luar dugaan Lu Bai, sehingga ia sampai berkata tergagap-gagap, “Ini… ini…” Orang-orang Songshan dan dari golongan lain juga heran mendengarnya.
Mengenai Tang Ying’e memang sudah lama menjadi tangan kanan Zuo Lengchan sehingga wajar kalau ia diangkat sebagai pejabat ketua. Namun Lu Bai jelas-jelas sejak tadi sangat memusuhi Yue Buqun sehingga pengangkatannya sebagai wakil Zuo Lengchan benar-benar di luar dugaan. Sementara itu murid-murid Songshan pada awalnya sangat gusar dan berniat membalas dendam untuk sepasang mata pemimpin mereka yang dibutakan. Namun begitu mendengar Zuo Lengchan, Tang Ying’e, dan Lu Bai masih dihormati dan dihargai oleh Yue Buqun seketika rasa kesal mereka agak berkurang juga.
Kemudian terdengar Yue Buqun kembali berkata, “Mulai hari ini, Serikat Pedang Lima Gunung telah dilebur menjadi satu. Untuk itu kita harus bersatu padu, karena jika tidak, maka peleburan ini tidak memiliki arti lagi. Aku sendiri sebenarnya merasa tidak memiliki kepandaian apa-apa, dan untuk sementara dipilih memegang pimpinan. Oleh karena itu banyak sekali pekerjaan-pekerjaan yang masih harus dirundingkan dengan Saudara-saudara sekalian. Sekarang hari sudah mulai gelap, silakan Saudara-saudara beristirahat dan makan malam lebih dulu!”
Maka para hadirin pun serentak bersorak senang dan beramai-ramai mereka turun menuju ke halaman markas Perguruan Songshan. Ketika Yue Buqun turun dari panggung, beramai-ramai Mahabiksu Fangzheng, Pendeta Chongxu, Ketua Xie, dan lain-lain melangkah maju memberi ucapan selamat kepadanya. Semula tokoh-tokoh itu khawatir Partai Lima Gunung akan dikuasai oleh Zuo Lengchan yang kejam dan culas. Namun ternyata tanpa diduga sebelumnya ternyata yang memenangkan persaingan adalah Yue Buqun. Semua orang mengetahui dan mengenal nama besar Yue Buqun sebagai seorang yang halus budi pekertinya dan mendapat julukan Si Pedang Budiman, sehingga hati mereka pun merasa lega.
“Tuan Yue,” dengan ramah Fangzheng menyapa perlahan. “Menurut pendapatku tidak mustahil pihak Songshan masih akan mencari perkara denganmu. Sebaiknya Tuan Yue berjaga-jaga dan hati-hati.”
“Terima kasih atas petunjuk Mahabiksu,” jawab Yue Buqun.
“Gunung Shaoshi tidak terlalu jauh dari sini. Bila memerlukan apa-apa silakan memberi kabar,” ujar Fangzheng kemudian.
“Maksud baik Mahabiksu sungguh kuterima dengan rasa terima kasih yang tak terhingga,” jawab Yue Buqun sambil memberi hormat. Dan setelah beramah tamah sejenak dengan Chongxu, Xie Feng, dan lain-lain, ia lantas mendekati Linghu Chong dan menyapa, “Chong-er, apakah lukamu tidak menjadi halangan?”
Linghu Chong merasa sejak dikeluarkan dari Perguruan Huashan baru pertama kali ini Yue Buqun memanggil “Chong-er” kepada dirinya seramah ini. Namun perasaannya kini telah berubah. Bukannya merasa senang, sebaliknya ia malah merasa ngeri. Maka dengan suara tidak lancar ia menjawab, “Ti… tidak apa-apa.”
“Maukah kau ikut aku pulang ke Huashan untuk merawat lukamu sekalian berkumpul beberapa hari dengan ibu-gurumu?” kata Yue Buqun kemudian.
Andai saja Yue Buqun bertanya kepadanya beberapa jam yang lalu, tentu Linghu Chong akan sangat senang dan menerima ajakannya itu tanpa pikir panjang. Namun sekarang ia menjadi ragu-ragu dan takut untuk ikut ke Huashan.
“Bagaimana?” tanya Yue Buqun mempertegas.
“Perguruan Henshan memiliki obat yang lumayan manjur. Biarlah sesudah luka murid sem… sembuh baru mengunjungi Guru dan Ibu Guru,” jawab Linghu Chong.
Yue Buqun memandang tajam wajah Linghu Chong seakan-akan ingin mengetahui apa sesungguhnya yang dipikir oleh pemuda itu. Sejenak kemudian barulah ia berkata, “Begitu juga boleh. Hendaknya kau merawat dirimu dengan baik dan selekasnya berkunjung ke Huashan.”
”Baik,” jawab Linghu Chong sambil kemudian meronta bangun dengan maksud hendak memberi hormat.
“Sudahlah, tidak perlu,” kata Yue Buqun ramah sambil mengulurkan tangan untuk memegang lengan kanan muridnya itu. Namun Linghu Chong lantas mengelakkan tubuhnya. Raut mukanya tanpa terasa memperlihatkan rasa takut.
Yue Buqun mendengus perlahan. Sekilas mukanya tampak marah, tapi segera ia tersenyum kembali dan berkata, “Adikmu sungguh keterlaluan. Untung tidak mengenai tempat yang berbahaya.” Usai berkata demikian ia lantas mengangguk kepada Yihe dan Yiqing selaku murid-murid tertua Henshan. Kemudian ia pun memutar tubuh dan melangkah pergi dengan diiringi beberapa ratus pendukungnya.
Pandangan Linghu Chong mengikuti bayangan sang guru yang perlahan-lahan menghilang di balik lereng gunung sana. Para hadirin juga berturut-turut telah pergi semua. Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan memaki lirih, “Dasar munafik!”
Kata-kata itu entah diucapkan oleh murid Henshan yang mana, tapi yang pasti kata “munafik” benar-benar mengena di lubuk hati Linghu Chong. Dalam keadaan sekarang ini memang tiada istilah lain yang lebih cocok untuk mencerminkan apa yang ia rasakan. Seorang guru berbudi yang paling dihormati dan dikasihinya tiba-tiba telah terbuka kedoknya sehingga terlihat wajah aslinya yang bengis menyeramkan, serta licik dan keji.
Sementara itu hari sudah semakin gelap. Di samping Panggung Pemujaan yang tertinggal hanyalah orang-orang Henshan saja, sedangkan yang lain sudah pergi semua.
“Kakak Ketua, apakah kita juga akan turun ke bawah?” tanya Yihe. Ia tetap memanggil ”Kakak Ketua” menunjukkan dirinya memang tidak peduli dengan peleburan Serikat Pedang Lima Gunung.
“Bagaimana kalau kita bermalam di sini saja?” ujar Linghu Chong yang di dalam hatinya merasa lebih baik jika menjauhi Yue Buqun. Saat itu Yue Buqun sedang bermalam di markas Perguruan Songshan.
Ternyata ucapan Linghu Chong ini sangat cocok dengan pikiran murid-murid Henshan. Serentak mereka bersorak setuju, karena masing-masing juga tidak suka dengan Yue Buqun. Seperti diketahui sebelumnya, ketika di Kota Fuzhou dahulu mereka pernah meminta bantuan Yue Buqun untuk menolong Biksuni Dingxian yang sedang dikepung musuh. Namun Yue Buqun telah menolak permintaan mereka tanpa mengingat hubungan baik sesama Serikat Pedang Lima Gunung. Kali ini Linghu Chong telah dilukai pula oleh Yue Lingshan, bahkan kedudukan ketua Partai Lima Gunung juga dapat direbut oleh Yue Buqun, sudah tentu menambah rasa kesal mereka. Akibatnya, mereka pun lebih suka bermalam di samping Panggung Pemujaan itu daripada harus berkumpul dengan Yue Buqun dan para begundalnya.
Terdengar Yiqing berkata pula, “Kakak Ketua sedang terluka. Memang yang paling baik adalah kita tetap tinggal di sini daripada banyak bergerak. Hanya saja Saudara ini….” Berkata demikian matanya lantas melirik ke arah Ren Yingying.
“Dia bukan saudara, tapi Nona Ren,” sahut Linghu Chong dengan tertawa.
Sejak tadi Ren Yingying masih saja memapah Linghu Chong. Begitu mendengar Linghu Chong membongkar rahasia penyamarannya, seketika ia langsung malu dan segera melepaskan tangan dan kemudian bangkit berdiri.
Karena tidak menduga sebelumnya, seketika tubuh Linghu Chong pun terhuyung ke belakang. Untung Yilin yang berdiri di sebelahnya dengan cekatan memegangi bahu kirinya sambil berseru, “Eh, hati-hati!”
Yihe, Yiqing, dan yang lain sudah lama mengetahui kisah cinta antara Ren Yingying dan Linghu Chong. Kisah mereka sangat unik dan lain daripada yang lain. Yang satu pernah mendatangi Biara Shaolin, rela mengorbankan jiwa sendiri demi menyelamatkan sang kekasih, yang lain kemudian memimpin beribu-ribu orang persilatan menyerbu biara itu untuk menolongnya. Juga ketika Linghu Chong dilantik sebagai ketua Perguruan Henshan, Ren Yingying datang secara pribadi untuk mengucapkan selamat, serta menyelamatkan nyawa sang ketua baru dari kepungan pasukan aliran sesat di Kuil Gantung. Kini, begitu mengetahui bahwa lelaki berewok di depan mereka ini ternyata Nona Ren dari Partai Mentari dan Bulan yang termasyhur itu, banyak di antara mereka yang berseru kaget sekaligus senang. Lagipula dalam pandangan mereka Nona Ren ini sudah dikenal sebagai calon istri sang ketua, tentu saja pertemuan mereka ini menjadi sangat menyenangkan.
Segera Yihe dan yang lain mengeluarkan perbekalan semacam ransum kering dan air untuk dibagi-bagikan. Usai makan mereka lantas merebahkan diri di samping Panggung Pemujaan. Linghu Chong sendiri sedang terluka, dengan sendirinya badannya sangat lelah dan lemah. Oleh karena itu tidak lama kemudian ia pun tertidur pulas.
Ketika malam semakin larut, tiba-tiba di kejauhan sana terdengar suara bentakan kaum wanita, “Siapa itu?”
Meskipun terluka parah, namun berkat tenaga dalamnya yang tinggi Linghu Chong mendengar suara itu dan segera terjaga bangun. Dari suara tadi ia tahu murid-murid Henshan yang bertugas jaga sedang menegur seseorang yang datang.
Maka terdengar seorang pria menjawab, “Kita sama-sama anggota Partai Lima Gunung. Aku murid Tuan Yue dari Huashan. Namaku Lin Pingzhi.”
“Ada urusan apa malam-malam datang ke sini?” tanya murid Henshan tadi
“Aku sedang ada janji bertemu dengan seseorang di bawah Panggung Pemujaan. Sebelumnya aku tidak tahu kalau para kakak beristirahat di sini. Harap dimaafkan jika mengganggu,” jawab Lin Pingzhi sopan.
Pada saat itulah dari arah barat berkumandang suara seorang tua, “Bocah bermarga Lin, kau telah menyiapkan teman-temanmu dari Partai Lima Gunung di sini. Apakah kau ingin main kerubut dan mencari perkara denganku?”
Dengan jelas Linghu Chong dapat mengenali orang yang baru datang itu adalah Yu Canghai ketua Perguruan Qingcheng yang berbadan pendek kecil. Ia agak terkejut dan berpikir, “Adik Lin telah mengikat permusuhan dengan Yu Canghai sejak hancurnya Biro Pengawalan Fuwei, lebih-lebih sejak kedua orang tuanya terbunuh. Sekarang mereka berjanji bertemu di sini tentu untuk membereskan persoalan hutang darah ini.”
Terdengar Lin Pingzhi menjawab teguran Yu Canghai tadi, “Sebelumnya aku tidak tahu kalau para Kakak dari Perguruan Henshan bermalam di sini. Biarlah kita mencari tempat lain saja agar tidak mengganggu ketenangan mereka.”
“Hahahaha! Ketenangan orang lain sudah kau ganggu, tapi kau masih bicara muluk-muluk dan pura-pura baik hati,” ujar Yu Canghai dengan wajah menghina. ”Dasar, ada bapak mertua seperti itu, tentu juga ada menantu yang seperti ini. Nah, apa yang mau kau katakan lekas dikeluarkan agar sama-sama bisa tidur nyenyak.”
“Hm, kau ingin tidur nyenyak? Jangan harapkan hal itu lagi selama sisa hidupmu ini,” sahut Lin Pingzhi. “Orang-orang Qingcheng macam kalian yang datang seluruhnya hanya berjumlah 24 termasuk dirimu. Aku mengundang kalian datang semua ke sini, mengapa yang datang sekarang hanya tiga orang?”
“Huh, kau ini binatang macam apa? Memangnya kau berani menyuruhku begini dan begitu?” jawab Yu Canghai dengan tertawa bengis. “Hanya karena memandang bapak mertuamu yang baru saja dilantik sebagai ketua Partai Lima Gunung, maka aku sudi memenuhi undanganmu. Nah, kalau mau kentut lekas keluarkan, kalau mau berkelahi lekas cabut senjata. Biar kulihat apakah Jurus Pedang Penakluk Iblis keluarga Lin kalian sudah ada kemajuan atau tidak.”
Perlahan-lahan Linghu Chong bangkit untuk duduk. Di bawah sinar bulan yang remang-remang dilihatnya Lin Pingzhi berdiri berhadapan dengan Yu Canghai dalam jarak beberapa meter jauhnya. Ia masih ingat Lin Pingzhi pernah menolongnya dari tangan Yu Canghai yang hendak membunuhnya di Kota Hengshan.
”Waktu itu aku sedang terluka parah dan dirawat di dalam sebuah rumah pelacuran. Si pendek Yu menemukanku dan hendak melayangkan pukulannya kepadaku. Untung Adik Lin muncul dan berteriak mengejek sehingga Yu Canghai membatalkan pukulannya itu. Jika tidak, mungkin aku sudah kehilangan nyawa pada malam itu. Sekarang Adik Lin menantang Yu Canghai di sini. Mungkin sekali Guru dan Ibu Guru akan segera datang untuk membantunya. Tapi kalau Guru dan Ibu Guru tidak datang, maka aku tidak bisa tinggal diam,” demikian pikir Linghu Chong.
Sementara itu terdengar Yu Canghai sedang mengolok-olok, “Hm, kalau kau berani seharusnya kau datang seorang diri untuk menuntut balas kepadaku di Gunung Qingcheng. Dengan cara seperti itu barulah terhitung perbuatan seorang laki-laki sejati. Namun sekarang kau menantang aku ke sini, dan secara licik menyiapkan serombongan kaum biksuni untuk mengeroyok aku. Huh, sungguh tidak tahu malu. Benar-benar menggelikan.”
Yihe merasa tidak tahan karena pihaknya disinggung-singgung. Segera ia berseru, “Persetan dengan urusan kalian! Kalau kalian mau berkelahi hingga mampus juga Perguruan Henshan kami takkan ambil pusing. Hm, kau pendeta pendek sebaiknya jangan omong kosong saja. Kalau memang takut silakan lari saja, tapi Perguruan Henshan kami jangan dibawa-bawa!” Ia tidak tahu kalau Linghu Chong pernah berhutang nyawa kepada Lin Pingzhi. Yang ia tahu hanya satu, Lin Pingzhi adalah suami Yue Lingshan dan ia membenci putri Yue Buqun tersebut.
Yu Canghai sendiri memiliki hubungan akrab dengan Zuo Lengchan. Kehadirannya ke Gunung Songshan ini juga atas undangan Zuo Lengchan sebagai pendukungnya. Dalam dugaan Yu Canghai tentu Zuo Lengchan yang akan menduduki jabatan ketua Partai Lima Gunung, sebab itulah ia tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap orang-orang Huashan yang memusuhinya. Tak disangka pada akhirnya jabatan ketua Partai Lima Gunung dapat direbut oleh Yue Buqun.
Menyadari itu Yu Canghai sangat kecewa dan bermaksud meninggalkan Songshan malam itu juga. Namun sewaktu hendak turun gunung, tiba-tiba Lin Pingzhi menghampirinya. Dengan suara perlahan pemuda itu mengajaknya bertemu di pelataran Panggung Pemujaan malam nanti. Meski Lin Pingzhi berbicara dengan suara perlahan, namun sikapnya sangat angkuh dan kasar sehingga Yu Canghai gusar dibuatnya. Saat itu Yu Canghai berpikir, “Perguruan Huashan datang ke sini untuk merebut kedudukan, dan kau bersikap begini sombong. Huh, kau ini masih hijau dan aku tidak takut padamu. Tapi aku harus tetap berhati-hati kalau-kalau kau main keroyok.”
Maka kedatangannya ke Panggung Pemujaan malam itu sengaja diperlambat sedikit sehingga berada di belakang Lin Pingzhi. Dengan demikian ia pun tahu apakah pemuda itu membawa bala bantuan atau tidak. Tak disangka Lin Pingzhi ternyata benar-benar berangkat sendiri ke tempat yang dijanjikan ini. Diam-diam Yu Canghai senang. Murid-murid Perguruan Qingcheng yang dibawanya lantas ditinggalkan, dan hanya dua orang saja yang diajaknya menuju ke Panggung Pemujaan agar tidak dipandang rendah oleh lawan. Murid-muridnya yang lain lantas menyebar di sekeliling Puncak Songshan itu untuk memberi bantuan bila perlu.
Ketika sampai di puncak, ternyata di samping Panggung Pemujaan banyak orang yang berbaring di situ. Bukan hanya Lin Pingzhi saja yang terkejut, bahkan Yu Canghai juga merasa telah tertipu. Namun begitu mendengar ucapan Yihe, yang meskipun secara kasar menyebutnya sebagai “pendeta pendek”, namun dengan jelas menyatakan takkan bantu pihak mana pun, seketika hati Yu Canghai merasa lega.
“Baik sekali jika kalian takkan membantu pihak mana pun,” kata Yu Canghai kemudian. “Silakan kalian saksikan bagaimana hasilnya nanti, pertandingan antara ilmu pedang Qingcheng melawan ilmu pedang Huashan.” Sejenak kemudian ia melanjutkan, “Jangan kalian mengira dengan kekalahan Kakak Zuo lantas ilmu pedang Yue Buqun sudah dianggap jempolan. Andaikan benar ilmu pedangnya memang nomor satu di dalam Partai Lima Gunung, namun tiap-tiap golongan dan aliran di dunia persilatan masing-masing mempunyai ilmu silat sendiri-sendiri. Bagaimanapun tingginya ilmu pedang Huashan juga belum tentu terhitung nomor satu di jagad ini. Menurut pandanganku, ilmu pedang Perguruan Henshan saja sudah jelas lebih bagus.”
Dengan ucapannya itu, pertama ia bermaksud mengadu domba, kedua bertujuan menyenangkan hati murid-murid Henshan agar mereka benar-benar tidak ikut campur dan tidak membantu Lin Pingzhi. Dan asalkan pertarungan satu lawan satu, maka hampir dapat dipastikan bocah bermarga Lin itu dapat dikalahkannya dengan mudah.
Menanggapi ucapan Yu Canghai itu tak disangka Yihe malah menjawab, “Jika kalian mau berkelahi silakan berkelahi saja sesukamu. Kenapa harus mengganggu ketenteraman orang yang hendak tidur? Hm, kau ini tahu aturan atau tidak?”
Diam-diam Yu Canghai sangat gusar. Ia berpikir, “Kurang ajar kaum biksuni busuk ini. Saat ini aku tidak sempat membuat perhitungan dengan kalian. Tapi kelak, jika orang Henshan kalian bertemu denganku di tempat lain barulah kalian tahu rasa.” Dasar Yu Canghai memang berjiwa sempit, sudah biasa menganggap dirinya paling hebat, dan angkatan muda kalau tidak menghormatinya tentu akan mendapat kesulitan. Andaikan kata-kata kasar Yihe tadi diucapkan di waktu lain tentu Yu Canghai sudah marah-marah dan mendampratnya.
Sementara itu Lin Pingzhi bergerak maju dua-tiga langkah, lalu berkata, “Yu Canghai, kau pernah mengincar kitab pedang pusaka keluarga kami. Kau telah membunuh ayah dan ibuku, serta puluhan anggota Biro Pengawalan Fuwei kami juga tewas di tangan orang-orang Qingcheng macam kalian. Hutang atas darah ini sekarang juga harus kau bayar.”
Yu Canghai bertambah gusar dan berteriak, “Putraku sendiri mati di tanganmu, binatang cilik! Andaikan kau tidak mencari aku, tentu aku yang akan mencarimu dan mencincangmu sampai hancur luluh. Dasar anjing kecil, apa kau kira berlindung di bawah Perguruan Huashan lantas bisa menyelamatkan jiwamu?” Usai berkata demikian ia lantas mencabut pedangnya. Meskipun tubuhnya pendek namun pedangnya sangat panjang dan tampak berkilat-kilat diterpa sinar rembulan.
(Bersambung)
Bagian 70 ; Bagian 71 ; Bagian 72