Bagian 60 - Calon Ketua Henshan

“Shan-er dan Pingzhi sangat cocok satu sama lain. Apa kau tega memisahkan mereka dan membuat Shan-er menyesal seumur hidupnya?” tanya Ning Zhongze.
“Apa yang kulakukan ini adalah demi kebaikan Shan-er pula,” sahut Yue Buqun.
“Demi kebaikan Shan-er? Padahal Pingzhi baik dan sopan, apanya yang kurang baik?” balas Ning Zhongze.
“Meskipun Pingzhi sangat giat belajar, tapi kalau dibandingkan Linghu Chong sungguh bagaikan langit dan bumi. Biarpun naik kuda seumur hidup juga tidak mampu menyusulnya,” jawab Yue Buqun.
“Apakah ilmu silat tinggi pasti jadi suami yang baik? Aku memang mengharapkan Chong-er bisa kembali ke jalan yang benar dan masuk ke dalam perguruan kita. Tapi dia suka yang baru dan bosan yang lama. Dia gemar mabuk dan tingkah lakunya kurang baik. Bagaimanapun juga kebahagiaan Shan-er tidak boleh dikorbankan.”
Mendengar ucapan sang ibu-guru, seketika Linghu Chong berkeringat dingin. Ia berpikir, “Penilaian Ibu Guru atas diriku memang tepat. Tapi… tapi bila aku dapat memperistri Adik Kecil, mana mungkin aku akan membuatnya kecewa? Tidak mungkin! Sama sekali tidak.”
Yue Buqun kembali menghela napas dan berkata, “Tapi usahaku percuma saja. Bangsat cilik itu sudah terjerumus terlalu dalam. Apa yang kita bicarakan ini sia-sia belaka. Adik, apakah kau masih marah padaku?”
Ning Zhongze tidak menjawab. Selang sejenak baru ia berkata, “Apakah kakimu masih sakit?”
“Hanya luka luar saja, tidak terlalu parah,” sahut Yue Buqun. “Mari kita segera pulang ke Huashan saja!” Menyusul kemudian suara derap kaki kuda mereka makin lama makin menjauh.
Seketika itu pula pikiran Linghu Chong menjadi kacau. Ia merenungkan kembali percakapan kedua suami istri tadi sehingga lupa mengerahkan tenaga. Tiba-tiba arus hawa dingin menerjang tiba dari telapak tangan sehingga membuatnya menggigil. Seluruh badan pun terasa kedinginan sampai merasuk tulang. Lekas-lekas ia mengerahkan tenaga untuk menahan serangan hawa dingin itu. Karena tergesa-gesa, tiba-tiba saluran tenaga di bahu kiri terasa macet, terhalang, dan tidak bisa lancar. Ia menjadi gelisah dan berusaha mengerahkan tenaga lebih kuat.
Linghu Chong memelajari Jurus Penyedot Bintang berdasarkan apa yang terukir pada dipan besi dahulu itu tanpa petunjuk seorang guru, sehingga ada bagian-bagian penting yang sama sekali ia tidak mendapat penjelasan. Cara ia belajar juga sekenanya. Kini, semakin ia mengerahkan tenaga, tubuhnya terasa semakin kaku dan macet. Mula-mula lengan kiri, menyusul iga kiri, pinggang kiri, dan menurun lagi hingga paha kiri juga terasa kaku.
Dalam keadaan yang menegangkan itu ia bermaksud hendak berteriak minta tolong, namun mulutnya juga terasa kaku sulit dibuka sedikit pun.
Pada saat itulah terdengar suara derap kaki kuda. Kembali tempat itu didatangi dua orang penunggang kuda. Terdengar salah seorang berkata, “Di sini banyak terdapat bekas-bekas tapak kuda. Tentu Ayah dan Ibu tadi berhenti di sini.”
Linghu Chong terkejut bercampur senang, karena suara itu adalah suara Yue Lingshan. Ia berpikir, “Kenapa Adik Kecil juga datang ke sini?”
Lalu terdengar seorang lagi berkata, “Kaki Guru terluka. Jangan sampai Beliau mengalami masalah lagi. Lekas kita menyusul ke sana mengikuti jejak-jejak kuda ini.” Suara ini jelas suara Lin Pingzhi.
Linghu Chong merenung, “Hm, tentu saja mereka berdua juga ikut datang ke Biara Shaolin. Aliran lurus bersih mengerahkan banyak pengikut masing-masing untuk menghadapi kedatanganku bersama kawan-kawan. Mereka berdua tentu kembali ke Gunung Huashan dengan menyusuri jalan setapak ini, mengikuti jejak kaki kuda Guru dan Ibu Guru.”
Tiba-tiba Yue Lingshan berseru, “Hei, Lin Kecil, coba lihat ke sini! Bagus sekali keempat manusia salju ini. Satu sama lain saling bergandeng tangan.”
“Di sekitar sini rasanya tidak ada penduduk. Kenapa ada yang bermain orang-orangan salju di sini?” ujar Lin Pingzhi.
“Eh, bagaimana kalau kita menyusun dua manusia salju lagi?” ajak Yue Lingshan dengan tertawa.
“Boleh, kita buat satu laki-laki dan satu perempuan. Keduanya juga bergandeng tangan,” sahut Lin Pingzhi.
Segera Yue Lingshan melompat turun dari kudanya, lalu mulai mengeruk salju dan menimbunnya.
Tapi Lin Pingzhi lantas berkata, “Lebih baik kita menyusul Guru dan Ibu Guru saja. Nanti kalau sudah bertemu Beliau berdua, barulah kita main orang-orangan salju.”
“Kau selalu melenyapkan kesenangan orang,” sahut Yue Lingshan. “Meski kaki Ayah terluka, tapi dia menunggang kuda, apalagi didampingi Ibu. Kenapa kau khawatir mereka diganggu orang? Dulu sewaktu mereka berdua malang melintang di dunia persilatan, kau sendiri bahkan belum lahir.”
“Tapi sebelum kita bertemu Guru dan Ibu Guru, rasanya tidak tenteram untuk bermain-main di sini,” kata Lin Pingzhi.
“Baiklah, aku menurut padamu. Tapi sesudah bertemu Ayah dan Ibu nanti, kau harus menemani aku membuat dua manusia salju yang bagus.”
“Sudah tentu,” sahut Pingzhi.
Diam-diam Linghu Chong mengakui ketulusan hati Lin Pingzhi yang menjawab dengan kata-kata lugas itu. Ia berpikir, “Andai saja Adik Kecil mengajakku, pasti aku akan menjawab: ‘Baiklah, akan kita buat orang-orangan salju secantik dirimu.’ – Adik Lin sungguh jujur dan mantap dalam menjawab, tidak seperti diriku yang suka bicara seenaknya. Andai saja Adik Kecil mengajakku membuat manusia salju, pasti aku akan langsung setuju. Meskipun terjadi masalah yang lebih penting, pasti tak akan kuhiraukan. Anehnya, Adik Kecil sangat menurut padanya, meski dalam hati punya keinginan lain. Mungkinkah Adik Kecil juga menurut padaku tanpa membantah? Hm, Adik Lin sudah sembuh. Entah siapa yang telah melukainya, yang jelas Adik Kecil telah menuduh diriku.”
Linghu Chong mengosongkan pikiran demi untuk mendengarkan percakapan Yue Lingshan dan Lin Pingzhi sehingga melupakan keadaan badannya yang kaku tadi. Siapa tahu yang demikian itu justru cocok dengan rahasia Jurus Penyedot Bintang yaitu mengharuskan pikiran tenang dan tidak gelisah: “Jangan berpikir apa-apa, jangan merasakan apa-apa!” Lambat laun rasa kaku pada tubuhnya menjadi berkurang.
Tiba-tiba terdengar Yue Lingshan berseru, “Baiklah, kita tidak jadi membuat orang-orangan salju. Tapi aku mau menulis beberapa huruf di atas manusia salju ini.” Usai berkata ia lantas melolos pedangnya.
Kembali Linghu Chong terkejut dan khawatir, “Kalau dia menulis serabutan pada tubuh kami, ini sungguh berbahaya.” Sebelum sempat berpikir lagi, mendadak terdengar suara “srat-sret” berulang-ulang, Yue Lingshan telah mengukir beberapa tulisan di atas tubuh Xiang Wentian yang dilapisi salju tebal itu. Ujung pedangnya masih terus menggeser ke samping dan akhirnya sampai di atas badan Linghu Chong. Untung ukirannya tidak terlalu dalam sehingga tidak sampai menembus dan melukai mereka berempat.
“Tulisan apa yang ia ukir di atas badan kami?” pikir Linghu Chong dalam hati.
“Coba kau tulis pula beberapa kata,” ujar Yue Lingshan lembut.
“Baik,” jawab Lin Pingzhi. Ia sambut pedang si nona, lalu ikut mengukir beberapa huruf di atas keempat orang-orangan salju itu. Ia pun mengukir pula dari kanan ke kiri, mulai dari tubuh Xiang Wentian dan berakhir pada tubuh Linghu Chong.
Linghu Chong bertambah penasaran, “Tulisan apa lagi yang diukir Adik Lin?”
Kemudian terdengar suara Yue Lingshan berkata, “Betul, kita berdua harus seperti itu.” Keduanya lantas terdiam sampai agak lama.
Tentu saja Linghu Chong semakin heran, “Harus seperti apa? Nanti bila mereka sudah pergi dan racun dingin dalam tubuh Ketua Ren sudah bersih baru aku meronta keluar dari timbunan salju ini untuk melihat tulisan apa yang mereka ukir tadi. Tapi, ah, kalau aku bergerak tentu timbunan salju ini akan rontok dan tulisan yang mereka ukir ikut hancur. Lebih-lebih kalau kami berempat bergerak bersama-sama, tentu satu huruf pun tidak bisa diketahui lagi.”
Sejenak kemudian Linghu Chong mendengar suara derap kaki beberapa ekor kuda dari jauh. Rupanya Lin Pingzhi dan Yue Lingshan masih belum mendengarnya. Linghu Chong dapat memperkirakan jumlah kuda yang datang itu ada belasan ekor. Ia berpikir pasti murid-murid Huashan lainnya yang datang menyusul.
Makin lama suara kuda-kuda itu makin mendekat. Tapi Lin Pingzhi dan Yue Lingshan agaknya masih tidak merasakannya.
Linghu Chong mendengar belasan penunggang kuda itu datang dari arah timur laut. Pada jarak satu sampai dua li mereka lantas berpencar. Ada sebagian yang menuju ke arah barat, kemudian membelok dan sama-sama menuju ke arah semula. “Mereka berusaha mengepung Adik Lin dan Adik Kecil. Mereka pasti orang jahat,” pikir Linghu Chong.
Mendadak terdengar Yue Lingshan berseru, “Hei, ada orang datang!”
Menyusul kemudian terdengar suara dua anak panah melesat, diikuti dengan suara kuda meringkik dan roboh di tanah. Dalam hati Linghu Chong menduga ilmu silat para pendatang itu tidak lemah. Tujuan mereka juga tidak baik. Dari jauh lebih dulu mereka memanah mati kuda-kuda Lin Pingzhi dan Yue Lingshan agar keduanya tidak bisa lari jauh. Sejenak kemudian belasan orang itu sudah mendekat sambil bergelak tertawa.
Yue Lingshan berseru khawatir sambil mundur selangkah. Lalu terdengar seseorang di antara para pendatang itu bertanya, “Hehe, ada dua orang adik cilik di sini. Kalian ini murid siapa dan dari aliran mana?”
Lin Pingzhi menjawab dengan suara lantang, “Aku murid Perguruan Huashan, namaku Lin Pingzhi. Kakakku ini bermarga Yue. Selamanya kita tidak saling kenal, mengapa kalian membunuh kuda kami tanpa sebab?”
“Murid Perguruan Huashan?” orang itu menegas dengan tertawa. “Jadi guru kalian adalah Tuan Yue yang berjuluk Si Pedang Kesatria itu? Yang telah kalah bertanding melawan muridnya sendiri?”
Mendengar itu Linghu Chong merenung, “Aku bertanding melawan Guru baru kemarin, tapi beritanya sudah menyebar ke seluruh dunia persilatan. Ini mengerikan. Sungguh dosa besar.”
Terdengar Lin Pingzhi menjawab, “Kelakuan Linghu Chong tidak baik. Berkali-kali dia melanggar peraturan. Sejak setahun yang lalu dia sudah dipecat.” Pemuda ini bermaksud mengatakan bahwa kekalahan sang guru kepada Linghu Chong merupakan kekalahan melawan orang luar dan bukan melawan muridnya lagi.
“Hei, gadis cilik ini bermarga Yue. Ada hubungan apa dengan Tuan Besar Yue?” tanya orang itu lagi.
“Peduli apa denganku?” damprat Yue Lingshan gusar. “Kau telah memanah mati kudaku, sekarang kau harus ganti.”
“Wah, melihat galaknya, besar kemungkinan dia seorang gundik Yue Buqun,” kata orang itu sambil cengar-cengir. Serentak belasan orang kawannya ikut tertawa bergemuruh.
Mendengar kata-kata yang tidak senonoh itu, Linghu Chong berpikir, “Mereka sangat kasar, pasti bukan dari golongan lurus bersih. Aku khawatir mereka akan mencelakai Adik Kecil.”
Sementara itu Lin Pingzhi berkata, “Tuan adalah tokoh tua di dunia persilatan, kenapa bicara sekotor itu? Asal tahu saja, kakak seperguruanku ini putri kesayangan guruku.”
“O, kiranya putri Yue Buqun, haha, sama sekali tidak cocok dengan kenyataan,” ujar orang tadi sambil tertawa.
Seorang temannya lantas bertanya, “Kakak Lu, kenapa kau bilang tidak cocok dengan kenyataan?”
“Pernah kudengar orang bercerita, katanya putri Yue Buqun sangat cantik, terhitung nona paling ayu di antara angkatan muda zaman sekarang. Tapi nyatanya, cuma begini saja,” sahut si marga Lu tadi.
“Wajah gadis cilik ini memang biasa saja, tapi kulitnya putih dan halus. Kalau ditelanjangi mungkin boleh juga. Hahahahaha!” Serentak mereka tertawa bergemuruh dengan pikiran kotor.
Yue Lingshan dan Lin Pingzhi, serta Linghu Chong gusar mendengar ucapan-ucapan tidak sopan itu. Lin Pingzhi lantas mencabut pedangnya dan berkata, “Jika kalian mengeluarkan kata-kata tidak senonoh lagi, biarpun mati juga akan kulayani.”
“Hei, coba kalian lihat, dua sejoli cabul ini telah menulis apa di atas orang-orangan salju ini?” tiba-tiba seseorang berseru.
Lin Pingzhi semakin tidak tahan lagi. Pedangnya lantas menusuk ke arah gerombolan itu. Maka terdengarlah suara ramai orang bertempur. Dua orang musuh telah melompat turun dari kudanya untuk melawan Lin Pingzhi. Yue Lingshan juga ikut menerjang maju. Beberapa laki-laki itu lantas berseru, “Biar aku yang melayani gadis cilik ini!”
“Jangan ribut, jangan berebut, semuanya akan mendapat giliran,” ujar seorang tua dengan tertawa.
Linghu Chong mendengar suara beradunya senjata. Kiranya Yue Lingshan juga telah bertempur melawan musuh. Mendadak seorang laki-laki menggerung gusar menahan sakit, sepertinya ia terluka oleh pedang Yue Lingshan. Seorang laki-laki lain lantas berkata, “Ganas juga gadis ini. Saudara Shi, akan kubalaskan sakit hatimu.”
Di tengah suara nyaring beradunya senjata terdengar Yue Lingshan berseru, “Awas!”
Lalu terdengar suara pedang berbenturan sangat keras disusul oleh suara tertahan Lin Pingzhi.
“Lin Kecil!” seru Yue Lingshan pula, agaknya Lin Pingzhi terluka.
Kemudian pemimpin gerombolan itu berseru, “Jangan membunuh dia! Tangkap saja hidup-hidup! Kalau putri dan menantu Yue Buqun sudah kita bekuk, mana mungkin Si Pedang Banci bermarga Yue itu takkan tunduk kepada kita?”
Linghu Chong mencoba mendengar lagi dengan lebih cermat. Terdengar suara deru sambaran senjata, agaknya Yue Lingshan memutar pedangnya dengan kencang. Mendadak terdengar suara “trang”, lalu suara “plak” sekali lagi. Seorang laki-laki lantas mencaci maki, “Kurang ajar kau, gundik cilik!”
Mendadak Linghu Chong merasa badannya disandari seseorang, lalu terdengar napas Yue Lingshan yang tersengal-sengal. Ternyata nona itu bersandar pada manusia salju jelmaannya. Setelah terdengar suara senjata beradu lagi beberapa kali, seorang laki-laki di antaranya lantas berseru gembira, “Mana mungkin kau tidak bisa kubekuk?”
Terdengar Yue Lingshan berseru khawatir, lalu tidak terdengar lagi suara beradunya senjata. Sebaliknya, orang-orang itu saling bergelak tertawa. Linghu Chong merasa Yue Lingshan yang sedang bersandar pada tubuhnya itu diseret pergi dengan paksa. Terdengar ia berteriak, “Lepaskan aku, lepaskan!”
Seseorang di antaranya berkata dengan tertawa, “Saudara Min, tadi kau bilang dia berkulit putih halus. Aku justru tidak percaya. Mari kita lucuti pakaiannya, dan coba lihat dugaanmu betul atau tidak?”
Semua orang lantas bersorak gembira. Lin Pingzhi memaki dengan gusar, “Kawanan bangsat….” mendadak ia ditendang satu kali, disusul kemudian terdengar suara kain robek.
Dengan jelas Linghu Chong mendengar adik kecilnya hendak ditelanjangi orang. Ia tidak tahan lagi. Tanpa menghiraukan keadaan Ren Woxing, segera ia melepaskan tangan Ren Yingying yang dipegangnya, lantas kemudian melompat keluar menghancurkan timbunan salju yang menutupi sekujur tubuhnya. Tangan kanan dipakai mencabut pedang, sedangkan tangan kiri lantas mengusap salju yang masih menutupi matanya.
Tak disangka tangan kirinya ternyata sukar bergerak. Di tengah suara terkejut gerombolan itu, Linghu Chong sempat menggunakan pangkal lengan kanan untuk mengusap mukanya. Pandangannya menjadi terang, pedang pun menusuk ke depan. Sekaligus tiga orang musuh roboh di tangannya.
Segera Linghu Chong memutar tubuh. Dua kali ayunan pedang ia kembali membinasakan dua orang musuh. Dilihatnya seorang laki-laki sedang menelikung kedua tangan Yue Lingshan, seorang lagi dengan golok terhunus siap melawannya. Ia pun menerjang maju. Pedangnya menusuk iga laki-laki bergolok itu hingga tembus. Sekali depak ia singkirkan mayat lawan sambil mencabut pedang dari mayat tersebut. Sementara itu terdengar suara orang menyergapnya dari belakang. Tanpa menoleh pedangnya menusuk jantung kedua orang itu. Kontan mereka pun jatuh terkapar. Tanpa berhenti ia terus menubruk maju. Pedang berkelebat, dan selanjutnya tenggorokan orang yang menelikung tangan Yue Lingshan tersebut tertembus seketika. Pegangan orang itu terhadap lengan Yue Lingshan menjadi kendur dan ia pun terkapar di atas pundak si nona. Darah segar tampak membanjir keluar dari lehernya, membuat badan Yue Lingshan basah kuyup oleh darah.
Sekaligus Linghu Chong telah membunuh sembilan orang dalam sekejap mata. Sisanya masih delapan orang menjadi sangat ketakutan. Mendadak pemimpin rombongan itu berteriak lantas mendahului maju sambil memutar senjatanya yang berbentuk perisai ke atas kepala Linghu Chong.
Namun sungguh cepat luar biasa Linghu Chong mendahului menusuk sehingga pedangnya tepat menembus wajah orang itu. Kontan orang itu menjerit dan roboh terguling. Tidak berhenti sampai di situ saja, Linghu Chong kembali menebas dan menusuk berulang-ulang. Tiga orang lawan kembali tewas. Masih sisa empat orang yang sangat ketakutan setengah mati. Mereka menjerit dan lari berpencar.
“Kalian berani kurang ajar terhadap adik kecilku, satu pun tidak boleh diampuni,” seru Linghu Chong sambil memburu maju. Dengan menggerakkan pedang dua kali, dua orang musuh pun terputus lehernya.
Tinggal dua orang lagi yang berlari ke dua jurusan berbeda. Linghu Chong mengincar satu di antaranya. Sekuat tenaga ia melemparkan pedangnya, dan secepat kilat menembus punggung orang yang sedang berlari itu sehingga terpantek di atas tanah. Linghu Chong kemudian mengejar ke jurusan lain. Kira-kira puluhan meter jauhnya orang yang terakhir itu pun sudah tersusul olehnya.
Rupanya orang itu menjadi nekad. Mendadak ia memutar tubuh dan mengayunkan goloknya. Baru sekarang Linghu Chong ingat dirinya sudah tidak bersenjata lagi. Segera ia melompat mundur. Orang itu mendesak maju dan terus menebaskan goloknya. Kembali Linghu Chong mengelak dan melompat mundur dan begitu seterusnya. Orang itu menyerang lebih kalap, sementara Linghu Chong terus-menerus terdesak mundur.
Tiba-tiba Yue Lingshan berseru di belakangnya, “Pakailah pedangku ini, Kakak Pertama!”
Sewaktu Linghu Chong menoleh, Yue Lingshan sudah melemparkan pedang ke arahnya. Segera ditangkapnya senjata itu. Ia pun memutar balik sambil bergelak tawa. Saat itu lawannya sudah mengangkat golok hendak membacok, namun seketika menjadi ngeri melihat sinar pedang Linghu Chong berkelebat. Ia pun terpaku ketakutan.
Perlahan-lahan Linghu Chong melangkah maju. Laki-laki itu semakin gemetar. Memegang senjata saja tidak kuat lagi. Goloknya pun jatuh ke tanah. Tanpa terasa ia berlutut di hadapan Linghu Chong.
“Kau harus mampus untuk menebus dosamu,” kata Linghu Chong sambil menyodorkan ujung pedang ke leher orang itu. Tiba-tiba pikirannya tergerak. Perlahan ia bertanya, “Tulisan apa yang terdapat di atas orang-orangan salju tadi?”
Dengan suara gemetar orang itu menjawab, “Tulisan tadi berbunyi: ‘Sampai laut kering dan… dan gunung runtuh, cinta kita… cinta kita tetap teguh.’ ”
Dengan suara datar Linghu Chong berkata, “Hm.. Sampai laut kering dan gunung runtuh, cinta kita tetap teguh.” Tangannya bergetar menahan gejolak hati. Tak kuasa menahan perasaan, ia pun mendorong pedangnya hingga menembus leher musuhnya yang sudah berlutut itu.
Sewaktu berpaling kembali, dilihatnya Yue Lingshan sedang membangunkan Lin Pingzhi. Badan kedua muda-mudi itu sama-sama bermandikan darah. Setelah berdiri, Lin Pingzhi lantas memberi hormat, “Terima kasih banyak atas pertolongan Saudara Linghu.”
“Tidak masalah,” sahut Linghu Chong. “Apa lukamu parah?”
“Tidak apa-apa,” sahut Lin Pingzhi.
“Guru dan Ibu Guru menuju ke sana,” kata Linghu Chong sambil menunjuk bekas-bekas tapak kuda.
Sementara itu Yue Lingshan telah menuntun dua ekor kuda milik orang-orang tadi. Ia mendahului naik ke atas kuda dan berkata, “Mari kita menyusul Ayah dan Ibu!”
Dengan susah payah Lin Pingzhi menaiki kudanya. Ketika Yue Lingshan lewat di samping Linghu Chong, tiba-tiba ia menahan kudanya dan memandang ke arah pemuda itu. Perlahan Linghu Chong mengangkat kepalanya, melihat si nona menatap, dan ia pun balas memandang.
“Terima… terima kasih….” Yue Lingshan tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Segera ia berpaling kembali dan melarikan kudanya menuju ke arah barat laut menyusul Yue Buqun dan Ning Zhongze tadi.
Linghu Chong termangu-mangu melepas kepergian Lin Pingzhi dan Yue Lingshan. Sampai bayangan mereka berdua sudah menghilang di balik hutan barulah ia menoleh ke arah Ren Woxing bertiga. Ternyata mereka sudah membersihkan salju yang menempel di atas badan masing-masing dan memandang tajam ke arahnya.
Dengan gembira Linghu Chong berseru, “Hei, Ketua Ren, apakah aku… aku tidak menyusahkanmu?”
“Kau memang tidak menyusahkanku, tapi dirimu sendiri yang sedang bermasalah. Bagaimana lengan kirimu?” sahut Ren Woxing.
“Untuk sementara terasa kaku. Agaknya jalan darahku kurang lancar sehingga tangan ini tidak mau digerakkan,” kata Linghu Chong.
“Urusan ini agak sulit, biarlah kita mencari akal nanti,” ujar Ren Woxing. “Baru saja kau telah menyelamatkan putri Yue Buqun, anggap saja kau telah membalas budi baik perguruanmu. Untuk selanjutnya kau tidak perlu merasa hutang budi lagi. Eh, Adik Xiang, mengapa si tua Lu makin lama makin tidak senonoh? Sampai-sampai perbuatan kotor begini juga dilakukannya?”
“Dari nadanya dapat kuduga mereka ingin membekuk kedua muda-mudi itu untuk dibawa ke Bukit Kayu Hitam,” kata Xiang Wentian.
“Apa mungkin mereka melaksanakan perintah Dongfang Bubai? Ada urusan apa lagi dia dengan si munafik Yue Buqun?” ujar Ren Woxing.
Linghu Chong menyela, “Apakah orang-orang ini anak buah Dongfang Bubai?”
“Anak buahku,” sahut Ren Woxing. Linghu Chong mengangguk paham.
Sementara itu Ren Yingying bertanya, “Ayah, bagaimana dengan lengannya?”
“Jangan khawatir, anak manis,” sahut Ren Woxing. “Menantuku yang baik ini telah membantu mertua memusnahkan racun dingin, sudah tentu si bapak mertua akan berusaha menyembuhkan lengannya.” Usai berkata ia tertawa terbahak-bahak, dan menatap tajam ke arah Linghu Chong sehingga pemuda itu merasa rikuh.
“Jangan kau bicara begitu, Ayah,” sahut Ren Yingying. “Kakak Chong dibesarkan bersama-sama dengan Nona Yue. Apa Ayah tidak melihat bagaimana sikap Kakak Chong terhadap Nona Yue tadi?”
“Hm, manusia macam apa si munafik Yue Buqun itu? Mana bisa anak perempuannya dibandingkan dengan putriku?” ujar Ren Woxing sambil tertawa. “Lagipula si Nona Yue itu sudah punya tunangan. Perempuan yang gampang berubah hatinya seperti dia mana bisa dipercaya? Selanjutnya Chong-er tentu akan melupakan gadis itu.”
Ren Yingying menjawab lirih, “Demi diriku Kakak Chong telah mengacaukan Biara Shaolin yang termasyhur di seluruh dunia. Demi diriku pula dia tidak mau kembali ke dalam Perguruan Huashan. Kedua hal ini sudah membuat hatiku senang dan puas. Tentang urusan lain tidak perlu lagi diungkit.”
Ren Woxing hafal sifat putrinya yang angkuh dan tidak mau kalah. Jika Linghu Chong tidak mengajukan lamaran, maka putrinya itu juga tidak mau memaksa. Lagipula urusan perjodohan dapat diatur belakangan. Maka dengan bergelak tawa ia pun berkata, “Bagus, bagus! Memang urusan mahapenting yang menyangkut kebahagiaan selama hidupmu bisa dibicarakan nanti. Eh, Chong-er, akan kuajari dirimu cara melancarkan urat nadi di bagian lengan kirimu itu.”
Lalu ia menarik Linghu Chong ke pinggir dan menguraikan bagaimana cara mengerahkan tenaga dan melancarkan aliran darah. Setelah Linghu Chong hafal ajarannya, orang tua itu lalu berkata pula, “Kau telah membantuku memusnahkan racun dingin, sekarang aku mengajarimu cara melancarkan aliran darahmu. Kita masing-masing tidak saling berhutang budi. Untuk menyembuhkan seluruh lenganmu yang kaku itu diperlukan waktu tujuh hari. Harus bersabar, tidak boleh terburu nafsu.”
“Baik,” jawab Linghu Chong.
Ren Woxing lalu memanggil Xiang Wentian dan Ren Yingying. Setelah berkumpul semua, ia berkata, “Chong-er, ketika di Perkampungan Buah Plum tempo hari aku pernah mengajakmu masuk Partai Mentari dan Bulan. Waktu itu dengan tegas kau menolaknya. Sekarang keadaan sudah berubah. Aku mengulangi lagi persoalan lama. Kali ini tentu kau takkan menolaknya, bukan?”
Selagi Linghu Chong masih bimbang dan belum menjawab, Ren Woxing menyambung lagi, “Kau telah memelajari Jurus Penyedot Bintang, kelak tentu akan banyak mendatangkan kesukaran. Bila bermacam-macam hawa murni yang berlainan dalam tubuhmu itu bekerja, maka tak terkatakan derita yang akan kau rasakan. Apa yang kukatakan takkan kutarik kembali. Kalau kau tidak masuk aliran kami, biarpun Yingying menjadi istrimu, aku tetap tak mau mengajarkan cara memusnahkan tenaga-tenaga liar di dalam tubuhmu itu. Meskipun seumur hidup putriku akan marah kepadaku, aku takkan berubah pikiran. Sekarang masih ada urusan penting yaitu menuntut balas kepada Dongfang Bubai, apakah kau akan ikut pergi bersama kami?”
“Maaf, Ketua Ren! Selama hidup ini aku sudah pasti takkan masuk Partai Mentari dan Bulan,” sahut Linghu Chong tegas tanpa bisa ditawar-tawar lagi.
Seketika Ren Woxing bertiga berubah air mukanya. Xiang Wentian bertanya, “Apa sebabnya? Apa kau memandang rendah Partai Mentari dan Bulan?”
“Di dalam Partai Mentari dan Bulan penuh orang-orang macam begini. Terus terang aku malu berkumpul dengan mereka,” sahut Linghu Chong sambil menuding belasan mayat yang menggeletak tersebut. “Lagipula aku sudah berjanji kepada Biksuni Dingxian untuk menjabat sebagai ketua Perguruan Henshan.”
Ren Woxing, Ren Yingying, dan Xiang Wentian langsung terheran-heran begitu mendengar ucapan Linghu Chong itu. Bahwa Linghu Chong menolak masuk aliran mereka sudah lama mereka ketahui. Namun penjelasan yang terakhir benar-benar di luar dugaan, sampai-sampai mereka tidak percaya pada telinga masing-masing.
Sambil menunjuk muka Linghu Chong, tiba-tiba Ren Woxing terbahak-bahak geli. Sejenak kemudian baru ia berkata, “Kau… kau ingin menjadi biksuni? Kau mau menjadi ketua para biksuni?”
“Bukan menjadi biksuni, hanya menjadi ketua Perguruan Henshan saja,” sahut Linghu Chong. “Sebelum mengembuskan napas terakhir Biksuni Dingxian telah memohon dengan sangat kepadaku. Apabila aku tidak menyanggupinya, dia mengaku akan mati penasaran. Apalagi kematian Biksuni Dingxian adalah karena diriku. Aku juga sadar peristiwa ini pasti akan menggemparkan. Tapi aku tidak bisa menolak permintaan biksuni itu.”
Ren Woxing masih saja tertawa geli membayangkan Linghu Chong menjadi biksuni.
“Biksuni Dingxian mati karena aku,” kata Ren Yingying dengan memandang tajam ayahnya. Linghu Chong menoleh padanya dengan hati penuh rasa terima kasih.
Perlahan-lahan Ren Woxing berhenti tertawa, lalu berkata, “Jadi kalau orang lain meminta sesuatu padamu, kau merasa harus mengerjakannya dengan patuh, begitu?”
“Benar,” sahut Linghu Chong. “Apalagi kematian Biksuni Dingxian lantaran memenuhi janjinya padaku.”
“Bagus,” kata Ren Woxing. “Aku adalah si tua aneh dan kau si kecil aneh. Kalau tidak berbuat sesuatu yang menggemparkan, mana bisa menjadi tokoh besar di dunia ini? Baiklah, kau pergi saja menjadi ketua kaum biksuni itu. Sekarang juga apa kau akan berangkat ke Gunung Henshan?”
“Tidak, aku akan pergi ke Biara Shaolin dulu,” sahut Linghu Chong.
Ren Woxing agak heran, tapi kemudian memahami maksudnya, “Ya, tentu kau ingin mengusung kedua jenazah biksuni tua itu kembali ke Henshan, bukan?” Lalu ia menoleh kepada Ren Yingying dan bertanya, “Apakah kau akan ikut Chong-er pergi ke Biara Shaolin?”
“Tidak, aku akan ikut Ayah,” sahut Ren Yingying.
“Betul, mana mungkin kau juga ikut ke Gunung Henshan dan menjadi biksuni di sana?” ujar Ren Woxing sambil bergelak tertawa, namun suara tawanya bernada getir.
Linghu Chong lantas memberi hormat dan berkata, “Ketua Ren, Kakak Xiang, Yingying, sampai berjumpa lagi.” Ia kemudian memutar tubuh dan melangkah pergi. Baru belasan langkah tiba-tiba ia berpaling dan bertanya, “Ketua Ren, apakah kalian akan pergi ke Bukit Kayu Hitam?”
“Ini urusan dalam aliran kami, orang luar tidak perlu ikut campur,” sahut Ren Woxing. Ia tahu Linghu Chong bermaksud membantu menghadapi Dongfang Bubai bila tiba waktunya kelak. Dengan tegas ia menolak maksud permuda itu.
Linghu Chong menganggukkan kepala, lalu memungut sebilah pedang yang berserakan di atas salju. Pedang itu digantungkannya di pinggang, lalu ia melangkah pergi.
Menjelang senja, ia pun tiba di tempat tujuan. Ia menyampaikan maksud kedatangannya kepada biksu penerima tamu dan memohon diizinkan mengusung jenazah Biksuni Dingxian dan Biksuni Dingyi pulang ke Gunung Henshan. Biksu penerima tamu itu segera melapor ke dalam, dan kemudian kembali lagi lalu berkata, “Menurut Biksu Ketua, jenazah kedua biksuni sudah diperabukan dan sekarang sedang dilakukan doa bersama untuk Beliau berdua oleh segenap penghuni biara ini. Tentang abu jenazah kedua biksuni selekasnya akan kami antar ke Henshan.”
Linghu Chong kemudian berjalan memasuki ruang sembahyang. Ia membungkuk hormat di hadapan altar kedua biksuni beberapa kali. Dalam hati ia berkata, “Selama aku masih hidup, aku akan menjaga Perguruan Henshan dengan sepenuh hati dan segenap kekuatanku.” Ia kemudian melangkah keluar tanpa meminta bertemu Biksu Fangzheng terlebih dahulu.
Sampai di bawah gunung salju masih belum juga reda. Malam itu ia menginap di rumah seorang petani. Esoknya ia melanjutkan perjalanan menuju ke arah utara. Di suatu kota kecil ia membeli seekor kuda. Karena lengan kiri masih terasa kaku, maka perjalanannya pun agak terganggu. Setiap hari ia hanya menempuh jarak beberapa puluh li saja lantas mencari tempat penginapan. Ia kemudian menerapkan ajaran Ren Woxing untuk melancarkan aliran darah di lengannya. Setelah tujuh hari lengan kirinya itu sudah bisa digerakkan dengan leluasa.
Beberapa hari kemudian, pada suatu siang Linghu Chong mampir di sebuah rumah makan untuk minum arak. Saat itu sudah dekat tahun baru, suasana tampak ramai. Orang-orang berlalu-lalang belanja untuk persiapan perayaan tahun baru. Sambil minum arak sendirian di atas, Linghu Chong terkenang kepada masa lampau, “Di Huashan, bila dekat tahun baru, Ibu Guru menyuruh kami untuk bersih-bersih, menggiling tepung untuk membuat kue, menyiapkan amplop merah, semuanya dalam suasana riang gembira. Adik Kecil ikut menghias dinding. Tapi tahun ini, aku harus merayakannya sendirian ditemani arak ini.”
Selagi perasaan hatinya terkenang masa lalu, tiba-tiba terdengar suara tangga berbunyi, seperti ada orang banyak sedang naik ke atas. Terdengar salah seorang dari mereka berkata, “Haus sekali, mari kita minum dulu di sini!”
“Seandainya tidak haus juga boleh minum, bukan?” ujar yang lain.
“Haus dan minum saling berkaitan. kenapa harus dipisah-pisah?” sahut seorang lagi.
“Minum ya minum, haus ya haus. Kenapa harus dikait-kaitkan?” sahut yang lain tak mau kalah.
Mendengar percakapan yang bertele-tele itu Linghu Chong segera tahu siapa yang datang. Dengan cepat ia berseru, “Enam Saudara Persik, lekas kemari, minum bersama aku!”
Serentak terdengarlah suara berisik. Enam Dewa Lembah Persik telah melompat ke atas bersama-sama dan mengelilingi Linghu Chong. Ada yang memegang tangannya, ada yang memegang bahunya, ada pula yang memegang bajunya. Beramai-ramai mereka berteriak, “Aku yang temukan dia!”
“Aku yang pegang dia paling dulu!”
“Aku yang temukan dia. Suaraku yang pertama kali didengar olehnya!”
“Aku yang mengajak kalian ke sini. Kalau kalian tidak kuajak ke sini, bagaimana kalian bisa bertemu dia?”
Linghu Chong tertawa heran dan berkata, “Apa-apaan kalian ini?”
Tiba-tiba Dewa Bunga Persik berlari ke pinggir jendela dan berseru, “Hei, biksuni cilik, biksuni tua, dan nona-nona cantik! Aku telah menemukan Tuan Muda Linghu. Lekas serahkan seribu tael perak!”
Dewa Ranting Persik ikut berlari ke tepi jendela dan berteriak, “Bukan dia, tapi aku yang pertama memegang Tuan Muda Linghu! Lekas serahkan seribu tael yang kalian janjikan itu!”
Sementara itu Dewa Dahan Persik dan Dewa Buah Persik juga tidak mau kalah. Sambil masih memegangi Linghu Chong mereka berteriak-teriak, “Tidak, aku yang melihat dia paling dulu!”
“Aku yang menemukan dia!”
Maka terdengarlah suara seorang wanita berseru di luar rumah makan, “Benarkah kalian telah menemukan Pendekar Linghu?”
“Benar! Aku yang menemukan dia! Lekas serahkan uangnya! Ada uang ada barang!” ujar Enam Dewa Lembah Persik berteriak-teriak.
Di tengah keramaian itu terdengarlah suara orang menaiki tangga loteng. Orang pertama yang muncul adalah murid Perguruan Henshan, bernama Yihe. Di belakangnya ikut pula empat biksuni dan dua nona muda, yaitu Zheng E dan Qin Juan. Melihat Linghu Chong benar-benar berada di situ, mereka bertujuh sangat gembira. Ada yang memanggil “Pendekar Linghu”, ada yang memanggil “Kakak Linghu”, ada pula yang memanggil “Tuan Muda Linghu”.
Dewa Dahan Persik tiba-tiba menghadang di tengah-tengah mereka dan berkata, “Mana uangnya? Ada uang ada barang! Tanpa seribu tael perak takkan kuserahkan orang ini.”
“Keenam Saudara Persik,” kata Linghu Chong dengan tertawa, “sebenarnya bagaimana ceritanya soal seribu tael perak segala?”
“Di tengah jalan tadi kami bertemu mereka,” tutur Dewa Ranting Persik. “Mereka bertanya kepada kami apa pernah melihatmu. Kukatakan sementara ini tidak. Tidak lama lagi tentu akan bertemu.”
“Paman ini bohong!” tiba-tiba Qin Juan menyela. “Tadi dia menjawab: ‘Linghu Chong punya kaki sendiri, saat ini mungkin dia berada di ujung langit, ke mana kami akan menemukan dia?’”
“Tidak, tidak! Kami bisa meramalkan apa yang bakal terjadi. Sebelumnya kami sudah tahu akan menemukan Tuan Muda Linghu di sini!” bantah Dewa Bunga Persik.
“Sudahlah, aku dapat menerka. Tentu adik-adik ini sedang mencariku dan mereka meminta bantuan kalian. Lalu kalian membuka harga dengan upah seribu tael perak, betul tidak?” sela Linghu Chong tertawa.
“Salah mereka sendiri tidak pandai tawar-menawar,” ujar Dewa Dahan Persik. “Mereka begitu dermawan. Kami minta upah seribu tael perak, tanpa menawar mereka langsung setuju asalkan Pendekar Linghu dapat ditemukan. Janji ini telah kalian terima, bukan?”
Yihe menjawab, “Benar, memang kami telah berjanji akan memberikan seribu tael perak asalkan kalian dapat menemukan Kakak Linghu.”
“Nah, sekarang bayar segera,” kata Enam Dewa Lembah Persik bersama sambil menjulurkan tangan masing-masing.
“Orang alim seperti kami mana bisa membawa uang sebanyak itu?” kata Yihe. “Silakan kalian berenam ikut ke Henshan untuk menerimanya nanti.”
Dalam hati Yihe mengira mereka berenam tentu malas ikut ke Gunung Henshan yang jauh itu. Tak disangka, Enam Dewa Lembah Persik lantas menjawab, “Baik, kami akan ikut ke Henshan untuk menerima pembayaran. Kalian tidak boleh hutang, lho!”
“Wah, selamat untuk kalian berenam, telah mendapat rezeki besar,” ujar Linghu Chong.
“Terima kasih, terima kasih!” sahut Enam Dewa Lembah Persik.
Tiba-tiba Yihe dan kawan-kawan bersama-sama menyembah kepada Linghu Chong dengan wajah prihatin.
“Hei, kenapa kalian berbuat demikian?” tanya Linghu Chong terkejut dan membalas hormat.
“Kami, Yihe dan adik-adik menyampaikan sembah bakti kepada Ketua,” kata Yihe.
“O, jadi kalian sudah tahu? Silakan bangun untuk bicara,” kata Linghu Chong.
“Benar, bicara sambil berlutut begitu tentu tidak nyaman,” sahut Dewa Akar Persik ikut bicara.
“Keenam Saudara Persik,” kata Linghu Chong, “sekarang aku sudah termasuk orang Perguruan Henshan. Kami punya urusan yang harus dirundingkan. Kalian silakan minum arak di sebelah sana, tidak boleh mengganggu jika kalian tidak ingin kehilangan seribu tael perak.”
Sebenarnya Enam Dewa Lembah Persik bermaksud mengoceh lagi. Tapi begitu mendengar kata-kata yang terakhir, mereka langsung bungkam dan terpaksa menyingkir ke meja di salah satu sudut sambil makan-minum sendiri.
Yihe bertujuh bangun. Begitu teringat pada kematian Biksuni Dingxian dan Biksuni Dingyi, kembali mereka menangis sedih.
“Eh, aneh sekali. Kenapa kalian tiba-tiba menangis? Kalau setelah bertemu Linghu Chong langsung menangis, apa tidak sebaiknya kalian tidak usah bertemu saja?” tiba-tiba Dewa Bunga Persik bicara.
Linghu Chong langsung menoleh dan melotot padanya. Dewa Bunga Persik menjadi ketakutan dan lekas-lekas mendekap mulut sendiri.
“Tempo hari sewaktu Kakak Linghu, maksudku, Paman Ketua mendarat dan tidak kembali ke kapal lagi, kemudian datang Paman Mo dari Perguruan Hengshan memberi tahu kepada kami bahwa Paman Ketua telah pergi ke Biara Shaolin demi untuk mencari Bibi Dingxian dan Guru Dingyi. Setelah berunding, kami bermaksud ikut menyusul ke sana. Tak disangka di tengah jalan kami bertemu belasan tokoh persilatan yang membicarakan kehebatan Paman Ketua menyerbu Biara Shaolin bersama mereka dan menduduki biara agung itu. Seorang tua bertubuh pendek gemuk yang mengaku bermarga Lao menyebutkan Biksuni Dingxian berdua telah tewas di dalam Biara Shaolin. Sebelum meninggal, konon Bibi Ketua telah meminta padamu untuk mewarisi kedudukan ketua perguruan kita, dan engkau telah menerima permintaan itu dengan baik. Pesan demikian itu katanya telah didengar oleh banyak orang….” sampai di sini suara Yihe terputus-putus oleh karena tangisnya yang semakin memilukan. Keenam adiknya juga ikut menangis sedih.
“Benar, waktu itu Biksuni Dingxian memang telah mintaku memikul tugas berat ini,” kata Linghu Chong. “Tapi, aku seorang laki-laki, dan namaku juga sudah tercemar. Semua orang tahu aku pemuda berandalan, mana pantas menjadi ketua Perguruan Henshan? Namun keadaan waktu itu memang sangat mendesak. Jika aku tidak menerimanya, tentu Biksuni Dingxian tidak tenteram hatinya. Aih, aku merasa serbasalah.”
“Tapi… tapi kami semuanya sangat mengharapkan engkau menjadi ketua Perguruan Henshan kita,” kata Yihe.
“Paman Ketua,” sela Zheng E, “engkau pernah memimpin kami dalam pertempuran, tidak cuma sekali engkau telah menyelamatkan kami. Setiap murid Perguruan Henshan cukup mengenalmu sebagai seorang kesatria dan laki-laki sejati. Meski engkau seorang laki-laki, tapi di dalam peraturan perguruan kita tidak pernah ada larangan kaum lelaki menjadi ketua.”
Yiwen, seorang biksuni setengah tua ikut bicara, “Kami sangat sedih ketika mendengar wafatnya kedua bibi. Tapi begitu mengetahui engkau yang akan menjabat sebagai ketua Perguruan Henshan, hati kami menjadi lega dan sangat terhibur.”
“Guruku telah dicelakai orang. Kedua bibi juga tewas di tangan musuh,” demikian Yihe menyambung, “dalam waktu beberapa bulan saja tiga tokoh utama Perguruan Henshan dari angkatan ‘Ding’ telah wafat susul-menyusul, tapi siapa pembunuhnya sama sekali tidak diketahui. Paman Ketua, sungguh sangat tepat jika engkau menjabat sebagai pimpinan kami. Selain engkau rasanya sukar untuk menuntut balas bagi ketiga orang tua kita.”
“Benar,” sahut Linghu Chong sambil mengangguk. “Tugas berat menuntut balas bagi ketiga biksuni sepuh ada di atas pundakku.”
Qin Juan berkata, “Kau sudah dikeluarkan dari Perguruan Huashan, dan kini menjadi bagian dari Perguruan Henshan. Gunung barat dan gunung utara sejajar derajatnya. Kelak jika kau bertemu Tuan Yue tidak perlu lagi memanggil ‘Guru’, tapi cukup memanggil ‘Saudara Yue’, begitu saja.”
Linghu Chong hanya tersenyum. Dalam hati ia berpikir, “Mana mungkin aku berani?”
Zheng E berkata, “Setelah mendengar berita duka wafatnya kedua bibi, kami segera menuju Biara Shaolin. Tapi di tengah jalan kami bertemu Paman Mo lagi. Katanya, engkau sudah meninggalkan Gunung Shaoshi. Kami dianjurkan lekas mencari jejakmu.”
“Paman Mo mengatakan makin cepat menemukan engkau akan makin baik,” sambung Qin Juan. “Kata Beliau, terlambat sedikit menemukanmu bisa jadi kau sudah dibujuk orang masuk aliran sesat. Padahal antara kaum lurus bersih dan kaum sesat jelas tidak bisa hidup berdampingan. Perguruan Henshan akan kehilangan seorang ketua pula.”
“Adik Qin memang suka bicara tanpa berpikir. Mana mungkin Paman Ketua sudi masuk aliran sesat semudah itu?” ujar Zheng E.
“Ya, tapi memang begitulah kata Paman Mo,” jawab Qin Juan.
Dalam hati Linghu Chong mengakui akan kebenaran perhitungan Tuan Besar Mo itu. Andai saja waktu itu Ren Woxing tidak memancingnya dengan alasan akan mengajarkan kunci Jurus Penyedot Bintang kepadanya, tapi membujuknya dengan hati tulus, demi mengingat kebaikan Ren Yingying, bukan mustahil dirinya akan menerima dengan baik ajakannya yaitu masuk ke dalam aliran sesat apabila urusan Perguruan Henshan sudah diselesaikan. “O, karena itu kalian lantas menyediakan seribu tael perak sebagai upah kepada siapa saja yang bisa membekuk Linghu Chong?” katanya kemudian.
“Membekuk Linghu Chong? Mana berani kami berbuat demikian?” kata Qin Juan dengan tertawa meski air matanya masih meleleh di pipi.
“Setelah mendengar pesan Paman Mo kami lantas membagi diri ke dalam kelompok-kelompok, yang masing-masing beranggotakan tujuh orang untuk mencari Paman Ketua,” lanjut Zheng E. “Untung tadi kami bertemu Enam Dewa Lembah Persik. Mereka membuka harga seribu tael perak untuk dirimu. Padahal, jangankan cuma seribu tael, sekalipun sepuluh ribu tael perak juga akan kami berikan asal Paman Ketua dapat diketemukan.”
“Sebagai ketua kalian, rasanya aku tidak bisa memberi manfaat apa-apa, kecuali cara meminta sedekah kepada kaum hartawan kikir dan pembesar korup,” ujar Linghu Chong tersenyum.
Ketujuh murid Henshan itu tersenyum geli karena teringat pada kejadian di Fujian tempo hari. Di sana mereka telah diajari bagaimana cara meminta sedekah kepada Si Tukang Menguliti, hartawan kikir yang terkenal.
Linghu Chong berkata, “Baiklah, kalian jangan khawatir lagi! Sekali Linghu Chong sudah berjanji kepada Biksuni Dingxian pasti takkan mengingkari. Ketua Perguruan Henshan sudah pasti akan kujabat. Setelah kita makan kenyang segera kita berangkat ke Gunung Henshan.” Ketujuh murid Henshan itu senang mendengarnya, seolah mendapatkan harapan baru.
Pada saat makan Linghu Chong satu meja dengan Enam Dewa Lembah Persik. Ia pun bertanya kepada mereka untuk apa uang seribu tael perak yang mereka minta itu. Dewa Akar Persik berkata, “Masalahnya Ji Wushi si Kucing Malam terlalu miskin dan akan bangkrut. Padahal dia sedang berhutang seribu tael perak kepada kami.”
Dewa Dahan Persik menyambung, “Sewaktu di Biara Shaolin, Ji Wushi mengadakan taruhan dengan kami….”
Dewa Bunga Persik lantas memotong, “Mana bisa Si Kucing Malam menang taruhan melawan kami, enam bersaudara?”
Dalam hati Linghu Chong berpikir, “Mana bisa kalian menandingi kecerdasan Ji Wushi?” Ia lalu bertanya, “Memangnya kalian bertaruh soal apa?”
Dewa Buah Persik menjawab, “Ini mengenai dirimu. Kami bertaruh kau pasti tidak mau menjadi ketua Perguruan Henshan, bukan… bukan… kami bertaruh kau pasti mau menjadi ketua Perguruan Henshan.”
Dewa Bunga Persik berkata, “Si Kucing Malam menduga dirimu pasti tidak sudi menjadi ketua Perguruan Henshan. Sebaliknya kami bilang kepadanya seorang laki-laki harus bisa pegang janji. Kau telah berjanji kepada biksuni tua untuk menjadi ketua Perguruan Henshan, dan hal ini telah didengar setiap kesatria di dunia ini. Mana mungkin dirimu ingkar janji?”
Dewa Ranting Persik ikut bicara, “Menurut Si Kucing Malam, engkau sudah biasa berkelana. Tidak lama lagi pasti akan menikah dengan Putri Suci dari aliran sesat, mana mau kasak-kusuk dengan kaum biksuni lagi?”
Dalam hati Linghu Chong berkata, “Ji Wushi sangat hormat kepada Yingying, tidak mungkin dia berani menyebut ‘aliran sesat’ segala. Tentu keenam orang ini yang telah memutar balik kan kenyatannya.” Maka ia lantas bertanya, “Dan kalian kemudian bertaruh seribu tael perak dengannya.”
“Benar,” sahut Dewa Akar Persik. “Dan tadi pagi kami bertemu biksuni-biksuni yang sedang mencarimu ini. Katanya mereka akan menjemputmu untuk menjabat sebagai ketua Perguruan Henshan. Jelas kami yang memenangkan taruhan seribu tael perak itu.”
Linghu Chong tersenyum berkata, “Kemudian kalian merasa kasihan kepada Si Kucing Malam yang miskin itu, sehingga kalian berusaha mendapatkan seribu tael perak untuk dia agar dia bisa membayar kekalahannya pada kalian?” kata Linghu Chong.
“Tepat, dugaanmu benar-benar sangat tepat,” seru Dewa Bunga Persik.
“Sama pandainya seperti aku bila menduga sesuatu,” sambung Dewa Buah Persik.
Linghu Chong tidak menggubrisnya lagi. Usai makan rombongan tersebut lantas berangkat ke Gunung Henshan. Suatu hari sampailah mereka di kaki gunung tersebut. Rupanya murid-murid Henshan sudah menerima kabar lebih dulu dan beramai-ramai mereka menjemput kedatangan rombongan tersebut. Begitu melihat Linghu Chong, segera mereka berlutut memberi hormat dan segera dibalas oleh Linghu Chong. Semuanya merasa berduka ketika bicara tentang wafatnya Biksuni Dingxian dan Biksuni Dingyi.
Linghu Chong melihat Yilin berada di antara para murid itu dengan wajah pucat dan tubuh agak kurus dibandingkan dulu. Segera ia bertanya, “Adik Yilin, apakah akhir-akhir ini kau kurang sehat?”
“Tidak, aku baik-baik saja,” sahut Yilin dengan mata basah. “Kau adalah ketua kami sekarang. Jangan panggil aku ‘adik’ lagi.”
Dalam perjalanan menuju ke atas, Yihe dan yang lain selalu memanggil Linghu Chong dengan sebutan ‘paman guru’. Setelah mendengar ucapan Yilin tadi, Linghu Chong pun berkata, “Kakak dan Adik sekalian, Linghu Chong menjadi ketua hanya karena perintah dari ketua terdahulu. Sesungguhnya, aku tidak pantas dan tidak mampu menyandang tugas berat ini. Aku sama sekali berat untuk menerimanya.”
Para murid menjawab, “Sungguh suatu keberuntungan apabila Paman Ketua sudi memimpin kami. Tolong terima tanggung jawab mahaberat ini.”
Linghu Chong berkata, “Kalau demikian kalian harus berjanji satu hal kepadaku.”
Yihe dan yang lain berseru, “Kami siap menerima perintah Paman Ketua.”
Linghu Chong berkata, “Kalian tidak boleh memanggilku ‘Paman Ketua’, cukup ‘Kakak Ketua’ saja!”
Yihe, Yiqing, Yizhen, Yiwen, Yilin, dan yang lain lantas berunding. Sejenak kemudian mereka berkata, “Ketua suka merendah. Kami tidak berani melawan perintah Ketua.”
Linghu Chong tersenyum, “Nah, demikian lebih baik.”
Begitulah, mereka lantas beramai-ramai menuju ke atas Gunung Henshan. Puncak gunung itu sangat tinggi. Meskipun langkah mereka dengan cepat, namun perlu setengah hari lagi untuk mencapai Puncak Xianxing. Biara utama di sana hanya sebuah biara kecil yang disebut Biara Wuse, yang dikelilingi 20-30 buah rumah genting sebagai tempat tinggal para murid. Bila dibandingkan dengan Biara Shaolin yang megah itu, Biara Wuse bagaikan cebol bertemu raksasa.
Masuk ke dalam biara itu, Linghu Chong melihat patung Guanyin sang dewi welas asih memakai jubah putih. Ruangan bagian dalam tampak sangat bersih dengan terawat. Ia tiddak menyangka pusat Perguruan Henshan yang terkenal di dunia persilatan ternyata begitu kecil dan sederhana. Setelah bersembahyang di depan patung Dewi Guanyin, Linghu Chong diantarkan Yu Sao ke kamar yang biasa dipakai Biksuni Dingxian untuk bersamadi. Keadaan kamar itu pun bersih tanpa sesuatu pajangan, hanya terdapat sebuah bantalan bundar di lantai, dan di sisinya terdapat sebuah kentungan kecil yang sudah tua. Selain itu tak ada benda yang lain lagi.
Watak Linghu Chong suka bergerak bebas dan biasa hidup di tempat ramai. Ia gemar minum arak dan makan enak pula, bagaimana bisa disuruh hidup di tempat sesunyi ini? Kepada Yu Sao ia berkata, “Meski aku menjabat sebagai ketua di sini, tapi aku tidak menjadi biksu. Lagipula kakak dan adik di sini semua kaum wanita. Hanya aku saja seorang lelaki, tentu merasa rikuh. Sebaiknya kau sediakan aku sebuah rumah yang agak berjauhan dari sini. Biarlah aku tinggal di sana bersama Enam Dewa Lembah Persik.”
Yu Sao menjawab, “Baik, di puncak barat ada tiga buah rumah yang biasa digunakan sebagai tempat menginap para tamu. Kalau Ketua setuju untuk sementara bisa tinggal di sana. Lain hari kita dapat membangun rumah kediaman yang baru untuk Ketua.”
“Bagus sekali, untuk apa harus membangun rumah baru segala?” ujar Linghu Chong gembira. Dalam hati ia berpikir, “Aku sudah pasti tidak mau menjadi ketua di sini seumur hidup. Asalkan nanti sudah ada calon ketua yang tepat tentu dapat kuserahkan kedudukan ini kepadanya dan aku bisa kembali hidup berkelana secara bebas gembira di dunia persilatan.”
Begitu tiba di rumah itu, Linghu Chong menemukan sebuah bangunan yang tidak ubahnya seperti rumah kaum petani kaya dengan perlengkapan meja, kursi, tempat tidur berkasur, walaupun berbahan kasar pula. Namun tentu saja lebih mendingan daripada kamar kediaman Biksuni Dingxian yang kosong itu.
Yu Sao berkata, “Ketua silakan duduk. Saya akan mengambil arak.”
“Hei, di sini tersedia arak?” tanya Linghu Chong gembira.
“Tidak cuma arak saja, bahkan arak pilihan,” ujar Yu Sao. “Ketika Adik Yilin mengetahui Ketua akan tiba, dia bilang padaku kalau tidak disediakan arak enak, mungkin jabatan ketua ini takkan lama kau pegang. Maka malam-malam kami mengirim orang untuk turun gunung membeli belasan guci arak enak sebagai persediaan.”
Linghu Chong merasa rikuh juga, “Aih, kaum kita biasa hidup sederhana, tapi untuk diriku harus membuang biaya sebanyak ini. Seharusnya tidak perlu.”
Yiqing menyela, “Ketua jangan khawatir, uang sedekah yang diperoleh dari Si Tukang Menguliti dulu masih sisa cukup banyak. Meskipun setengahnya disedekahkan kepada kaum miskin, juga masih tetap sisa banyak. Untuk biaya minum Ketua rasanya masih cukup dua belas tahun lagi.”
Begitulah, malamnya Linghu Chong lantas minum sepuas-puasnya bersama Enam Dewa Lembah Persik.
(Bersambung)
Bagian 59 ; Bagian 60 ; Bagian 61