Bagian 1 - Peristiwa di Kedai Arak

Musim semi selalu menjadi saat yang paling indah dan menyenangkan dalam setiap tahun. Angin sepoi-sepoi berhembus meniup dedaunan pohon willow dan bunga-bunga liar, membuat udara terasa begitu segar bagi siapa saja yang menghirupnya.
Di tepi selatan jalan raya yang membentang dari gerbang barat Kota Fuzhou, Provinsi Fujian, berdiri sebuah gedung megah. Di depan gedung tersebut tampak menjulang dua batang tiang bendera berukuran tujuh meter. Pada masing-masing tiang terpasang bendera berwarna hijau yang berkibaran ditiup angin. Bendera sebelah kiri bersulamkan gambar seekor singa jantan dengan benang berwarna kuning. Sewaktu bendera melambai-lambai, gambar singa itu bagaikan hidup, seolah hendak melompat dan menerkam setiap saat. Tepat di atas kepala singa tersulam gambar dua ekor kelelawar dengan benang berwarna hitam, masing-masing sedang mengepakkan sayapnya. Di sisi lain, pada bendera yang terpasang di tiang sebelah kanan tampak bersulamkan benang warna hitam yang membentuk tulisan berbunyi “Biro Pengawalan Fuwei”. Melihat betapa kuat dan indahnya sulaman pada kedua bendera tersebut, jelas semuanya dikerjakan oleh kaum ahli yang ternama.
Pintu utama gedung tersebut berwarna merah dengan dihiasi paku-paku tembaga seukuran cawan teh. Diterpa sinar matahari, paku-paku tembaga itu tampak bercahaya dan berkilat-kilat. Di atas pintu terpasang sebuah papan nama berwarna hitam, bertuliskan huruf-huruf kuning emas yang juga berbunyi “Biro Pengawalan Fuwei”. Di bawah huruf-huruf besar tersebut melintang beberapa huruf yang lebih kecil, berbunyi “Kantor Pusat”.
Di dalam pintu utama – di sebelah kanan dan kiri lorong – terdapat dua baris bangku panjang. Tampak duduk di sana delapan orang laki-laki gagah berdandan rapi sedang asyik bersenda gurau.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara derap kaki beberapa ekor kuda. Kedelapan pria itu seketika bangkit dan berlari keluar. Dari pintu samping sebelah barat gedung muncul lima orang penunggang kuda yang serentak berhenti tepat di depan pintu utama tadi.
Kuda yang paling depan berwarna putih bersih, memakai pelana indah yang tepiannya dihiasi sepuhan perak. Penunggangnya seorang pemuda berpakaian mewah berusia sembilan belas tahun. Di atas bahu pemuda itu hinggap seekor elang pemburu. Sebilah pedang tergantung di pinggangnya, serta seperangkat busur dan anak panah tampak menghiasi punggungnya. Tangan kirinya juga memegang sebuah cambuk. Keempat penunggang yang lain berada di belakang, dan semuanya mengenakan seragam warna hitam.
“Tuan Muda hendak berburu lagi!” seru tiga di antara delapan laki-laki penjaga pintu hampir bersamaan.
Pemuda itu tersenyum sambil melecutkan cambuknya ke udara. Kuda putih tunggangannya langsung meringkik sambil mengangkat kedua kaki depan, kemudian melaju dengan kencang bagaikan terbang.
“Pengawal Shi,” sahut salah seorang penjaga pintu gerbang, “bagaimana kalau kami dibawakan seekor babi hutan untuk makan malam?”
“Jangan khawatir, akan kami sisakan ekornya saja untuk kalian,” jawab seorang penunggang kuda berusia empat puluhan. “Yang penting berjagalah dengan baik dan jangan mabuk sebelum kami pulang.”
Di tengah gelak tawa kedelapan penjaga pintu tersebut, Pengawal Shi dan ketiga rekannya segera memacu kuda masing-masing menyusul sang tuan muda.
Pemuda berkuda putih yang melaju paling depan tadi bernama Lin Pingzhi. Ia merupakan putra tunggal pemilik Biro Pengawalan Fuwei. Kuda putih yang dikendarainya berlari kencang bagaikan terbang. Hanya dalam waktu singkat saja keempat pengikutnya sudah tertinggal jauh di belakang. Adapun keempat pengikutnya itu adalah para pegawai biro, yang terdiri atas dua orang pengawal bermarga Shi dan Zheng, serta dua orang pengiring bermarga Bai dan Chen.
Begitu sampai di atas tanjakan bukit, Lin Pingzhi segera melepaskan elang pemburunya. Tidak lama kemudian sepasang kelinci berwarna coklat kekuningan sudah berlari-lari keluar dari dalam hutan karena dikejar elang tersebut. Dengan cepat Lin Pingzhi melepaskan anak panahnya. Seekor di antara kedua kelinci itu langsung roboh di tanah. Sewaktu hendak membidik lagi, kelinci yang lain ternyata sudah menghilang ke dalam semak-semak.
Pengawal Zheng dan yang lain baru saja tiba. Dengan tertawa ia memuji, “Sungguh hebat bidikan Tuan Muda!”
Tiba-tiba terdengar suara Pengiring Bai berseru dari dalam hutan sebelah kiri mereka, “Tuan Muda, lekas kemari! Di sini ada ayam hutan!”
Lin Pingzhi menjalankan kudanya menuju ke tempat itu dan melihat seekor ayam hutan berbulu indah melayang keluar dari balik semak pohon. Segera ia melepaskan panah namun meleset, sementara ayam itu justru melayang di atas kepalanya. Dengan cekatan pemuda itu melecutkan cambuknya ke atas, sehingga ayam tersebut langsung jatuh ke bawah dan bulunya yang berwarna-warni tampak bertebaran di udara.
Kelima orang Fuwei itu pun bergelak tawa. “Jangankan cuma seekor ayam hutan, sabetan cambuk Tuan Muda bahkan mampu menjatuhkan seekor rajawali,” ujar Pengawal Shi memuji.
Mereka berlima lantas menyusur kian kemari sampai ke tengah hutan. Demi untuk menyenangkan hati sang majikan muda, kedua pengawal dan kedua pengiring selalu mengusik setiap binatang yang mereka temui dan menggiringnya ke arah Lin Pingzhi. Padahal, sebenarnya mereka sendiri mampu membinasakan hewan-hewan tersebut. Tidak terasa, perburuan mereka itu sudah melewati empat jam. Tampak Lin Pingzhi telah mendapatkan tambahan dua ekor kelinci dan dua ekor ayam hutan lagi. Rupanya ia masih belum puas juga dan ingin memperoleh hasil yang lebih besar.
“Mari kita mencari lagi di depan sana, dan coba lihat apa yang bisa kita temukan,” ajak si pemuda.
Diam-diam Pengawal Shi berpikir kalau menuruti hasrat sang majikan muda, bisa jadi sampai hari gelap pun tidak akan berhenti. Tentu pada akhirnya para pengiring yang akan ditegur nyonya majikan. Maka itu, Pengawal Shi pun menyahut, “Hari sudah mendekati petang. Jalan di sini banyak batunya dan sukar dilewati. Bisa-bisa kuda putih terpeleset jatuh. Selagi hari masih terang lebih baik kita pulang sekarang saja. Bagaimana kalau besok kita berangkat lebih awal supaya bisa mendapatkan buruan yang lebih besar?”
Pengawal Shi hafal sifat sang majikan muda yang keras kepala dan sulit dibujuk, kecuali dengan menyampaikan kemungkinan bahwa si kuda putih akan mengalami celaka atau terluka. Lin Pingzhi memang sangat menyayangi hewan tunggangannya yang sangat indah bagaikan emas permata itu. Kuda tersebut merupakan pemberian kakeknya dari pihak ibu yang tinggal di Kota Luoyang ketika dirinya berulang tahun yang ketujuh belas.
Benar juga, Lin Pingzhi tampak tertegun sejenak kemudian menepuk leher kudanya sambil berkata, “Si Naga Putih sangat cerdik dan pintar. Justru kuda-kuda kalian itu yang perlu dikhawatirkan. Baiklah, kita pulang saja. Aku takut pantat Pengiring Chen akan pecah terbentur batu kalau kudanya terpeleset nanti.”
Sambil bergelak tawa, kelima orang itu memutar kuda masing-masing kembali ke arah semula. Lin Pingzhi melaju paling depan dan menempuh jalur berbeda dibandingkan sewaktu berangkat tadi. Kali ini ia membelokkan kudanya ke arah utara dan memacunya dengan kencang. Setelah melaju cukup lama dan merasa puas, ia lalu memperlambat langkah kudanya perlahan-lahan. Tampak di tepi jalan terpancang panji sebuah kedai penjual arak.
“Tuan Muda!” seru Pengawal Zheng yang baru menyusul bersama ketiga lainnya. “Bagaimana kalau kita minum dulu barang secawan di situ? Daging kelinci dan ayam hutan yang kita bawa sangat cocok sebagai teman minum arak.”
Lin Pingzhi tertawa dan berkata, “Sebenarnya kalian tidak sungguh-sungguh menemani aku berburu, tetapi hanya ingin keluar untuk minum arak. Kalau sekarang tidak kutraktir minum, tentu besok kalian akan malas jika kuajak keluar lagi.” Usai berkata demikian pemuda itu mendahului ke depan. Begitu tiba di depan kedai arak, ia langsung melompat turun dari kudanya dan memasuki kedai tersebut.
Biasanya, si pemilik kedai yang bernama Lao Cai segera muncul keluar untuk menambatkan kuda pemuda itu sambil mengucapkan kata-kata sanjung puji, misalnya, “Wah, wah, coba lihat! Tuan Muda baru saja berburu. Hasil buruannya begitu banyak. Di dunia ini jarang ada yang bisa menandingi kepandaian Tuan Muda.”
Namun hari ini sungguh berbeda. Lao Cai tidak terlihat muncul, suasana kedai juga tampak sunyi senyap. Yang terlihat hanya seorang gadis muda berbaju hijau dengan dua konde di atas kepalanya sedang duduk di samping anglo. Sepertinya ia sibuk memasak arak sampai-sampai tidak mengangkat kepala sedikit pun untuk memandang ke arah Lin Pingzhi dan rombongan.
“Kau di mana, Lao Cai?” seru Pengawal Zheng. “Lekaslah keluar menuntun kuda Tuan Muda!”
Pengiring Bai dan Pengiring Chen segera menarik bangku panjang di samping salah satu meja, kemudian membersihkan debu di atasnya menggunakan lengan baju masing-masing. Setelah itu keduanya pun mempersilakan Lin Pingzhi duduk. Pengawal Shi dan Pengawal Zheng mendampingi sang tuan muda, sementara kedua pengiring mengambil tempat duduk pada meja yang lain.
Dari dalam terdengar suara orang terbatuk-batuk, disusul kemudian muncul seorang tua berambut putih memberi sambutan, “Selamat datang, Tuan-tuan! Apakah Anda sekalian mau minum arak?” Dilihat dari logatnya sepertinya ia berasal dari daerah utara.
“Memangnya kita mau minum teh? Tentu saja kita mau minum arak. Lekas bawakan kami tiga poci arak Bambu Hijau.” sahut Pengawal Zheng. “Ke mana perginya Lao Cai? Apa kedai ini sudah berganti pemilik?”
“Baik, baik, Tuan! Wan-er, lekas bawakan tiga poci arak Bambu Hijau,” sahut orang tua itu sekaligus memerintah si gadis baju hijau. “Sekadar perkenalan, saya bermarga Sa. Sebenarnya saya lahir di kota ini, namun sejak kecil sudah ikut berkelana ke daerah lain untuk berdagang. Anak dan menantu sudah meninggal semua. Akhirnya, bersama cucu perempuan saya tadi, saya memutuskan pulang ke kampung halaman sini. Siapa sangka selama kurang lebih empat puluh tahun meninggalkan kampung halaman, seluruh sanak keluarga sudah tak tersisa seorang pun. Ada yang meninggal, ada pula yang pindah ke daerah lain. Untunglah saya bertemu Lao Cai yang merasa jenuh meneruskan usahanya. Ia menjual kedai arak ini kepada kami dengan harga tiga puluh tael perak. Senang rasanya bisa pulang ke tanah kelahiran dan mendengar logat daerah ini. Namun, malu juga rasanya sudah lupa bahasa kampung sendiri.”
Sementara itu, si gadis berbaju hijau yang dipanggil Wan-er tadi telah datang membawa sebuah nampan kayu dengan kepala menunduk. Dipindahkannya cawan, sumpit, dan tiga poci arak pada nampan itu ke atas meja Lin Pingzhi. Setelah menjalankan tugasnya, dengan kepala tetap menunduk ia menyingkir pergi. Sedikit pun ia tidak memandang wajah para tamunya.
Lin Pingzhi tertegun melihat perawakan Wan-er yang langsing tetapi berkulit gelap dan kasap. Muka gadis itu sangat jelek, penuh dengan burik bekas penyakit cacar. Mungkin karena baru saja melakukan pekerjaan sebagai penjual arak, gerak-geriknya terlihat masih kaku. Hal ini tidak terlalu dipedulikan oleh Lin Pingzhi.
Sementara itu, Pengawal Shi telah menyerahkan seekor ayam hutan dan seekor kelinci kepada Kakek Sa, dan berkata, “Tolong kau masak menjadi dua piring!”
“Baik, baik!” sahut Kakek Sa penuh hormat. “Sebagai teman minum arak, silakan Tuan-Tuan menikmati dulu sedikit daging rebus dan kacang goreng kedai kami.”
Tanpa menunggu perintah, si gadis burik bernama Wan-er segera membawakan potongan daging rebus dan kacang goreng tersebut untuk dihidangkan ke meja tamu-tamunya.
Pengawal Zheng berkata, “Tuan Muda Lin ini adalah putra majikan Biro Pengawalan Fuwei. Beliau seorang kesatria muda yang budiman dan murah hati. Asalkan kedua piring masakanmu nanti cocok dengan seleranya, maka semua modal yang telah kau keluarkan untuk membuka kedai ini pasti akan segera kembali.”
“Baik, baik! Terima kasih, terima kasih!” sahut Kakek Sa penuh hormat, kemudian pergi ke dapur membawa ayam hutan dan kelinci tadi.
Pengawal Zheng lantas menuangkan arak untuk Lin Pingzhi dan Pengawal Shi, serta untuk dirinya sendiri. Sekali teguk ia sudah menghabiskan isi cawannya. Sambil berkecap-kecap ia berkata, “Kedai ini sudah berganti pemilik, tapi rasa araknya tidak berubah.”
Usai berkata ia kembali mengisi cawannya dengan arak yang berwarna hijau seperti daun bambu itu. Baru saja hendak minum untuk yang kedua kalinya, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda di luar kedai. Tampak dua orang penunggang muncul dari arah utara. Mereka memacu kuda masing-masing dengan cepat dan dalam sekejap saja sudah sampai di depan kedai.
Terdengar salah seorang di antaranya berseru, “Hei, di sini ada kedai arak. Mari kita minum dulu barang secawan!”
Pengawal Shi dapat mengenali logat bicara orang-orang itu sepertinya berasal dari Provinsi Szechwan. Begitu menoleh ke luar ia melihat dua orang laki-laki memakai topi berpinggiran lebar – seperti caping – dengan baju berwarna ungu. Setelah mengikat kuda masing-masing mereka lantas masuk ke dalam kedai. Sekilas mereka memandang ke arah Lin Pingzhi dan yang lain, kemudian duduk dengan lagak seperti tuan besar.
Begitu caping dibuka, tampak kedua orang itu memakai ikat kepala berupa kain warna putih. Yang tampak aneh lagi adalah kaki mereka memakai sandal rami bertali, bukan sepatu seperti masyarakat pada umumnya. Pengawal Shi paham tradisi orang Szechwan kebanyakan memang berdandan seperti itu. Sejak kematian Perdana Menteri Zhuge Liang pada zaman tiga negara, orang-orang Szechwan merasa sangat kehilangan. Dengan memakai ikat kepala warna putih, mereka senantiasa menunjukkan sikap berkabung meskipun peristiwa itu sudah berlalu lebih dari seribu tahun.
Sementara itu, Lin Pingzhi yang tidak tahu menahu diam-diam merasa heran. Ia berpikir, “Dandanan kedua orang ini halus tidak, kasar juga tidak. Pakaian mereka rapi, tapi kaki mengenakan sandal seperti kaum rendahan. Benar-benar aneh.”
“Arak, bawakan kami arak!” seru salah seorang yang lebih muda. “Sialan! Pegunungan di wilayah Fujian ini benar-benar banyak. Sampai-sampai kuda pun kepayahan.”
Dengan muka menunduk, Wan-er si gadis burik mendekati kedua tamunya yang baru datang itu. Ia pun bertanya dengan suara lirih, “Minta arak apa?”
Walaupun suaranya sangat pelan tapi terdengar merdu. Lelaki muda tadi melongok. Tiba-tiba ia tertawa sambil menjulurkan tangan kanan menyentuh dagu Wan-er sehingga muka gadis itu mendongak ke atas. Tak lama kemudian terdengar suaranya berseru sambil tertawa, “Wah, sayang! Sungguh sayang!”
Wan-er terkejut dan segera melangkah mundur. Laki-laki yang satunya menyahut sambil tertawa, “Adik Yu, tubuh nona belang ini boleh juga. Sayang sekali mukanya kasap seperti kertas amplas.” Kedua orang Szechwan itu lantas tertawa lebih keras dan terbahak-bahak.
Melihat ulah mereka Lin Pingzhi naik darah. Ia menggebrak meja sambil berteriak, “Makhluk macam kalian ini? Dua bajingan buta berani kurang ajar di Kota Fuzhou kita!”
“Hei, Kakak Jia, ada orang sedang mencaci-maki. Menurutmu, anak kelinci itu sedang memaki siapa?” ujar pemuda bermarga Yu sambil mencibir.
Muka Lin Pingzhi memang putih dan cantik seperti ibunya. Biasanya kalau ada yang berani mengolok-olok, pasti orang itu akan langsung ditampar olehnya. Sekarang mendengar ada orang asing berani menyebutnya sebagai anak kelinci – yang maksudnya berkulit putih halus – sudah tentu ia sangat tersinggung. Tanpa pikir lagi, ia pun menyambar poci arak di atas meja dan melemparkannya ke arah orang Szechwan itu.
Namun, si marga Yu sempat berkelit sehingga poci yang terbuat dari timah itu terus saja melayang ke luar kedai. Arak pun berceceran di lantai. Serentak Pengawal Shi dan Pengawal Zheng bangkit dan melompat maju ke sisi kedua orang dari Szechwan tersebut.
Si marga Yu masih saja tertawa dan mengejek, “Andai saja bocah ini naik panggung dan menari mungkin lebih menarik. Kalau berkelahi jelas dia tidak pantas.”
“Apa kalian tidak tahu kalau Beliau ini adalah Tuan Muda Lin dari Biro Pengawalan Fuwei? Sungguh besar nyalimu berani menepuk lalat di atas kepala harimau!” bentak Pengawal Zheng. Seketika tangan kirinya pun melayangkan pukulan ke wajah si marga Yu.
Namun, hanya dalam sekali gerak tahu-tahu tangan Pengawal Zheng sudah terpegang oleh lawan, dan dengan sekali tarik, tubuhnya langsung terhuyung ke depan menabrak meja. Sekejap kemudian siku si marga Yu juga bekerja dengan cepat mengenai tengkuk Pengawal Zheng, sehingga pria itu jatuh ke tanah bersama meja kayu yang hancur berantakan.
Meskipun Pengawal Zheng bukan jago pilihan di antara para pegawai Biro Fuwei, namun ia juga bukan golongan lemah. Kini hanya dalam sekali gebrak saja ia sudah roboh, jelas menunjukkan pihak lawan bukan tokoh sembarangan. Demikian pikir Pengawal Shi yang kemudian bertanya, “Siapa sebenarnya Sahabat berdua ini? Sebagai sesama kaum persilatan, apakah kalian benar-benar tidak memandang kepada Biro Pengawalan Fuwei?”
“Biro Pengawalan Fuwei? Hehe, baru kali ini aku mendengarnya. Perusahaan macam apa pula itu?” sahut si marga Yu mengejek.
“Perusahaan khusus menghajar anjing macam kalian!” bentak Lin Pingzhi sambil melompat maju lalu tangan kirinya menghantam ke depan. Sampai di tengah jalan tangan kanannya memukul pula dari bawah. Gerakan ini dinamakan jurus Sinar Menerobos Mega, yang merupakan bagian dari ilmu Tapak Semesta milik keluarganya.
“Hei, anak manis ini boleh juga,” ejek si marga Yu sambil menangkis serangan itu, kemudian tangan kanannya maju pula untuk mencengkeram pundak lawan.
Dengan cepat Lin Pingzhi menuduk ke bawah, bersamaan tangan kirinya memukul ke depan. Si marga Yu mengelak dengan memiringkan sedikit kepala. Akan tetapi, gerakan tangan Lin Pingzhi cepat pula berubah dan kini memainkan jurus Bunga di Balik Kabut. Tanpa ampun, si marga Yu pun terkena tamparan pemuda itu satu kali.
Si marga Yu sangat gusar dibuatnya. Kakinya lantas menendang ke depan, namun Lin Pingzhi sempat mengelak ke samping sambil membalas dengan tendangan pula.
Sementara itu, Pengawal Shi juga sudah terlibat pertarungan melawan orang bermarga Jia. Tampak Pengiring Bai membangunkan Pengawal Zheng yang masih meringis kesakitan. Sambil mencaci-maki, Pengawal Zheng bangkit menerjang dengan maksud mengeroyok si marga Yu.
“Kau bantu Pengawal Shi saja!” seru Lin Pingzhi mencegah. “Aku sendiri bisa membereskan bajingan ini.”
Pengawal Zheng paham watak si tuan muda yang selalu ingin tampil sempurna dan enggan dibantu orang lain. Maka itu, ia pun mengambil sebatang kaki meja yang patah tadi untuk dipukulkan pada kepala si marga Jia.
Pada saat itu Pengiring Chen dan Pengiring Bai berlari ke luar menuju kuda-kuda mereka. Yang satu mengambil pedang Lin Pingzhi, sedangkan yang lain mengambil tombak pemburu. Keduanya lantas masuk kembali dengan mulut mencaci-maki. Kedua pegawai biro ini memang bukan petarung yang hebat. Akan tetapi dalam hal kekuatan mulut, mereka sudah biasa berteriak-teriak di sepanjang jalan saat mengawal barang dan rombongan. Maka itu, sudah sewajarnya kalau makian mereka terdengar sangat lantang. Apalagi yang mereka lontarkan adalah caci maki berlogat Fujian, sehingga kedua orang Szechwan itu sama sekali tidak mengerti maksudnya. Keduanya hanya yakin kalau yang mereka ucapkan tentu bukan kata-kata yang baik.
Lin Pingzhi semakin bersemangat dan memusatkan perhatiannya untuk melancarkan jurus-jurus Tapak Semesta terhadap si marga Yu. Biasanya ia berlatih melawan para pegawai biro, dan tidak seorang pun dari mereka yang mampu menandinginya. Hal ini tentu saja dapat dimaklumi. Pertama, karena ilmu pukulan ini memang hebat; dan kedua, para pegawai dengan sendirinya lebih suka mengalah daripada benar-benar bertarung melawan sang majikan muda. Oleh karena itu, meskipun pemahamannya terhadap jurus-jurus terdebut sangat mendalam, namun pertarungan yang sesungguhnya jarang sekali ia alami.
Sebelum ini Lin Pingzhi pernah bertarung melawan para penjahat jalanan di Kota Fuzhou. Tentu saja mereka bukan tandingan kehebatan Tapak Semesta milik Keluarga Lin. Dalam tiga jurus saja para berandalan itu sudah berlarian dengan wajah pucat dan babak belur.
Akan tetapi, kali ini yang menjadi lawannya adalah pemuda jago silat dari Szechwan. Setelah belasan jurus berlalu rasa congkak Lin Pingzhi mulai lenyap. Bahkan, orang bermarga Yu itu sambil bertempur masih sempat membuka mulut untuk mengolok-olok pula. “Nak, jangan-jangan kau ini seorang nona manis yang menyamar sebagai laki-laki? Mukamu putih dan cantik. Bagaimana kalau kita sudahi saja pertarungan ini dan beri aku satu ciuman? Setelah itu kita berteman dan bertamasya bersama!”
Lin Pingzhi semakin gusar. Ia lantas melirik ke arah Pengawal Shi dan Pengawal Zheng. Ternyata kedua pegawainya itu tidak lebih unggul pula dari lawan meskipun mereka bertarung bersama-sama. Bahkan hidung Pengawal Zheng sudah berwarna biru matang serta mengeluarkan darah akibat terkena pukulan si marga Jia. Tanpa pikir lagi, Lin Pingzhi mempercepat gerakannya dan berhasil menampar wajah lawan lebih keras dari sebelumnya.
“Dasar anak bulus!” bentak si marga Yu murka. “Sebenarnya aku hanya ingin bermain-main denganmu. Melihat wajahmu yang cantik, aku ingin memelukmu. Sebaliknya, kau malah menghajar kekasihmu ini. Baiklah, jangan salahkan aku jika terlalu kasar!” Usai berkata demikian, tiba-tiba pukulan si marga Yu berubah lebih gencar. Kepalan tangannya bekerja naik-turun dan menghantam Lin Pingzhi seperti angin badai.
Pertarungan kedua pemuda itu akhirnya berpindah ke luar kedai arak. Ketika si marga Yu memukul ke depan, tiba-tiba Lin Pingzhi teringat ajaran ayahnya mengenai teknik menangkis dan mendorong serangan lawan. Maka, ia pun memainkan teknik itu menggunakan tangan kiri. Akan tetapi, tenaga si marga Yu ternyata sungguh kuat, sehingga dorongan tersebut tidak mampu menghentikan serangannya. Sebaliknya, justru dada Lin Pingzhi yang terkena pukulan musuh. Dalam keadaan sempoyongan, tahu-tahu leher pemuda itu terkena cengkeraman tangan kiri lawan pula.
Sekuat tenaga si marga Yu mendesak Lin Pingzhi sampai membungkuk ke bawah. Menyusul kemudian tangan yang satunya ikut menekan tengkuk pemuda itu dengan cara melintang di atas tangan yang pertama tadi. Gerakan ini dinamakan jurus Palang Pintu Besi.
“Anak bulus, sekarang kau bisa menyembah dan memanggil paman kepadaku sebanyak tiga kali. Setelah itu, barulah kulepaskan dirimu,” ujarnya dengan tertawa.
Melihat itu, Pengawal Shi dan Pengawal Zheng berniat meninggalkan lawan yang sedang mereka hadapi untuk segera membantu Lin Pingzhi. Akan tetapi, orang bermarga Jia berusaha keras menghalangi dengan melancarkan berbagai serangan sehingga kedua pegawai biro itu sulit menyingkir.
Di sisi lain, Pengiring Bai lekas-lekas mengangkat tombaknya dan menusuk ke arah punggung si marga Yu sambil berteriak, “Kau lepas tanganmu atau tidak? Apa kau ingin mampus…”
Belum selesai ia berkata, tiba-tiba si marga Yu menyepak ke belakang – tanpa menoleh – menggunakan kaki kiri sehingga tombak yang dipegangnya terlempar sejauh beberapa meter. Tidak hanya itu, kaki kanan pemuda itu juga ikut mendepak sehingga Pengiring Bai jatuh terguling beberapa kali.
“Bangsat keparat! Terkutuklah nenek moyangmu tujuh belas keturunan!” sahut Pengiring Chen ikut mencaci-maki. Hanya saja ia tidak menerjang maju, melainkan mundur karena ketakutan.
“Anak manis, kau mau menyembah kepadaku atau tidak?” tanya si marga Yu sambil tertawa. Ia menambah tenaga pada kedua tangannya sehingga kepala Lin Pingzhi semakin tertunduk ke bawah. Makin lama wajah pemuda itu semakin rendah dan nyaris menyentuh tanah.
Lin Pingzhi yang terdesak mencoba mengayunkan kepalan untuk menghantam perut lawan, tetapi selalu kurang beberapa senti dan gagal mencapai sasaran. Sebaliknya, tengkuknya terasa sangat sakit seakan-akan hendak patah pula. Matanya berkunang-kunang dan telinga pun terasa mendenging.
Dalam keadaan terdesak, kedua tangan Lin Pingzhi menghantam dan mencakar sembarangan. Tiba-tiba tangannya menyentuh suatu benda keras yang terselip di dalam sepatu. Tanpa pikir lagi, benda itu pun disambar dan ditusukkannya ke depan sehingga menancap di perut orang bermarga Yu.
“Aaahh!” jerit si marga Yu kesakitan. Kedua tangannya melemah dan ia berjalan mundur dua-tiga langkah. Raut mukanya menampilkan perasaan takut dan ngeri. Ternyata sebilah pisau belati telah menancap di perutnya. Gagang belati itu berwarna keemasan dan tampak berkilauan terkena cahaya matahari di ufuk barat. Pemuda dari Szechwan itu membuka mulut lebar-lebar namun tidak mampu bersuara. Tangannya mencoba untuk mencabut belati itu, namun tidak berani menyentuh gagangnya.
Lin Pingzhi sendiri juga berdebar-debar ketakutan dan berjalan mundur beberapa langkah. Sementara itu, si marga Jia dan kedua pengawal biro juga menghentikan pertarungan. Mereka terperanjat melihat keadaan si marga Yu. Pemuda itu tampak mulai terhuyung-huyung. Akhirnya ia nekad memegang gagang belati dengan tangan kanan dan mencabutnya sekuat tenaga. Seketika darah segar pun menyembur keluar sampai dua-tiga meter jauhnya. Semua yang menyaksikan sampai menjerit kaget seolah tidak percaya dengan mata sendiri.
“Kakak Jia… Kakak jia… ka… katakan ke… kepada Ayah supaya membalaskan sakit hatiku,” serunya dengan suara terputus-putus sambil melemparkan pisau belati itu ke depan. Sekejap kemudian ia pun roboh di tanah. Tubuhnya menggelepar beberapa kali, kemudian berhenti untuk selamanya.
“Adik Yu, Adik Yu!” seru si marga Jia sambil berlari mendekati kawannya itu.
“Ambil senjata!” ujar Pengawal Shi dengan suara lirih kepada rekan-rekannya. Ia lantas mendahului berlari ke samping kudanya dan mengambil sebilah golok panjang. Sebagai seorang pengawal berpengalaman, ia yakin si marga Jia akan melabrak pihaknya habis-habisan.
Akan tetapi, orang bermarga Jia itu hanya menatap tajam ke arah Lin Pingzhi beberapa detik. Dengan cepat ia memungut pisau belati di atas tanah tadi, kemudian melompat mendekati kudanya. Sekali hentak, tahu-tahu ia sudah berada di atas pelana. Tanpa membuang banyak waktu, ia memotong tali kendali yang tertambat di pohon dan memacu kudanya secepat angin menuju utara.
Pengiring Chen mendekati mayat si marga Yu dan menendangnya satu kali sehingga terbalik ke atas. Darah segar tampak masih mengucur keluar. “Dasar bajingan! Kau memang sudah bosan hidup sehingga berani mengusik Tuan Muda kami.”
Akan tetapi Lin Pingzhi sendiri belum pernah membunuh orang sebelumnya. Dengan nada gemetar pemuda itu berkata, “Pengawal Shi… Pengawal Shi… bagai… bagaimana ini? Aku tidak pernah… aku tidak bermaksud membunuhnya.”
Pengawal Shi tampak sedang merenung. Ia berpikir, “Biro Pengawalan Fuwei sudah berdiri selama tiga generasi. Pertempuran yang berakhir dengan kematian sudah sering kami hadapi. Namun biasanya yang kami bunuh adalah para penjahat atau kaum persilatan golongan hitam, dan itu pun terjadi di pegunungan sepi atau hutan yang sunyi. Selanjutnya, mayat-mayat mereka kami kubur begitu saja dan habis perkara. Namun kali ini yang menjadi korban bukan seorang penjahat, juga terjadi di dekat permukiman penduduk. Pembunuhan bukan masalah remeh. Bahkan putra seorang pejabat atau walikota pun tidak bisa dengan mudah lolos dari jerat hukum, apalagi hanya putra seorang pengusaha biro pengawalan.”
Berpikir demikian, Pengawal Shi mengerutkan dahi lalu berkata, “Pindahkan mayat itu ke dalam kedai. Di sini dekat jalan raya. Kita tidak ingin kalau sampai ada orang yang melihatnya.”
Untungnya waktu itu matahari sudah terbenam, serta jalanan juga sunyi sepi. Dengan cepat Pengiring Bai dan Pengiring Chen menggotong mayat si marga Yu masuk ke dalam kedai.
“Apakah Tuan Muda membawa uang?” bisik Pengawal Shi kepada Lin Pingzhi.
“Ada. Aku punya,” jawab Lin Pingzhi dengan cepat sambil mengeluarkan seluruh isi kantongnya yang berjumlah dua puluh tael perak.
Pengawal Shi menerima uang itu lantas masuk ke dalam kedai. Diletakkannya semua uang itu di atas meja lalu berkata kepada si pemilik, “Kakek Sa, orang asing ini telah menggoda cucu perempuanmu. Demi membela kebenaran, tuan muda kami terpaksa membunuhnya. Kita semua menjadi saksi. Urusan ini muncul karena kalian. Kalau sampai beritanya meluas, tentu kalian pun tidak akan lepas dari masalah. Ambil semua uang ini dan lupakan yang telah terjadi. Marilah kita kubur mayat ini, dan anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa.”
“Ya, ya, ya!” sahut Kakek Sa sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Pengawal Zheng ikut berbicara, “Membunuh beberapa penjahat bagi kami hanyalah urusan kecil. Kedua tikus Szechwan ini bermata jelalatan dan sangat mencurigakan. Kalau bukan kaum perampok, tentu mereka adalah penjahat yang biasa menodai perempuan. Kedatangan mereka ke Kota Fuzhou ini sudah pasti untuk melakukan kejahatan. Tuan muda kami mengetahui penyamaran mereka dan segera bertindak tegas. Jasa tuan muda kami sebenarnya cukup besar, namun Beliau tidak suka menonjolkan diri. Lebih baik persoalan ini dianggap selesai saja. Oleh karena itu, hendaknya kalian tutup mulut rapat-rapat. Kalau urusan ini sampai bocor, tentu kalian akan celaka sendiri. Sudah pasti masyarakat akan menganggap kalian sebagai komplotan mereka, mengingat logat bicara kalian terdengar asing. Kalian akan dituduh membuka kedai arak hanya sebagai penyamaran, dan sebenarnya kalian adalah mata-mata mereka. Bagaimana tidak? Kalian baru saja membuka kedai arak, tiba-tiba saja muncul dua penjahat dari luar daerah. Bukankah ini sangat kebetulan?”
“Kami tidak akan bicara apa-apa. Kami tidak mengetahui apa-apa,” ujar Kakek Sa dengan terburu-buru.
Pengawal Shi telah memimpin Pengiring Bai dan Pengiring Chen mengubur jenazah si marga Yu di kebun sayur belakang kedai arak. Kemudian mereka juga membersihkan ceceran darah di depan kedai tadi.
Pengawal Zheng kembali berkata kepada Kakek Sa, “Jika dalam sepuluh hari tidak terjadi apa-apa, maka kami akan mengirim lima puluh tael perak lagi kepadamu. Tapi awas kalau kalian sembarangan mengoceh di sana-sini. Biro Fuwei sudah banyak membinasakan kawanan penjahat. Kalau ditambah dengan kalian berdua, paling-paling hanya kebun sayurmu itu saja yang bertambah isinya dengan dua mayat.”
“Kami tidak berani! Kami tidak berani! Terima kasih banyak! Terima kasih banyak!” sahut Kakek Sa gugup.
Hari telah gelap ketika semua urusan di kedai itu dirasa beres. Perasaan Lin Pingzhi sudah agak tenang meskipun jantungnya masih berdebar-debar. Sepanjang perjalanan pulang ia terus-menerus berpikir, apakah peristiwa pembunuhan tersebut harus dilaporkan kepada ayahnya atau tidak.
Sesampainya di rumah, Lin Pingzhi langsung berjalan memasuki ruang depan. Dilihatnya sang ayah sedang duduk di kursi malas sambil memejamkan mata. Sepertinya pemilik Biro Pengawalan Fuwei yang bernama Lin Zhennan itu sedang memikirkan sesuatu.
“Ayah,” dengan sikap agak kaku Lin Pingzhi menyapa.
Lin Zhennan membuka mata dan menjawab sambil tersenyum ramah, “Baru pulang dari berburu? Mendapat babi hutan atau tidak?”
“Tidak,” jawab Lin Pingzhi gugup.
Tiba-tiba Lin Zhennan mengangkat sebatang pipa cangklong dan memukulkannya ke pundak Lin Pingzhi sambil membentak, “Terima ini!”
Lin Pingzhi hafal kebiasaan ayahnya yang suka menyerang tiba-tiba untuk mengetahui sampai di mana perkembangan ilmu silat pemuda itu. Biasanya, apabila sang ayah menyerang dengan jurus kedua puluh enam dari Ilmu Pedang Penakluk Iblis yang bernama Bintang Jatuh Melayang, tentu secara spontan Lin Pingzhi langsung menangkisnya dengan gerakan keempat puluh enam yang bernama Bunga Mekar Menghadap Buddha. Namun hari ini perasaannya sedang gelisah. Ia mengira peristiwa di kedai arak tadi telah terbongkar sehingga sang ayah berniat menghukumnya. Maka itu, ia tidak berani berkelit dan hanya berseru, “Ayah!”
“Hei, ada apa ini?” tegur Lin Zhennan sambil menahan pipa cangklongnya yang sudah berjarak beberapa senti di atas pundak Lin Pingzhi. “Kalau bertemu musuh tangguh tentu sebelah bahumu ini sudah terpenggal begitu saja.” Meskipun ucapannya bernada membentak, namun bibirnya tetap tersenyum.
“Baik,” sahut Lin Pingzhi sambil kemudian menunduk ke bawah. Dengan cepat ia memutar ke belakang Lin Zhennan dan menyambar kemoceng yang terletak di atas meja teh untuk ditusukkan ke punggung ayahnya itu. Gerakan inilah yang disebut jurus Bunga Mekar Menghadap Buddha.
“Harusnya tadi seperti ini!” seru Lin Zhennan sambil mengangguk. Pipa cangklongnya lantas menangkis, dan kemudian balas menyerang menggunakan jurus Meniup Seruling di Tengah Sungai. Dengan penuh semangat Lin Pingzhi mematahkan serangan ayahnya menggunakan jurus Pelangi Melintas dari Timur.
Ayah dan anak itu bertarung hingga lebih dari lima puluh jurus, sampai akhirnya pipa cangklong Lin Zhennan dengan cepat menotok dada kiri Lin Pingzhi satu kali. Karena tidak sempat menangkis, seketika Lin Pingzhi merasa lengan kanannya kaku kesemutan sehingga kemoceng yang dipegangnya pun jatuh di atas lantai.
“Bagus, bagus sekali! Selama sebulan ini kau sudah mendapat banyak kemajuan. Hari ini kau dapat bertahan empat jurus lebih banyak daripada kemarin!” kata Lin Zhennan dengan tersenyum sambil duduk kembali. Setelah mengisi tembakau ke dalam pipa, ia menyambung, “Ping-er, coba tebak! Hari ini kita baru saja mendapatkan berita bagus.”
Tanpa disuruh, Lin Pingzhi langsung mengambil pemantik api untuk menyalakan tembakau di pipa ayahnya sambil bertanya, “Apakah Ayah telah menerima order barang kawalan dalam jumlah besar?”
Lin Zhennan menggeleng dan berkata, “Selama pelayanan kita bagus, order kawalan pasti akan datang dengan sendirinya. Kau tidak perlu khawatir perusahaan kita sepi rejeki. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana menambah kekuatan agar dapat melaksanakan tugas pengawalan dengan lebih baik.”
Setelah menghembuskan asap tembakaunya, Lin Zhennan kembali berkata, “Berita bagus yang ini disampaikan oleh Pengawal Zhang dari Hunan, bahwa Pendeta Yu pemimpin Kuil Cemara Angin telah menerima barang-barang hadiah dari kita. Beliau adalah ketua Perguruan Qingcheng yang terletak di Szechwan Barat.”
Mendengar nama “Pendeta Yu di Szechwan Barat”, jantung Lin Pingzhi langsung berdebar kencang. Spontan ia menegas, “Barang-barang hadiah dari kita telah diterima Pendeta Yu?”
“Benar!” sahut Lin Zhennan. “Beberapa urusan perusahaan memang ada yang tidak Ayah bicarakan denganmu sehingga wajar kalau kau pun kurang begitu mengetahuinya. Namun, Ayah merasa kau ini sudah mulai dewasa, sehingga cepat atau lambat beban yang Ayah pikul selama ini harus dipindahkan ke atas bahumu. Maka, mulai sekarang kau harus lebih banyak memperhatikan dan mempelajari pekerjaan-pekerjaan dalam perusahaan kita.”
Setelah diam sejenak, ia melanjutkan, “Nak, keluarga kita sudah tiga generasi melakukan pekerjaan mengawal barang. Biro kita telah menjadi perusahaan pengawalan terbesar dan terkuat di sepanjang daerah selatan Sungai Yangtze. Dari mana datangnya kemajuan-kemajuan yang kita peroleh selama ini? Pertama, karena nama besar kakek buyutmu; kedua, karena ilmu silat yang diturunkan leluhur kita juga cukup disegani pihak kawan maupun lawan, misalnya Jurus Pedang Penakluk Iblis ataupun Tapak Semesta. Akan tetapi, dunia usaha tidaklah sederhana itu. Nama besar hanya berperan dua puluh persen saja, sedangkan kepandaian ilmu silat berperan dua puluh persen pula. Sisanya yang enam puluh persen ditentukan oleh kemampuan kita menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak, baik itu dari golongan putih maupun golongan hitam.”
Lin Zhennan menghisap pipa cangklongnya dan menghembuskan banyak asap, kemudian melanjutkan, “Coba pikir, kereta perusahaan kita sudah menjelajahi sepuluh provinsi. Jika dalam setiap perjalanan harus bertempur melawan orang lain, dari mana kita mendapatkan cadangan nyawa untuk bertahan hidup? Padahal, meskipun bisa menang tetap saja jatuh korban di pihak kita. Untuk mengganti kerugian serta uang pensiun para pegawai kita yang gugur diperlukan biaya tidak sedikit. Tidak jarang kita harus menambal dengan menggunakan kas perusahaan karena honor pengawalan yang kita terima tidak mencukupi. Maka itu, kita yang hidup dari usaha pengawalan ini harus mengutamakan persahabatan. Tangan juga harus selalu terbuka. Menjalin hubungan baik jauh lebih penting daripada main senjata dan mengandalkan kepandaian belaka.”
“Ya, Ayah,” jawab Lin Pingzhi. Biasanya, ia selalu mendengarkan penuturan sang ayah dengan penuh semangat, mengingat Biro Pengawalan Fuwei lambat laun akan diwarisi olehnya. Namun kali ini hatinya sedang gelisah memikirkan “pendeta bermarga Yu dari Szechwan Barat” sehingga ucapan ayahnya itu sama sekali tidak menimbulkan hasratnya untuk balik bertanya.
Beberapa kali Lin Zhennan mengetuk pipa cangklongnya di atas lantai untuk mengeluarkan abu tembakau. Sejenak kemudian ia kembali berkata, “Ilmu silat Ayah tidak sehebat kakekmu, apalagi dibandingkan kakek buyutmu. Akan tetapi, keterampilan ayahmu ini dalam mengelola perusahaan lebih baik daripada Beliau berdua. Kakek buyutmu mendirikan perusahaan ini dan membuka empat kantor di Fujian, Kanton, Zhejiang, dan Jiangsu. Selama kepemimpinan Ayah, telah dibuka enam cabang baru di Shandong, Hunan, Hebei, Hubei, Jiangxi, dan Guangxi. Apa kau tahu rahasia kesuksesan Ayah? Tentu saja ‘menciptakan banyak sahabat dan sedikit musuh’. Ingat ini dengan baik. Perusahaan kita bernama ‘Fuwei’, yang mengandung makna: ‘rejeki dan wibawa’. Rejeki lebih utama daripada wibawa. Rejeki bisa datang kalau kita memiliki banyak teman dan sedikit musuh. Sebaliknya, kalau perusahaan kita bernama ‘Weifu’, itu berarti kita lebih mengutamakan wibawa daripada rejeki. Wibawa bisa ditegakkan dengan bermain kasar dan mengandalkan kekuatan. Tentu saja ini bukan sifat keluarga kita, hahaha.”
Lin Pingzhi ikut tertawa, meskipun tidak mengandung rasa gembira yang sebenarnya.
Ternyata Lin Zhennan belum juga menyadari kegelisahan putranya itu. Ia masih saja bercerita, “Pepatah mengatakan: ‘Kuasai Szechwan setelah menaklukkan Gansu’. Namun, perusahaan kita mengatakan: ‘Kuasai Szechwan setelah menaklukkan Hubei’. Perusahaan pengawalan kita pertama kali berdiri di Fujian sini, kemudian merambah ke barat melalui Jiangxi dan Hunan, sampai akhirnya berhenti di Hubei. Lantas, mengapa kita tidak meneruskannya hingga ke Szechwan? Szechwan adalah provinsi yang paling subur dan makmur. Orang-orang menyebut Szechwan sebagai surga dunia. Banyak penduduk kaya raya hidup di sana. Dari daerah itu kita bisa merambah lagi ke utara hingga mencapai Shanxi, serta ke selatan mencapai Yunnan dan Guizhou. Dengan demikian perusahaan kita paling tidak akan bertambah besar tiga kali lipat dari sekarang. Hanya saja, daerah Szechwan terkenal sebagai kandang harimau mendekam dan naga bersembunyi. Banyak orang sakti tinggal di daerah itu. Maka, kita harus menjalin hubungan baik dengan dua perguruan silat ternama di sana, yaitu Perguruan Qingcheng dan Emei.”
Lin Zhennan terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Sudah tiga tahun ini, setiap tahun baru Ayah selalu mengutus orang secara khusus untuk mengantarkan hadiah-hadiah berharga ke Kuil Cemara Angin di Gunung Qingcheng dan Kuil Puncak Emas di Gunung Emei. Pendeta Jinguang ketua Perguruan Emei menerima utusan kita dengan ramah, dan menjamu makan pula. Akan tetapi, semua hadiah yang kita berikan dikembalikannya semua tanpa membuka segel sedikit pun. Sebaliknya, Pendeta Yu ketua Perguruan Qingcheng lebih tertutup sifatnya. Murid-muridnya selalu menghadang utusan kita di lereng gunung, dan mengatakan bahwa guru mereka sedang bermeditasi tingkat tinggi sehingga tidak bisa menerima tamu. Mereka mengaku telah memiliki segala macam barang di dalam kuil sehingga tidak perlu menerima hadiah dari luar. Jangankan untuk menemui Pendeta Yu, utusan kita bahkan tidak mengetahui ke arah mana pintu Kuil Cemara Angin menghadap. Sesampainya di sini para utusan yang kita kirim selalu mengeluh. Kalau saja tidak teringat pada pesan Ayah yang melarang mereka mengumbar kemarahan, mungkin mereka sudah berkelahi dengan orang-orang yang tidak tahu diri itu.”
Sampai di sini Lin Zhennan lantas bangkit dari tempat duduknya. Dengan nada gembira ia melanjutkan, “Apa kau tahu? Setelah sekian lama akhirnya Pendeta Yu bersedia menerima hadiah yang kita kirim. Bahkan, ia telah mengutus empat orang muridnya untuk membalas kunjungan ke Fujian sini…”
“Empat orang murid? Bukannya dua saja?” mendadak Lin Pingzhi menyela.
“Benar! Empat orang murid!” sahut Lin Zhennan. “Coba pikir, Pendeta Yu rupanya memandang penting urusan ini. Bukankah ini suatu penghargaan untuk Biro Fuwei kita? Maka itu, Ayah pun mengirim pesan kepada cabang-cabang kita di Jiangxi, Hunan, dan Hubei agar memberi sambutan sebaik-baiknya kepada empat tamu agung tersebut di sepanjang jalan.”
“Ayah, apakah orang Szechwan kalau bicara suka menyebut orang lain sebagai ‘anak bulus’ atau ‘anak kelinci’ segala?” tanya Lin Pingzhi tiba-tiba.
“Ah, itu hanya ucapan kaum kasar,” jawab Lin Zhennan dengan tertawa. “Orang kasar ada di mana-mana dan ucapan mereka sudah tentu kasar pula. Coba lihat para pegawai kita, baik itu pengawal ataupun pengiring kereta. Pada saat berjudi dan minum arak mereka juga suka mengumpat dan memaki. Bahkan jauh lebih kasar dan kotor daripada ucapan orang Szechwan yang kau maksudkan itu. Memangnya ada masalah apa kau menanyakan hal ini?”
“Tidak ada,” sahut Lin Pingzhi gugup.
Lin Zhennan kembali berpesan, “Nanti kalau keempat murid Qingcheng itu datang, kau harus bersikap akrab dengan mereka. Perhatikan dan pelajarilah gaya-gaya murid dari perguruan ternama. Menjalin persahabatan dengan mereka tentu akan sangat bermanfaat bagimu di kemudian hari”
Lin Pingzhi larut dalam pikirannya sementara sang ayah sibuk bercerita panjang lebar. Pemuda itu merasa semakin gelisah selama peristiwa pembunuhan di kedai arak tadi belum ia sampaikan kepada sang ayah. Ia berpikir mungkin lebih baik bercerita kepada ibunya terlebih dulu saja.
Setelah makan malam, Lin Pingzhi dan kedua orang tuanya berkumpul di ruang tengah untuk bercakap-cakap. Lin Zhennan membahas pada bulan enam yang akan datang saudara dari istrinya akan berulang tahun. Istrinya itu – atau ibu Lin Pingzhi – berasal dari Keluarga Golok Emas Wang yang sangat terkenal di Kota Luoyang. Dalam hal ini Lin Zhennan merasa bingung hendak memberikan hadiah ulang tahun macam apa kepada saudara iparnya tersebut.
Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar. Menyusul kemudian beberapa orang pegawai masuk ke dalam ruangan.
“Ada apa ini?” sahut Lin Zhennan bertanya.
Tiga orang pegawai tampak menggigil ketakutan. Salah seorang yang paling depan berkata gugup, “Ketua... Ketua....”
“Ada masalah apa? Lekas katakan!” seru Lin Zhennan dengan perasaan mulai kesal.
“Pengiring Bai… Pengiring Bai telah tewas,” sahut seorang pegawai yang tidak lain adalah Pengiring Chen.
Lin Zhennan terkejut dan segera bertanya, “Siapa yang membunuh dia? Pasti kalian berjudi dan berkelahi, bukan?” Dalam hati ia sangat gusar. Sungguh berat baginya mengelola perusahaan yang memiliki banyak orang kasar di dalamnya. Sering sekali mereka berkelahi tanpa alasan yang jelas. Apalagi kalau perkelahian itu berakhir dengan kematian dan terjadi di kota besar, sudah pasti akan mengundang banyak masalah.
“Bukan, Ketua! Bukan seperti itu!” sahut Pengiring Chen. “Tadi sewaktu hendak membuang hajat, Xiao Li melihat Pengiring Bai sudah tergeletak di kebun sayur di samping kakus. Mayatnya sudah kaku, namun tidak terdapat luka sama sekali. Tidak seorang pun yang tahu bagaimana ia meninggal. Mungkin saja… mungkin saja ia terkena penyakit maut sehingga mati mendadak.”
Lin Zhennan menghela napas panjang dan berusaha menenangkan diri. “Coba kulihat ke sana,” ujarnya sambil kemudian melangkah pergi. Lin Pingzhi mengikuti di belakang sang ayah yang bergegas menuju kebun sayur tersebut.
Sesampainya di tengah kebun, tampak beberapa orang pengawal dan pengiring berkerumun di sana. Begitu sang pemimpin perusahaan datang, mereka langsung bergeser memberi jalan. Lin Zhennan melihat pakaian Pengiring Bai sudah terbuka tapi di tubuhnya tidak terdapat noda darah sedikit pun. Segera ia bertanya kepada Pengawal Zhu yang berdiri di sebelahnya, “Apa benar tidak ada luka di tubuhnya?”
“Sudah saya periksa dengan teliti, sekujur tubuhnya ternyata tidak terluka sedikit pun. Tampaknya juga bukan mati karena keracunan,” jawab Pengawal Zhu.
Lin Zhennan mengangguk dan melihat wajah Pengiring Bai memang biasa saja. Sedikit pun tidak ada tanda kebiru-biruan sebagaimana orang keracunan pada umumnya. Hanya saja pegawainya itu tampak mati dengan bibir tersenyum.
(Bersambung)
Halaman muka ; Bagian 2