Bagian 70 - Mengalahkan Tiga Ketua

Meskipun Yue Lingshan mampu memainkan kedua jurus itu dengan baik, namun gagasan di balik ilmu pedang ini luput dari pemahamannya. Sebaliknya, Tuan Besar Mo yang hampir saja kalah seketika bergembira menyadari hal ini. Setelah berhasil menahan kedua jurus tersebut, dilihatnya Yue Lingshan telah menyerang lagi dengan Jurus Shilin Shu Seng, disusul dengan Jurus Awan Tianzhu. Gagasan di dalam rumpun Jurus Pedang Tianzhu diambil dari aneka perubahan awan di angkasa.
Begitu melihat Yue Lingshan menggunakan jurus tersebut, Tuan Besar Mo memilih untuk menghindar daripada menangkisnya, karena Jurus Awan Tianzhu ini memang sulit untuk dipatahkan. Namun demikian ia tetap memutar pedangnya secepat kilat ke barat dan ke timur, demi untuk mengaburkan pandangan para penonton bahwa dirinya sedang melarikan diri dari serangan Yue Lingshan.
Tuan Besar Mo sadar, selain Jurus Quan Ming Furong, Bangau Membumbung Zige, Shilin Shu Seng, dan Awan Tianzhu, masih terdapat lagi jurus ampuh Perguruan Hengshan yang bernama Belibis Kembali ke Zhurong. Di antara kelima puncak utama Gunung Hengshan, Zhurong merupakan puncak yang paling tinggi. Jurus Belibis Kembali ke Zhurong juga merupakan jurus pedang paling hebat dari sekian banyak ilmu silat Perguruan Hengshan. Tuan Besar Mo sendiri hanya menerima penjelasan samar-samar dari gurunya karena sang guru sendiri juga kurang terlalu memahami jurus ini dengan jelas. Membayangkan jika Yue Lingshan tiba-tiba memainkannya seketika Tuan Besar Mo menjadi gentar dan khawatir. Meskipun nyawanya mungkin tidak sampai melayang, namun hal itu tentu sangat memalukan. Jika sampai kalah oleh ilmu pedang perguruan sendiri, tentu tidak ada lagi alasan baginya untuk berkecimpung di dunia persilatan selamanya.
Akan tetapi, begitu melihat gaya Yue Lingshan yang menyerang dengan ragu-ragu dan kurang yakin, Tuan Besar Mo lantas paham kalau lawannya ini kurang berpengalaman dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. ”Rupanya Nyonya Muda perlu lebih banyak belajar lagi,” ujarnya setengah bergumam.
Dengan menggunakan Jurus Awan Tianzhu, Yue Lingshan memang telah berhasil membuat Tuan Besar Mo terdesak mundur. Meskipun Tuan Besar Mo mampu menutupi kekalahannya, namun para tokoh nomor satu seperti Mahabiksu Fangzheng, Pendeta Chongxu, Zuo Lengchan, Yue Buqun, dan Linghu Chong tetap bisa melihat gerakan pura-puranya itu. Bahkan, Yue Lingshan sempat menyindir, ”Terima kasih, Paman Mo sudi mengalah!” Ini membuat keadaan di antara mereka semakin jelas, siapa yang lebih unggul.
Namun demikian, mengingat kedudukannya saat ini Tuan Besar Mo pantang menyerah begitu saja di tangan lawan yang berasal dari angkatan lebih muda. Apalagi melihat Yue Lingshan tampak ragu-ragu dalam bertindak jelas menunjukkan pengalaman bertarungnya masih dangkal. Kesempatan baik ini tidak disia-siakan oleh Tuan Besar Mo. Begitu melihat Yue Lingshan tersenyum menampakkan lesung pipit dan bibirnya yang mungil merekah seolah hendak mengatakan sesuatu, seketika itu pula pedang pendek Tuan Besar Mo bergerak dengan cepat. Ini merupakan puncak dari hasil latihannya selama berpuluh-puluh tahun. Gerakannya yang sangat cepat membuat Yue Lingshan terkurung dalam kilatan sinar pedangnya. Suara deru pedangnya bahkan terdengar seperti alunan suara rebab yang menyayat hati.
Yue Lingshan berseru khawatir dan mundur beberapa langkah. Akan tetapi Tuan Besar Mo terus saja mendesaknya agar tidak sempat mengerahkan Jurus Belibis Kembali ke Zhurong. Kali ini Tuan Besar Mo mengerahkan Jurus Tiga Belas Hantu Kabut Hengshan, yaitu jurus yang digunakannya untuk membunuh Fei Bin dahulu. Para hadirin ikut pusing melihat kecepatan gerak tubuh Tuan Besar Mo itu. Dalam hati mereka ikut kasihan melihat keadaan Yue Lingshan yang terdesak tanpa ampun. Jangankan untuk menyerang, bertahan saja tampak kesulitan. Andai saja ini bukan pertarungan antara laki-laki dan perempuan, para hadirin pasti sudah bertepuk tangan sejak tadi memuji kehebatan Tuan Besar Mo.
Begitu melihat Yue Lingshan menggunakan Jurus Quan Ming Furong tadi, Linghu Chong tidak ragu lagi bahwa sang adik kecil telah mempelajarinya dari ukiran pada dinding gua rahasia di Tebing Perenungan, di Puncak Huashan. Sambil termenung-menung Linghu Chong berpikir, ”Mengapa Adik Kecil bisa berada di Tebing Perenungan? Guru dan Ibu Guru sangat sayang kepadanya. Mereka tidak mungkin menghukum Adik Kecil merenung sendiri di Puncak Huashan yang berbahaya itu. Apapun kealahan yang diperbuat Adik Kecil, Guru dan Ibu Guru pasti memaafkannya. Tebing Perenungan dengan Permukiman Huashan cukup jauh letaknya. Jalan yang menghubungkannya juga terjal dan berbahaya. Meskipun bukan Adik Kecil yang berbuat salah, murid perempuan lainnya juga tidak sepantasnya dikirim ke sana.”
Sejenak kemudian Linghu Chong kembali melamun, ”Apakah mungkin Adik Lin yang telah berbuat kesalahan sehingga dihukum di Tebing Perenungan? Kemudian setiap hari Adik Kecil datang menjenguk dan mengantar makanan untuk Adik Lin seperti kepadaku dulu. Tapi, ah, tidak mungkin kalau Adik Lin sampai melanggar peraturan perguruan. Ia seorang pemuda yang santun, dan patuh terhadap aturan. Cepat atau lambat, ia pasti dijuluki Si Pedang Budiman Kecil. Tidak mungkin... tidak mungkin Adik Lin sampai dihukum di Tebing Perenungan.”
“Mungkin saja Adik Kecil...” kembali Linghu Chong melamun. Kali ini suatu kenangan yang terpendam dalam di lubuk hatinya seolah hendak muncul namun segera tenggelam kembali. Setiap kali ia mencoba mengingat-ingat, namun kenangan itu justru terkubur semakin dalam. Untuk sementara waktu ia seperti orang linglung. Kenangan masa lalu begitu samar-samar dan sulit untuk dihadirkan kembali.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan Yue Lingshan. Pedangnya lepas dari tangan dan terlempar ke udara. Sebelah kakinya terpeleset dan ia pun jatuh terduduk. Sementara itu Tuan Besar Mo tampak mengarahkan pedang pendek di tangannya ke bahu kanan Yue Lingshan sambil berkata, “Jangan khawatir, silakan bangun!”
Namun sekejap kemudian terdengar suara benturan satu kali. Tampak pedang pendek Tuan Besar Mo itu patah pada bagian tengah. Ternyata Yue Lingshan telah memungut dua buah batu dan melemparkannya ke arah lawan. Satu mengenai pedang pendek yang tipis itu, dan satunya lagi melayang ke samping.
Tuan Besar Mo tersentak kaget dan bingung pula melihat Yue Lingshan melemparkan batunya ke arah lain. Tak disangka tiba-tiba iganya terasa kesakitan. Rupanya batu yang dilemparkan ke samping itu mendadak berputar balik dan tepat mengenai dan mematahkan tulang iga orang tua kurus itu. Kontan darah pun tersembur keluar dari mulutnya.
Kejadian ini sungguh teramat cepat luar biasa. Mula-mula pedang Yue Lingshan terlempar, orangnya jatuh terduduk, batu melayang, pedang patah, kemudian Tuan Besar Mo muntah darah seolah terjadi dalam sekejap mata. Para penonton ternganga karena kejadian-kejadian itu sungguh sulit untuk diikuti. Menyusul kemudian pedang Yue Lingshan yang terlempar ke atas tadi jatuh pula dan menancap di samping Tuan Besar Mo dan hampir-hampir melukai tubuh ketua Hengshan tersebut
Para hadirin menyaksikan dengan jelas bahwa setelah Tuan Besar Mo menjatuhkan Yue Lingshan, ia tidak melancarkan serangan habis-habisan melainkan menyuruh Yue Lingshan untuk tidak takut dan mempersilakannya bangun kembali. Hal ini lazim terjadi manakala seorang tua mengalahkan lawan yang lebih muda. Akan tetapi serangan Yue Lingshan dengan dua potong batu yang seketika membuat lawan terluka parah itulah yang benar-benar sukar diduga sebelumnya.
Hanya Linghu Chong saja yang tahu bahwa kedua serangan pamungkas Yue Lingshan itu diperoleh dari ukiran di dinding gua rahasia di Puncak Huashan pula. Dalam gua tersebut, terukir lukisan seorang gembong aliran sesat mematahkan pedang tokoh Hengshan menggunakan sepasang bandul tembaga. Kali ini Yue Lingshan telah menggunakan batu sebagai pengganti bandul untuk melumpuhkan Tuan Besar Mo. Rupanya Yue Lingshan telah berlatih keras untuk ini, di mana ia bisa memperlakukan sepotong batu bagaikan bandul tembaga milik gembong aliran sesat tersebut, yaitu dilemparkan ke samping kemudian berputar balik mengenai sasaran.
Tiba-tiba Yue Buqun melayang mendekati Yue Lingshan dan menampar pipi putrinya itu sambil membentak, “Kurang ajar! Jelas-jelas Paman Mo sengaja mengalah padamu, tapi mengapa kau malah berbuat kasar kepada Beliau?” Ia kemudian memapah Tuan Besar Mo ke pinggir dan berkata, “Saudara Mo, harap dimaafkan kesalahan anak perempuanku yang tidak kenal adat itu. Sungguh aku sangat menyesal.”
Tuan Besar Mo menjawab sambil meringis, “Seekor harimau melahirkan anak harimau, sungguh perempuan muda yang luar biasa.” Usai berbicara kembali darah tersembur dari mulutnya. Segera dua orang murid Hengshan berlari mendekati dan memapahnya kembali ke tengah rombongan.
Dengan mata melotot Yue Buqun memandang tajam ke arah Yue Lingshan, lalu mengundurkan diri ke dalam rombongan Huashan.
Linghu Chong melihat pipi Yue Lingshan merah membekas gambar lima jari, jelas tamparan sang ayah cukup keras. Air mata perempuan itu tampak meleleh pula, namun giginya berkerut-kerut menunjukkan sikap membantah membuat Linghu Chong teringat kembali kejadian di masa lalu. ”Dahulu apabila Adik Kecil berbuat nakal dan dimarahi ayah-ibunya, seringkali ia memperlihatkan sikap yang sama seperti sekarang ini. Lalu untuk menyenangkan hati Adik Kecil, aku sering mengajaknya bertanding pedang. Hal yang bisa membuat hatinya senang kembali adalah menang bertanding. Untuk itu, aku sengaja pura-pura kalah kepadanya.”
Berpikir sampai di sini, kembali terpikir olehnya bagaimana Yue Lingshan bisa mendatangi gua rahasia di Puncak Huashan tersebut. ”Jangan-jangan Adik Kecil masih merindukan aku meski ia sudah menikah. Kemungkinan besar ia merindukan hubungan baik denganku di masa lampau, lalu sengaja naik ke puncak untuk mengenang kembali pengalaman-pengalaman silam. Padahal gua rahasia itu sudah kututup kembali sehingga sulit untuk ditemukan kecuali ada orang yang tinggal di sana cukup lama. Mungkin Adik Kecil bermalam beberapa hari di sana mengenang diriku dan ia pun menemukan gua rahasia tersebut. Atau mungkin ia datang beberapa kali dan menemukannya.”
Perlahan Linghu Chong menoleh dan memandang ke arah Lin Pingzhi, kemudian berpikir kembali, “Adik Lin baru saja menikah dengan Adik Kecil. Seharusnya ia bergembira, tapi mengapa ia tampak bermuram durja? Sebagai suami pun ia tidak menunjukkan perhatian terhadap sang istri ketika Adik Kecil ditampar oleh Guru di depan umum tadi. Sungguh keterlaluan sikap dinginnya itu.”
Berpikir bahwa Yue Lingshan naik ke Puncak Huashan adalah untuk mengenang masa lalu, meskipun ini hanya dugaan sendiri, namun dalam benak Linghu Chong sudah timbul bayangan sang adik kecil sedang menangis sedih penuh penyesalan karena telah salah menikah dengan Lin Pingzhi.
Ketika berpaling lagi, dilihatnya Yue Lingshan sedang memungut kembali pedangnya dengan air mata bercucuran. Seketika darah pun bergolak di rongga dada Linghu Chong. “Aku akan menghiburnya sehingga dari menangis berubah menjadi tertawa.”
Dalam pandangan Linghu Chong saat ini Panggung Pemujaan di Puncak Songshan telah berubah menjadi Tebing Perenungan di Puncak Huashan. Beribu-ribu hadirin dianggapnya seperti pepohonan belaka, yang ia pikirkan melulu hanya si jantung hati yang sedang menangis sedih lantaran dihajar ayahnya. Selama hidupnya entah sudah berapa kali ia membujuk dan melucu sehingga si jantung hati terhibur dan kembali tertawa, mana boleh saat ini hanya diam berpangku tangan?
Maka Linghu Chong pun melangkah maju dan berseru, “Adik… Adik….” tiba-tiba terpikir olehnya bahwa untuk menyenangkan si jantung hati ia harus bertanding sungguh-sungguh untuk kemudian mengalah. Maka dengan nada menantang ia berganti suara, “Kau telah mengalahkan ketua-ketua dari Perguruan Taishan dan Hengshan, sudah tentu ilmu pedangmu tidak sembarangan. Perguruan Henshan kami tidak dapat menerima begitu saja, apakah kau pun sanggup menandingi aku dengan ilmu pedang Henshan?”
Perlahan-lahan Yue Lingshan menoleh namun tidak berani mengangkat kepala seperti sedang memikirkan sesuatu. Sejenak kemudian barulah ia mengangkat kepala dengan raut muka tampak merona merah menahan malu.
Linghu Chong menyambung, ”Meskipun ilmu silat Tuan Yue sangat tinggi, namun aku tidak yakin Beliau telah mendalami semua ilmu pedang dari empat perguruan lain dengan sempurna.”
Yue Lingshan menjawab, “Kau sendiri bukan orang Henshan asli, tapi sekarang telah menjadi ketua di sana. Apakah kau sendiri sudah mahir ilmu pedang perguruan yang kau pimpin itu?”
Sejak diusir dari Huashan, tiap kali bertemu dengan Yue Lingshan, baru kali ini sang adik kecil bersikap ramah kepadanya. Seketika timbul rasa gembira di hati Linghu Chong. Ia pun berpikir, “Aku harus berkelahi dengan teliti, supaya dia tidak tahu bahwa aku sengaja mengalah kepadanya.”
Maka ia kemudian menjawab, “Dikatakan mahir sama sekali aku tidak berani. Tapi sudah sekian lamanya aku berada di Gunung Henshan, dengan sendirinya sudah cukup masak mendalami ilmu pedang perguruan kami. Sekarang kita harus sama-sama menggunakan ilmu pedang Henshan, kalau bukan ilmu pedang Henshan maka dianggap kalah, bagaimana?”
Bahwasanya ilmu pedang Linghu Chong jauh lebih tinggi daripada Yue Lingshan cukup banyak diketahui orang lain. Namun di dalam hati ia sudah mengambil keputusan, nanti dalam pertandingan ia akan menggunakan Sembilan Jurus Pedang Dugu, supaya kemenangannya dianggap batal dan berbalik mengaku kalah. Dengan demikian tentu takkan menimbulkan sangsi banyak orang bahwa kekalahannya itu sengaja dibuat-buat.
Terdengar Yue Lingshan menjawab, “Baik, kita bertarung sekarang!” Pedangnya lantas berputar setengah lingkaran dan segera menusuk miring ke arah Linghu Chong.
Serentak terdengar jerit heran murid-murid Henshan melihat serangan Yue Lingshan itu. Ini membuktikan bahwa apa yang digunakan Yue Lingshan memang benar-benar ilmu pedang Henshan. Jurus serangan ini adalah ilmu pedang yang pernah dipelajari Linghu Chong dari dinding gua rahasia itu, dan juga telah diajarkannya kepada murid-murid Henshan. Dari itulah mereka lantas mengenali jurus serangan Yue Lingshan tersebut.
Linghu Chong menahan serangan lawan dengan pedangnya. Ia paham ilmu pedang Henshan memiliki banyak gerakan berputar dan melingkar tiada henti serta sangat rapat. Setiap gerakan pedang tersebut terlihat lembut tapi mengandung kekuatan dahsyat. Begitu berhadapan dengan musuh, sembilan dari sepuluh gerakan jurus pedang Henshan adalah untuk bertahan, sementara hanya satu yang bersifat menyerang. Namun serangan ini seringkali bersifat tiba-tiba dan sangat mengejutkan.
Linghu Chong telah hidup bersama murid-murid Henshan dalam waktu yang lumayan lama, serta pernah pula melihat Biksuni Dingjing bertempur melawan musuh. Maka dalam pertandingan ini ia dapat menampilkan jurus-jurus pedang Perguruan Henshan dengan sangat cermat dan teliti. Jelas ia telah menguasai intisari ilmu pedang Henshan dengan sangat mendalam. Para pesilat kelas satu seperti Mahabiksu Fangzheng, Pendeta Chongxu, Xie Feng, Zuo Lengchan, dan Yue Buqun dapat menilai kalau Linghu Chong telah memainkan ilmu pedang Henshan dengan sangat baik. Bahkan gagasan umum dalam ilmu pedang Henshan, yang terkenal dengan istilah ”Jarum dalam Segumpal Kapas” yaitu serangan tiba-tiba dan mendadak juga dimainkannya dengan baik. Para tokoh kelas satu itu memuji keberhasilan Linghu Chong dalam hati.
Perguruan Henshan hanya beranggotakan kaum biksuni selama ratusan tahun terakhir. Bagi kaum Buddha, sifat welas asih adalah dasar bagi segalanya. Lebih-lebih bagi kaum wanita tentu tidak sepantasnya menyerang dengan kasar dan keras. Maka itu, gagasan utama ilmu silat Perguruan Henshan adalah untuk menjaga diri, bukan untuk menyerang. Prinsip utama ilmu silat aliran ini adalah menyembunyikan jarum dalam segumpal kapas. Jika ada seseorang yang memegang kapas tersebut maka ia tidak akan terluka. Namun jika ia mencengkeram dengan keras, maka jarum dalam gumpalan tersebut akan menusuk tangannya. Jadi, luka yang tercipta bukan karena tajamnya jarum tetapi karena kuatnya genggaman si tangan. Gagasan ilmu silat Henshan ini sesuai dengan ajaran Sang Buddha, ”Kau menciptakan nasibmu sendiri. Karma baik dan buruk datang dari hatimu”.
Setelah menguasai Sembilan Jurus Pedang Dugu, kecerdasan Linghu Chong dalam memahami berbagai macam intisari ilmu pedang meningkat pesat. Ia memainkan ilmu pedang sesuai dengan gagasannya, dan bukan sekadar memainkan rangkaian gerakan saja. Maka begitu memainkan jurus-jurus pedang Henshan gerakannya pun cenderung berbeda dengan aslinya namun maksud dan tujuannya tetap tercapai. Para hadirin yang mengenal ilmu silat Henshan kebanyakan hanya mengetahui gagasan utama di balik rangkaiannya saja, namun tidak memahami dengan jelas benar dan tidaknya gerakan Linghu Chong. Maka begitu melihat permainan Linghu Chong tersebut mereka memuji, “Pendekar muda ini bukan sekadar beruntung menjadi ketua Perguruan Henshan, tapi rupanya ia memang benar-benar menguasai ilmu silat perguruan ini. Rupanya Biksuni Dingxian tidak salah pilih orang.” Hanya murid-murid Henshan seperti Yihe dan Yiqing yang mengetahui kalau gerakan Linghu Chong berbeda dengan yang diajarkan guru mereka. Meskipun demikian, mereka menilai intisari dan gagasan dalam ilmu pedang Henshan telah dikuasai dengan baik oleh Linghu Chong.
Linghu Chong dan Yue Lingshan sama-sama mempelajari jurus pedang Henshan dari lukisan para gembong aliran sesat yang terukir pada dinding gua rahasia di Puncak Huashan. Namun dalam hal ini Linghu Chong memainkannya lebih baik daripada Yue Lingshan. Ditambah lagi Linghu Chong telah lama tinggal bersama kaum biksuni di Gunung Henshan sehingga intisari ilmu silat aliran ini telah dikuasainya dengan baik. Andai saja bukan karena ia mengalah untuk menghibur hati sang adik kecil, tentu Yue Lingshan sudah terkalahkan oleh beberapa jurus awal tadi.
Setelah melewati lebih dari tiga puluh jurus, Yue Lingshan mulai kehabisan gerakan karena jumlah jurus yang ia pelajari dari dinding gua rahasia cukup terbatas. Maka itu, untuk serangan selanjutnya ia pun mengulangi kembali dari awal. Namun jurus-jurus dalam ilmu pedang Henshan memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu gerakan-gerakan melingkar dan serangan tiba-tiba. Itulah sebabnya kebanyakan hadirin tidak menyadari kalau Yue Lingshan telah mengulangi lagi jurus serangannya seperti awal menyerang tadi. Di samping itu Linghu Chong juga melakukan hal yang sama sehingga para hadirin tidak terlalu memerhatikan ini semua.
Jurus pedang yang digunakan Yue Lingshan sangat rapat, sementara Linghu Chong mengatasinya dengan gerakan yang sama. Keduanya memainkan jurus-jurus yang sama dan mengandung intisari ilmu pedang Perguruan Henshan pula. Permainan mereka sangat indah sehingga para penonton bersorak dan bertepuk tangan memuji.
Seorang penonton berkata, “Linghu Chong adalah ketua Perguruan Henshan. Wajar kalau ia bisa memainkan jurus pedang Henshan dengan bagus. Tapi Nona Yue adalah orang Huashan, mengapa ia pun mahir Ilmu pedang Perguruan Henshan pula?”
Penonton lain menjawab, “Apa kau lupa kalau Linghu Chong adalah murid tertua Tuan Yue? Tentu saja Tuan Yue sendiri yang telah mengajarkan ilmu pedang ini kepadanya, kalau tidak mana mungkin kedua muda-mudi ini bisa bertanding sedemikian serasi?”
Penonton yang lain lagi menyahut, “Benar, Tuan Yue sudah mahir ilmu pedang Perguruan Huashan, Taishan, Hengshan, dan Henshan. Sepertinya ia juga mahir ilmu pedang Perguruan Songshan. Aku yakin jabatan ketua Partai Lima Gunung hanya dia yang pantas menjabatnya, tidak ada pilihan lain.”
“Ah, belum tentu,” sahut seseorang lagi. “Ilmu pedang Ketua Zuo dari Songshan masih jauh lebih tinggi daripada Tuan Yue. Ilmu silat mengutamakan kualitas, bukan kuantitas. Sekalipun kau mampu memainkan segala macam ilmu silat di dunia ini, tapi kalau pengetahuanmu hanya beberapa jurus saja apa gunanya? Tentu akan seperti kucing berkaki tiga. Maka itu, aku yakin Ketua Zuo yang hanya menggunakan ilmu pedang Songshan saja pasti sanggup mengalahkan ilmu pedang empat aliran yang dipelajari Tuan Yue.”
“Huh, dari mana kau tahu? Berani sekali omong kosong tak tahu malu?” gerutu orang yang berbicara sebelumnya.
“Omong kosong tak tahu malu bagaimana? Jika berani, mari kita bertaruh lima puluh tael perak,” jawab yang satunya.
“Kenapa tidak berani?” teriak orang yang pertama. “Aku bayar seratus perak, kontan! Siapa yang kalah menjadi murid Perguruan Henshan.”
“Boleh! Seratus tael juga boleh,” seru yang lain tak mau kalah. “Tapi, apa maksudmu dengan menjadi murid Henshan?”
“Siapa yang kalah menjadi biksuni!” ejek yang pertama.
Sementara itu serangan Yue Lingshan sudah bertambah cepat. Linghu Chong melihatnya begitu cantik dan anggun, seketika ia teringat saat berlatih bersama di Gunung Huashan beberapa waktu yang lalu. Tanpa terasa pikirannya pun melayang-layang. Maka ketika Yue Lingshan menusuknya, segera ia balas menyerang sekenanya. Tak tahunya jurus ini ternyata bukan ilmu pedang Perguruan Henshan.
Yue Lingshan mengelak dan perlahan ia berkata, “Mundu Hijau Laksana Kacang!” Menyusul kemudian ia pun membalas suatu jurus, menebas ke arah dahi Linghu Chong.
Linghu Chong mengelak dan menggumam, “Daun Willow Lentik Alis!”
Mundu Hijau Laksana Kacang dan Daun Willow Lentik Alis adalah jurus-jurus dalam ilmu pedang Chong Ling, yakni ilmu pedang ciptaan Linghu Chong dan Yue Lingshan. Nama ilmu pedang itu diambil dari singkatan nama masing-masing, yaitu ”Chong” dan ”Ling”. Ilmu pedang ini sebenarnya tidak memiliki sesuatu yang istimewa, namun telah mereka latih dengan sangat matang. Maka sekarang tanpa terasa mereka pun memainkannya bersama di hadapan banyak orang.
Linghu Chong jauh lebih cerdas daripada sang adik kecil. Apapun yang ia kerjakan, ia melakukannya dengan riang gembira tanpa rasa keterikatan terhadap aturan dan norma, sehingga selalu tampil dengan gagasan-gagasan baru. Meskipun ilmu pedang ini hasil buatan mereka berdua, namun hampir semuanya lahir dari pikiran Linghu Chong. Saat itu ilmu silat keduanya masih terhitung rendah sehingga tidak ada yang istimewa dalam jurus-jurus yang mereka ciptakan. Namun keduanya sangat sering berlatih bersama di tempat tersembunyi sehingga sangat hafal ilmu pedang ini luar kepala.
Maka begitu Linghu Chong tanpa sengaja memainkan jurus Mundu Hijau Laksana Kacang, Yue Lingshan langsung mengikutinya dengan melancarkan jurus Daun Willow Lentik Alis. Begitu jurus-jurus ini dimainkan raut muka keduanya tampak bersemu kemerah-merahan. Linghu Chong lantas memainkan jurus Memandang dalam Kabut, sementara Yue Lingshan mengimbangi dengan jurus Saat Hujan Reda.
Linghu Chong dan Yue Lingshan telah melatih ilmu pedang ciptaan mereka ini dalam waktu yang cukup lama, namun mereka takut ketahuan oleh sang guru dan ibu guru, sehingga merahasiakan semuanya. Namun kali ini keduanya tidak mampu menahan diri lagi dan memainkan jurus-jurus ciptaan mereka itu di hadapan banyak orang. Dalam waktu singkat mereka telah memainkan sekitar sepuluh jurus. Tidak hanya Linghu Chong yang tiba-tiba terkenang pemandangan alam Gunung Huashan, ternyata Yue Lingshan juga sudah tidak ingat kalau dirinya kini telah menjadi istri orang lain. Mereka benar-benar lupa daratan bahwa kini sedang berada di hadapan beribu-ribu kaum persilatan. Yue Lingshan tidak ingat lagi kalau dirinya sedang bertanding demi kejayaan sang ayah. Yang ada di matanya hanya sang kakak seperguruan yang riang gembira dan sedang memainkan ilmu pedang ciptaan mereka.
Linghu Chong melihat raut muka sang adik kecil semakin lembut dan semakin lunak. Tampak kilatan sinar bahagia terpancar di sorot mata Yue Lingshan. Jelas si nyonya muda telah melupakan perlakuan kasar ayahnya tadi. Melihat itu Linghu Chong berpikir, ”Saat aku melihatnya pagi tadi, ia tampak murung dan tidak bahagia. Namun kini ia terlihat begitu senang dan gembira. Aih, kalau jurus Pedang Chong Ling adalah sumber kebahagiaannya, rasanya aku tidak ingin menghentikan permainan ini seumur hidup.” Sejak mendengar sang adik kecil menyanyikan lagu rakyat Fujian di Tebing Perenungan waktu itu, baru kali ini Linghu Chong merasa diperlakukan dengan baik seperti dulu kala. Sungguh rasa bahagia di dalam hatinya tak terkira dalamnya.
Setelah melewati dua puluh jurus, pedang Yue Lingshan menebas ke kaki kiri Linghu Chong. Segera Linghu Chong mengangkat kakinya untuk kemudian mendepak batang pedang lawan. Namun Yue Lingshan segera menekan pedangnya ke bawah lantas menebas telapak kaki sang kakak. Namun pedang Linghu Chong telah menusuk pula ke pinggang Yue Lingshan sehingga terpaksa si nyonya muda memutar pedangnya ke atas untuk menangkis. Maka kedua pedang itu pun beradu sehingga sama-sama tergetar ke atas. Keduanya kemudian sama-sama menusukkan pedang masing-masing ke depan mengarah ke tenggorokan lawan dengan kecepatan luar biasa.
Menurut arah pedang keduanya, jelas masing-masing sukar untuk menghindarkan diri dan pasti akan gugur bersama. Tanpa terasa para penonton ikut menjerit khawatir. Namun mendadak terdengar suara benturan logam yang cukup pelan. Ternyata ujung pedang masing-masing saling bertemu dan berbenturan sampai-sampai memercikkan kembang api. Tidak hanya itu, batang pedang masing-masing sampai melengkung dan saling mendorong. Kemudian keduanya sama-sama tergetar dan melompat mundur dengan mengulum senyum mesra.
Sungguh di luar dugaan siapa pun juga bahwa akhir dari serangan maut keduanya itu bisa saling berbenturan di tengah jalan. Kemungkinan terjadinya peristiwa ini sungguh sangat kecil. Namun pada saat yang menentukan antara hidup dan mati mereka berdua ternyata bisa membenturkan ujung pedang masing-masing dengan sedemikian tepat.
Orang lain tidak tahu bahwa keduanya telah berlatih membenturkan ujung pedang masing-masing tanpa kenal lelah dan entah sudah berlangsung berapa ribu kali latihan mereka itu sehingga gerakan yang sulit dan berbahaya pun berhasil mereka mainkan. Ketika permulaan memainkan jurus ini keduanya harus dalam posisi dan kekuatan yang tepat. Begitu kedua ujung pedang mereka beradu, seketika batang kedua senjata itu pun melengkung terdorong oleh tenaga masing-masing. Ilmu pedang semacam ini tidak lazim digunakan untuk menyerang musuh, namun Linghu Chong dan Yue Lingshan merasa tertarik dan terhibur jika bisa melakukannya dengan baik meski sulit luar biasa. Tidak hanya itu, mereka juga berlatih adu ujung pedang sambil melayang di udara.
Usai menciptakan jurus aneh ini Yue Lingshan bertanya, ”Jurus ini kita beri nama apa?”
Waktu itu Linghu Chong balik bertanya, ”Menurutmu bagaimana?”
Yue Lingshan menjawab, ”Bagaimana kalau ’Kehancuran Besar’?”
Linghu Chong menanggapi, ”Kehancuran Besar? Rasanya ini seolah di antara kita terjadi perselisihan yang tidak bisa diperbaiki. Bagaimana kalau diberi nama Jurus Kau Hidup Aku Mati?”
Yue Lingshan keberatan, ”Tidak, aku tidak setuju. Tidak seorang pun yang mati dalam jurus pedang ini. Lebih baik diberi nama Jurus Sehidup Semati.”
Linghu Chong bertepuk tangan dan memuji nama usulan Yue Lingshan itu. Sebaliknya, Yue Lingshan seketika malu dan menjatuhkan pedangnya lantas berlari pulang.
Kini di Puncak Songshan para hadirin melihat mereka berdua berada di ambang kematian namun kemudian lolos dari keadaan yang sangat genting. Keringat dingin mengucur di tubuh para hadirin sampai-sampai mereka lupa untuk bersorak seperti biasa. Tempo hari di Biara Shaolin ketika terjadi pertandingan antara Linghu Chong melawan sang guru, waktu itu Yue Buqun memang memainkan jurus-jurus ilmu Pedang Chong Ling, namun tidak sampai menggunakan Jurus Sehidup Semati ini. Itulah sebabnya para tokoh seperti Mahabiksu Fangzheng, Pendeta Chongxu, Zuo Lengchan, dan yang lain ikut terkejut menyaksikannya.
Sementara itu Ren Yingying merasa khawatir dan tidak nyaman melihat pemandangan di tengah gelanggang itu. Ia melihat Linghu Chong dan Yue Lingshan saling tersenyum mesra saat berjauhan ataupun saat berdekatan. Dari sikap dan gerak tubuh mereka, tampaknya masing-masing bagaikan sedang terkurung dalam suasana hangat dan sepoi-sepoi suasana musim semi.
Keduanya kini mengangkat pedang dan bertarung kembali. Ketika menciptakan ilmu pedang itu dahulu mereka sama-sama sedang dimabuk asmara. Itulah sebabnya jurus-jurus ciptaan mereka pun lebih banyak bersifat suka cita, bukan gerakan membunuh. Sekarang dalam pertandingan ini tanpa disadari kenangan lama pun terulang kembali. Pedang mereka bergerak lemah gemulai, alis mereka sama-sama terangkat, dan kenangan terpendam ketika masih bersama dulu pun meledak kembali. ”Pertandingan pedang” di atas Puncak Songshan ini lebih pantas disebut ”menari dengan pedang”, atau tepatnya, ”tarian pedang”. Akan tetapi tarian pedang ini bukan untuk menghibur penonton namun untuk menghibur diri sendiri.
Tiba-tiba di tengah para penonton terdengar seseorang bersuara dingin, ”Hei!”.
Kontan saja Yue Lingshan terkejut sebab suara itu tidak lain adalah suara Lin Pingzhi, suaminya. Seketika ia pun berpikir, ”Pertempuranku melawan Kakak Pertama memang tidak wajar.”
Segera ia pun mengangkat pedangnya dan menyerang dengan kekuatan penuh. Ternyata yang dimainkan kali ini adalah salah satu jurus indah dari Perguruan Huashan yang tergabung dalam rumpun Jurus Pedang Perawan Kemala.
Linghu Chong juga mendengar suara Lin Pingzhi tadi dan gara-gara itu Yue Lingshan mengganti permainannya menjadi melancarkan jurus serangan tanpa ampun. Kali ini si nyonya muda sudah tidak lagi memperlihatkan sikap mesra sebagaimana saat menggunakan Jurus Pedang Chong Ling tadi.
Seketika hati Linghu Chong menjadi pilu. Segala macam kenangan masa lalu lantas terbayang-bayang di benaknya. Saat itu ia terkenang ketika menjalani hukuman di Tebing Perenungan, setiap hari sang adik kecil selalu mengantarkan makanan untuknya. Pernah juga Yue Lingshan bermalam bersamanya di dalam gua. Setelah kejadian itu si nona jatuh sakit dan entah kenapa perhatiannya berpindah kepada Lin Pingzhi. Sejak itu hubungan Linghu Chong dengan Yue Lingshan pun menjadi renggang karena sering terjadi kesalahpahaman di antara mereka.
Linghu Chong juga teringat pada hari berikutnya Yue Lingshan datang lagi ke puncak setelah berlatih Jurus Pedang Perawan Kemala dari ibunya. Di Puncak Huashan itu Yue Lingshan menguji kehebatan ilmu pedang barunya dengan melawan Linghu Chong. Namun saat itu Linghu Chong sedang dirasuki rasa cemburu sehingga tanpa sengaja....
Seketika Linghu Chong tersentak dari lamunannya karena pedang Yue Lingshan ternyata telah berada dua senti di depan dadanya. Tanpa pikir panjang Linghu Chong segera menyentil batang pedang Yue Lingshan hingga terlepas dari tangan si nyonya muda. Pedang itu terlempar jauh ke atas.
”Oh, tidak!” seru Linghu Chong menyesal melihat raut muka Yue Lingshan yang bersemu merah, dengan mulut ingin tersenyum tapi tidak bisa tersenyum. Seketika Linghu Chong kembali teringat pada kejadian saat Yue Lingshan menguji Jurus Pedang Perawan Kemala di Tebing Perenungan dulu. Saat itu Linghu Chong yang sedang cemburu kepada Lin Pingzhi tanpa sengaja menyentil pedang Yue Lingshan sehingga jatuh ke dalam jurang. Padahal pedang tersebut adalah pedang pusaka bernama Pedang Telaga Hijau hadiah ulang tahun dari sang ayah. Sejak kejadian itulah tercipta dinding pemisah di antara mereka berdua. Tak disangka kejadian yang sama kini terulang kembali.
Kalau dulu saja Linghu Chong dapat menyentil pedang Yue Lingshan hingga jatuh terpental, apalagi sekarang ini tenaga dalamnya sudah jauh lebih tinggi. Maka pedang Yue Lingshan yang terlempar ke udara tadi sampai sekian lamanya baru terlihat jatuh ke bawah.
Dalam keadaan serbasalah itu Linghu Chong berpikir, ”Sebenarnya aku masuk ke dalam gelanggang hanya untuk menyenangkan hati Adik Kecil. Lebih-lebih saat ini dia sudah mau bersikap ramah kembali padaku. Tapi mengapa, aku malah membuat pedangnya terlempar dan mempermalukan dirinya di hadapan banyak orang? Sungguh tidak patut aku membalas keramahannya dengan cara seperti ini.”
Sekilas pedang Yue Lingshan tampak meluncur ke bawah. Tanpa pikir panjang Linghu Chong mengajukan diri sambil berseru, “Jurus pedang Henshan yang bagus!” Usai berteriak demikian ia belagak seolah hendak menghindar, namun sebenarnya sengaja mengajukan diri menyambut pedang yang meluncur jatuh itu. Maka sekejap kemudian, pedang tersebut langsung menancap di belakang bahu kanan Linghu Chong. Kontan tubuhnya tersungkur ke depan seakan-akan terpaku di tanah oleh pedang Yue Lingshan.
Kejadian ini benar-benar terlalu cepat sehingga para penonton menjerit kaget dan ternganga melihatnya.
Yue Lingshan juga terkejut dan berseru, “Ka… Kakak Pertama, kenapa….” segera dilihatnya seorang laki-laki berewok berlari mendekati dan membangunkan Linghu Chong. Pedang yang menancap di pundak belakangnya itu dicabut, lalu ia pun memapah tubuh Linghu Chong ke tepi arena.
Darah segar mengucur deras dari luka di bahu Linghu Chong itu. Belasan murid Henshan menyongsong maju pula untuk memberi pertolongan kepada sang ketua. Beberapa di antara mereka segera menaburkan obat di tempat luka. Yue Lingshan yang merasa khawatir bermaksud mendekat untuk melihat. Tapi mendadak sinar pedang berkelebat mengarah kepadanya. Disusul kemudian terdengar seorang biksuni berseru sambil merintanginya, “Perempuan keji!” Yue Lingshan tersentak dan mundur beberapa langkah. Seketika ia merasa serbasalah dan tidak tahu apa yang harus diperbuat lagi.
Pada saat itulah terdengar Yue Buqun tertawa nyaring dan berseru, “Shan-er, kau telah menggunakan jurus pedang Perguruan Taishan, Hengshan, dan Henshan untuk mengalahkan ketua mereka masing-masing. Sungguh pekerjaan yang tidak ringan.”
Bahwasanya jurus terakhir yang digunakan Yue Lingshan itu apakah termasuk ilmu pedang Henshan atau bukan, sebenarnya para penonton juga tidak tahu dengan jelas. Mereka hanya teringat kedua orang yang bertanding tadi sama-sama memainkan tarian pedang yang indah namun tak istimewa itu. Kemudian mereka melihat pedang Yue Lingshan terlempar ke udara dan jatuh kembali mengenai pundak Linghu Chong. Kenyataan yang pasti, ialah Linghu Chong terluka oleh pedang Yue Lingshan. Mengenai luka itu akibat jurus Perguruan Henshan atau bukan, tiada yang tahu pasti sehingga tiada seorang pun yang berani menanggapi ucapan Yue Buqun tersebut.
Dengan perasaan bingung Yue Lingshan memungut kembali pedangnya yang berlumuran darah itu. Seketika hatinya menjadi khawatir dan bertanya-tanya, ”Bagaimana keadaannya? Selama dia tidak mati, aku akan… aku akan…”
Pada saat itu terdengar suara seorang yang berseru lantang, “Tuan Yue tidak cuma menguasai ilmu pedang Perguruan Huashan sendiri, bahkan ilmu pedang Taishan, Hengshan, dan Henshan juga dikuasainya dengan sempurna. Sungguh sangat mengagumkan dan patut dipuji. Maka itu, jabatan ketua Partai Lima Gunung rasanya sangat tepat untuk diduduki Tuan Yue dan tiada pilihan lain lagi.” Orang yang berbicara ini ternyata Xie Feng, ketua Partai Pengemis. Baik dirinya ataupun Mahabiksu Fangzheng dan Pendeta Chongxu sama-sama berpikiran bahwa kekacauan di dunia persilatan akan terjadi karena keberhasilan Zuo Lengchan melebur lima perguruan pedang. Maka, ia pun berusaha ikut serta menggagalkan ambisi Zuo Lengchan itu melalui kata-kata dengan cara menaikkan Yue Buqun si Pedang Budiman ke atas jabatan ketua.
Sejak ratusan tahun yang lalu Partai Pengemis memiliki pengaruh besar di dunia persilatan. Tentu saja apa yang diucapkan Xie Feng ini tidak sembarangan orang berani menanggapinya.
Tiba-tiba terdengar seseorang menjawab dengan nada dingin, “Nona Yue ternyata mahir ilmu pedang dari berbagai aliran, sungguh pantas dipuji. Namun kalau dapat mengalahkan diriku dengan ilmu pedang Perguruan Songshan, maka tanpa syarat aku pun akan mendukung Tuan Yue sebagai ketua Partai Lima Gunung.” Orang yang berbicara ini tidak lain adalah Zuo Lengchan. Sambil berbicara ia terus maju ke tengah gelanggang. Sekali tangan kirinya menepuk, kontan pedangnya pun meloncat keluar dari sarungnya. Tampak sinar pedang berkelebat ke udara dan secepat kilat gagang pedang pun tertangkap oleh tangan kanan Zuo Lengchan.
Kejadian ini sungguh indah dilihat mata. Ia bisa melemparkan pedangnya keluar dari sarungnya hanya dengan sekali tepuk menggunakan tangan kiri. Keahlian seperti ini sungguh jarang terjadi dan jarang terdengar pula. Melihat itu serentak murid-murid Songshan bertepuk tangan memuji sang ketua. Tidak hanya itu, sebagian para hadirin juga ikut bersorak memuji.
Pada saat itu terdengar Yue Lingshan menjawab, “Aku… aku akan main tiga belas jurus saja. Jika dalam tiga belas jurus tidak bisa mengalahkan Paman Zuo….”
“Kau bocah perempuan berani menerima tantanganku? Berani sekali! Bahkan kau berani membatasi dalam tiga belas jurus saja, kau pikir diriku ini siapa?” sahut Zuo Lengchan marah. ”Bagus sekali, kalau dalam tiga belas jurus kau tidak bisa mengalahkanku lantas bagaimana?”
“Bgaimana mungkin aku bisa menandingi Paman Zuo?” ujar Yue Lingshan. “Aku hanya mendapat pelajaran dari Ayah mengenai jurus pedang Perguruan Songshan sebanyak tiga belas jurus saja. Paman Zuo bisa membuktikan ini kalau tidak percaya.”
Zuo Lengchan mendengus tanpa menjawab, ”Huh!”
Yue Lingshan berkata lagi, “Ayah berkata, meski ketiga belas jurus pedang Songshan yang telah kupelajari ini merupakan jurus-jurus paling hebat dalam Perguruan Songshan, tapi dalam pertandingan nanti mungkin baru satu jurus saja pedangku sudah tergetar dan terlempar dari pegangan akibat kehebatan Paman Zuo. Bagaimana mungkin aku bisa memainkan jurus kedua?”
Kembali Zuo Lengchan mendengus tanpa menanggapi.
Ketika pertama kali berbicara tadi suara Yue Lingshan terdengar gemetar. Apakah itu karena ia sedang kehabisan tenaga, ataukah karena sedang berhadapan dengan seorang pendekar besar di dunia persilatan, tiada yang tahu. Namun kini ucapannya terdengar lebih tenang. ”Aku lantas berkata kepada Ayah: ’Sekalipun Paman Zuo adalah jago nomor satu di Perguruan Songshan, tapi belum tentu menjadi yang nomor satu di dalam Serikat Pedang Lima Gunung kita. Bagaimanapun juga ia tidak mahir memainkan ilmu pedang dari kelima perguruan kita seperti Ayah.’ – Namun Ayah dengan rendah hati menjawab: ’Dikatakan mahir juga tidak. Yang aku tahu hanya dasar-dasar ilmu pedang kelima perguruan saja. Jika kau tidak percaya padaku boleh saja untukmu mencoba bertanding melawan ilmu pedang Paman Zuo-mu yang lihai itu. Bila kau sanggup bertarung tiga jurus saja melawannya, maka kau memang anak perempuanku yang tersayang.”
Zuo Lengchan tertawa dingin dan berkata, “Hm, jika dalam tiga jurus kau ternyata dapat mengalahkan aku, tentu kau lebih disayang lagi oleh ayahmu bukan?”
“Ilmu pedang Paman Zuo mahasakti dan jarang ada di sepanjang sejarah Perguruan Songshan, sementara aku hanya belajar sedikit ilmu pedang Perguruan Songshan. Jadi, mana berani aku bermimpi mengalahkan Paman Zuo segala?” kata Yue Lingshan. “Ayah berkata kalau aku bisa bertahan dalam tiga jurus saja sudah termasuk hebat. Tapi aku berharap bisa bertahan sampai tiga belas jurus. Entah harapanku ini bisa terkabul atau tidak?”
Hati Zuo Lengchan semakin kesal. Ia berpikir, “Jangankan tiga belas jurus, jika kau mampu menahan tiga jurus seranganku saja sudah terhitung hebat dan aku tentu tidak punya muka lagi berkecimpung di dunia persilatan.”
Tanpa berkata lagi ia segera memegang ujung pedangnya menggunakan tiga jari tangan kiri dengan gagang menghadap ke depan, sementara tangan kanannya bebas lepas. “Ayo mulai!” serunya kemudian.
Cara Zuo Lengchan memegang senjata ini benar-benar menggemparkan para penonton. Memegang pedang dengan tangan kiri saja sudah luar biasa, apalagi hanya memegang ujungnya menggunakan tiga jari dengan gagang menghadap musuh. Dibandingkan dengan pertarungan tangan kosong melawan senjata, memegang ujung pedang dengan gagang menghadap musuh jelas lebih sulit. Salah gerak sedikit saja bisa-bisa jarinya terpotong oleh pedang sendiri.
Jelas-jelas Zuo Lengchan marah dan ingin merendahkan Yue Lingshan di hadapan umum dengan cara seperti ini. Disamping itu cara ini juga untuk menimbulkan kekaguman banyak orang. Melihat sikap sang lawan yang seperti itu, mau tidak mau Yue Lingshan merasa gentar juga. Ia berpikir, ”Ilmu silat macam apa yang ia gunakan? Ayah tidak pernah mengajarkan ini padaku. Tapi, urusan sudah sejauh ini, untuk apa aku harus takut?”
Sekilas Yue Lingshan melirik ke arah rombongan Perguruan Henshan. Para biksuni terlihat masih sibuk dan mengerumuni Linghu Chong, namun tidak terdengar suara tangisan, sehingga dapat diduga nyawa sang ketua dapat diselamatkan meskipun lukanya cukup parah. Seketika Yue Lingshan pun merasa agak lega. Segera ia mengangkat pedang dan membungkuk dengan Jurus Berlaksa Gunung Menghadap Pusat, yakni salah satu jurus pedang Perguruan Songshan yang ampuh.
Jurus pembukaan ini mengandung arti penghormatan pula. Melihat itu murid-murid Perguruan Songshan menjadi gempar namun juga merasa senang. Sementara itu Zuo Lengchan mengangguk perlahan dan berkata di dalam hati, “Ternyata kau bisa juga memainkan jurus ini? Mengingat sikap hormatmu ini biarlah aku takkan membuatmu malu di depan banyak orang.”
Setelah Yue Lingshan memainkan jurus penghormatan, segera pedangnya berkelebat seperti pelangi berwarna putih menusuk ke arah Zuo Lengchan. Jurus ini terlihat sangat agung, dan juga mengandung intisari ilmu pedang Perguruan Songshan. Meskipun Zuo Lengchan menguasai semua jenis ilmu pedang Songshan yang berjumlah tujuh belas rumpun, namun ia belum pernah melihat jurus yang dipakai Yue Lingshan sebelumnya. Maka dalam hati ia berpikir, ”Jurus apa ini? Dari tujuh belas rumpun ilmu pedang Songshan rasanya jurus ini lebih hebat. Ini sungguh aneh.”
Tidak hanya sebagai guru besar di Songshan, pada zaman sekarang ini Zuo Lengchan dapat dikatakan sebagai sarjana dunia persilatan. Maka begitu melihat jurus perguruan sendiri yang agung dan misterius dimainkan oleh lawan, segera hatinya penasaran dan ingin melihat sampai tuntas. Dilihatnya serangan Yue Lingshan telah tiba namun kekuatan tenaga dalam yang menyertainya terlalu lemah. Maka jika pedang nyonya muda itu semakin mendekat, ia tinggal menyentil satu kali dan pedang tersebut pasti langsung jatuh. Namun cara ini membuatnya tidak bisa melihat ilmu pedang lawan sampai selesai.
Sementara itu begitu serangannya semakin dekat dengan dada lawan tiba-tiba Yue Lingshan menarik pedangnya, memiringkan tubuhnya, dan memutar senjatanya, serta menebas bahu kiri Zuo Lengchan. Serangan ini mirip Jurus Orang Bijak Sepanjang Zaman milik Perguruan Songshan, namun tidak secepat itu. Serangan ini juga mirip Jurus Burung Pekakak Mengapung, namun terlihat lebih ringan. Serangan ini juga mirip Jurus Sumur Kemala Telaga Surga, namun juga tidak seindah itu. Pada intinya, jurus yang digunakan Yue Lingshan mengandung intisari ilmu pedang Songshan namun berbeda gerakan-gerakannya.
Zuo Lengchan memiliki pandangan tajam dan juga telah mempelajari semua ilmu silat Perguruan Songshan secara mendalam sejak masih kecil. Rincian gerakan setiap jurus bahkan sampai bagian paling kecil sekalipun tercatat dalam ingatannya. Kini begitu melihat jurus yang dimainkan Yue Lingshan begitu aneh dan lain daripada yang lain seketika hatinya pun bersuka cita. Zuo Lengchan merasa seperti melihat harta karun jatuh dari langit.
Dahulu kala ketika Serikat Pedang Lima Gunung bertempur melawan sepuluh gembong aliran sesat Partai Mentari dan Bulan di Gunung Huashan, sejumlah ahli pedang tewas dalam peristiwa itu bersama ilmu pedang andalan mereka yang ikut punah tanpa pewaris. Pada masa kepemimpinannya, Zuo Lengchan sibuk mengumpulkan dan mencatat berbagai jenis jurus pedang dari para sesepuh yang tersisa demi penyelamatan ilmu pedang Perguruan Songshan. Beberapa puluh tahun yang lalu di Wucunjing ia memperbaiki dan mengelompokkan semua ilmu pedang Songshan menjadi tujuh belas rumpun. Meskipun ia sama sekali tidak mencipta satu jurus baru sekalipun, namun jasa-jasanya terhadap Perguruan Songshan sungguh luar biasa.
Kini, melihat Yue Lingshan menggunakan jurus pedang Songshan yang ternyata tidak terdapat dalam catatannya dan sepertinya memiliki kehebatan lebih mendalam tentu saja membuat hati Zuo Lengchan dipenuhi rasa gembira. Jika ilmu pedang ini dimainkan oleh Ren Woxing atau Linghu Chong, atau mungkin Mahabiksu Fangzheng dan Pendeta Chongxu, tentu ia tidak memiliki kesempatan untuk menilai dan mengikuti semua gerakan lawan. Namun karena tenaga dalam Yue Lingshan masih jauh lebih rendah dibandingkan dirinya, pada detik-detik berbahaya bila perlu ia masih sanggup menggetar jatuh pedang dari tangan lawan. Oleh karena itu, ia tidak perlu merasa khawatir dan tetap dapat memusatkan perhatiannya untuk mengikuti setiap gerak serangan Yue Lingshan.
Para penonton merasa heran menyaksikan cara bertanding mereka itu. Setiap saat Yue Lingshan selalu menarik kembali serangannya sebelum mencapai sasaran, seperti sengaja mengalah atau mungkin merasa gentar pula. Sebaliknya, Zuo Lengchan seolah tidak peduli terhadap serangan yang datang. Raut mukanya sebentar heran sebentar senang seperti orang linglung. Pertandingan seperti ini benar-benar jarang terjadi. Hanya orang-orang Songshan yang memperhatikan pertarungan ini dengan seksama, seperti takut tertinggal sekejap pun.
Yue Lingshan mempelajari jurus-jurus pedang ini dari ukiran di dinding gua Puncak Huashan yang setidaknya berjumlah lebih dari enam puluh jurus. Setelah Yue Buqun mengamatinya dengan seksama, ternyata ada sekitar empat puluh jurus yang sudah sering dipakai Zuo Lengchan, sementara ada tiga belas jurus yang masih asing baginya. Namun demikian, meski mengandung intisari yang mendalam, namun Yue Lingshan tidak mampu mengembangkannya dengan baik sehingga gayanya tetap begitu-begitu saja. Sebaliknya, Zuo Lengchan dengan sangat cerdas merangkai gerakan-gerakan lawannya itu di dalam benaknya, dan membayangkan itu semua bisa digunakan dalam waktu yang bersamaan.
Yue Lingshan sendiri hanya memainkan tiga belas jurus, dan setelah berakhir ia segera mengulangi jurus pertama kembali. Melihat ini pikiran Zuo Lengchan tergerak, ”Apakah aku harus mengamati serangannya lagi, ataukah harus menjatuhkan pedangnya sekarang juga?” Ia benar-benar berada dalam pilihan yang sulit. Dalam sekejap bermacam-macam pikiran terlintas dalam benaknya, “Ilmu pedang Songshan yang dimainkannya ini sangat aneh dan bagus. Mungkin setelah ini tiada kesempatan lagi untuk melihatnya. Untuk membunuh anak perempuan ini terlalu mudah, namun mendapatkan ilmu pedangnya, inilah yang sulit. Rasanya juga tidak mungkin aku meminta-minta kepada Yue Buqun untuk memperlihatkan Ilmu pedang Songshan ini padaku. Sebaliknya kalau kubiarkan dia mengulangi kembali permainannya malah menunjukkan ketidakmampuanku melawan seorang anak perempuan. Hm, akan ke mana wajahku ini harus kutaruh? Ah, mungkin sudah lebih dari tiga belas jurus yang berlalu.”
Begitu teringat pada ”tiga belas jurus”, seketika ambisinya menjadi pemimpin Partai Lima Gunung mengalahkan pikiran-pikiran yang lain. Segera ia memutar pedangnya ke atas, dan terdengarlah suara benturan nyaring. Rupanya pedang Yue Lingshan telah tergetar patah menjadi beberapa bagian dan jatuh ke tanah.
Yue Lingshan melompat mundur dan berseru nyaring, “Paman Zuo, sudah berapa jurus ilmu pedang Songshan yang kumainkan tadi?”
Zuo Lengchan mencoba mengingat-ingat, lalu menjawab, “Benar, sudah kau mainkan tiga belas jurus. Sungguh hebat.”
Yue Lingshan memberi hormat lalu berkata, “Terima kasih atas kemurahan hati Paman Zuo sehingga keponakanmu ini mampu memainkan tiga belas jurus ilmu pedang Perguruan Songshan dengan lancar.”
Para penonton menghela napas lega mengagumi kehebatan ilmu silat Zuo Lengchan yang mampu menghancurkan pedang di tangan Yue Lingshan. Namun lawannya itu ternyata sanggup pula memainkan ketiga belas jurusnya sesuai tantangan awal. Tentu saja para penonton juga memuji kehebatan Yue Lingshan yang bisa melewati tiga jurus, bahkan sampai tiga belas jurus. Namun sebagian ada juga yang berpikiran liar melihat sikap Zuo Lengchan yang aneh dan linglung tadi menduga sang ketua Songshan sedang sinting karena terpesona oleh kecantikan musuhnya.
Segera seorang tua kurus dari Perguruan Songshan tampil ke muka. Ia tidak lain adalah Lu Bai si Tapak Bangau yang kemudian berseru, “Ilmu sakti Ketua Zuo telah kita saksikan bersama, bahkan Beliau sangat bijaksana dan bermurah hati. Sebaliknya, putri keluarga Yue ini baru memahami sedikit ilmu pedang Perguruan Songshan sudah berani omong besar dan pamer di hadapan Ketua Zuo. Namun begitu, akhirnya dia takluk juga. Ini sudah cukup membuktikan bahwa ilmu silat mengutamakan kemahiran khusus. Asalkan terlatih dengan sempurna, ilmu silat dari aliran mana pun dapat menjagoi dunia persilatan….”
Sudah tentu para penonton sepakat dengan ucapan orang tua ini, karena memang jarang ada orang yang mahir bermacam-macam ilmu silat kecuali ilmu silat dari perguruannya sendiri.
Lu Bai pun melanjutkan, “Rupanya Nona Yue ini sungguh pintar. Saat perguruan lain berlatih pedang, entah bagaimana ia berhasil mengintip dan mencuri pandang. Kemudian dia berani sesumbar di sini, bahwa ia telah mahir semua ilmu silat Serikat Pedang Lima Gunung. Padahal ilmu pedang dari aliran masing-masing mempunyai intisari sendiri-sendiri. Kalau hanya paham sedikit kulit luarnya saja mana bisa dikatakan sudah mahir?”
Kembali para penonton mengangguk setuju dan sama-sama berpikir bahwa Yue Buqun harus bertanggung jawab karena telah melanggar pantangan besar kaum persilatan, yaitu mengintip dan mencuri belajar ilmu silat golongan lain.
Ucapan Lu Bai ini memang ada benarnya. Tuan Besar Mo dan Linghu Chong telah kalah karena mereka memang mengalah. Sementara itu Yuyinzi dan Yuqingzi kalah karena mereka terlalu meremehkan Yue Lingshan sehingga lengah dan kurang persiapan. Melihat sebagian besar hadirin mendukung ucapannya, Lu Bai kembali berkata, “Maka dari itu, tentang jabatan ketua Partai Lima Gunung ini aku rasa tiada pilihan lain kecuali Ketua Zuo yang pantas mendudukinya. Dari sini sudah terbukti bahwa mendalami ilmu silat dari satu aliran secara sempurna jelas lebih baik daripada mencuri bermacam-macam ilmu silat orang lain secara tidak sah.” Kata-kata terakhir itu jelas ditujukan kepada Yue Buqun, sehingga ratusan murid Songshan lainnya serentak bersorak membenarkan.
“Nah, siapa lagi di antara para anggota Partai Lima Gunung yang merasa kepandaiannya melebihi Ketua Zuo, boleh maju untuk mengukur kekuatan masing-masing,” kata orang tua itu pula. Meski ia mengulangi lagi tantangannya, tetap saja tiada jawaban.
Sementara itu Enam Dewa Lembah Persik yang pada awal tadi banyak mengoceh, saat itu hanya bisa terdiam dan saling pandang karena Ren Yingying sedang sibuk merawat luka Linghu Chong bersama murid-murid Henshan. Oleh karena itu sang putri suci tidak sempat menyalurkan pikirannya kepada Enam Dewa Lembah Persik untuk adu mulut melawan pihak Songshan.
Kemudian terdengar Ding Mian si Tapak Mengguncang Menara ikut bicara, “Kalau tidak ada seorang pun yang berani menantang Ketua Zuo, maka dengan sendirinya kita menyetujui Ketua Zuo menjabat sebagai ketua Partai Lima Gunung. Tapi entah bagaimana pendapat Beliau?”
Zuo Lengchan menjawab dengan gaya pura-pura menolak, “Ah, masih banyak tokoh-tokoh Partai Lima Gunung yang lebih baik. Aku sendiri merasa tidak sanggup menerima jabatan seberat ini.”
Adik seperguruannya yang lain, yaitu Tang Ying’e menyahut, “Menjadi ketua Partai Lima Gunung memang tugas yang sangat berat dan penuh tanggung jawab. Namun bagaimanapun juga hanya Ketua Zuo yang pantas memimpin kita semua menuju kejayaan kaum lurus bersih. Oleh karena itu, kami memohon sudilah kiranya Ketua Zuo naik ke atas panggung untuk dilantik sebagai ketua Partai Lima Gunung.”
Maka bergemuruhlah suara genderang dan tambur disertai petasan yang riuh. Rupanya semua ini telah dipersiapkan sebelumnya oleh murid-murid Songshan. Menyusul kemudian terdengar teriakan orang-orang Songshan bersorak-sorai, “Silakan Ketua Zuo naik panggung, silakan naik panggung!”
Tanpa bicara lagi Zuo Lengchan lantas melompat ke atas Panggung Pemujaan. Saat itu matahari sudah hampir tenggelam di balik gunung. Sinarnya yang kuning kemerah-merahan membuat jubah Zuo Lengchan yang berwarna kuning keemasan tampak berkilauan menambah besar wibawa ketua Perguruan Songshan tersebut. Lalu dengan memberi hormat ia berkata kepada para hadirin di bawah panggung, “Atas penghargaan para kawan sekalian, akan terlihat mementingkan diri sendiri jika aku menolak tanggung jawab yang berat ini.”
Mendengar itu ratusan orang Songshan serentak bertepuk tangan dan memberi pujian.
Namun tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berseru, “Paman Zuo, kau memang telah mematahkan pedangku. Tapi apakah dengan demikian kau sudah pantas menjadi ketua Partai Lima Gunung?” Yang berbicara ini tidak lain adalah Yue Lingshan.
Zuo Lengchan menjawab, “Bukankah semua orang di sini menyaksikan bahwa kita bertanding pedang untuk merebut kedudukan? Apabila Nona Yue yang berhasil mematahkan pedangku, dengan sendirinya kita pun setuju mengangkat Nona Yue sebagai ketua Partai Lima Gunung.”
Yue Lingshan menjawab, “Untuk mengalahkan Paman Zuo sudah tentu aku tidak mampu. Tapi di antara jago-jago Partai Lima Gunung kurasa masih cukup banyak orang yang dapat mengalahkan Paman Zuo.”
Padahal di antara tokoh-tokoh Partai Lima Gunung, yang paling ditakuti Zuo Lengchan hanya Linghu Chong seorang. Sekarang ini Linghu Chong sudah terluka parah sehingga hati Zuo Lengchan merasa lega. Maka ia pun menjawab, “Kalau menurut penilaian Nona Yue, apakah jago-jago yang mampu mengalahkan aku barangkali ayahmu, ibumu, atau mungkin suamimu?”
Seketika orang-orang Songshan tertawa bergemuruh bernada mengejek.
Yue Lingshan menjawab tenang, “Suamiku hanya seorang angkatan muda, kepandaiannya mungkin masih setingkat di bawah Paman Zuo. Kalau ilmu pedang ibuku tentu sama kuat jika menandingi Paman Zuo. Mengenai ayahku, ilmu pedang Beliau sudah pasti lebih hebat daripada Paman Zuo.”
Kembali terdengar suara riuh ramai menggelegar dari rombongan orang-orang Songshan. Ada yang bersuit mengejek, namun ada pula yang berteriak-teriak marah.
(Bersambung)
Bagian 69 ; Bagian 70 ; Bagian 71